Kamis, 28 Januari 2010

La Tahzan for Twins mother

Membaca buku La Tahzan for Mothers (Asma Nadia, dkk) mau tak mau mengingatkan aku pada setahun yang lalu.
Kehamilan tiba2 membuatku sulit sekali bersyukur. Terlalu cepat, pikirku. Aku hamil, suamiku masih kuliah, aku baru saja resign, bagaimana aku bisa membiayai kehamilan ini? itu saja yang terus berulang2 bergema di kepalaku. Ketidaksiapan membuatku lupa pada apa yang seharusnya kulakukan, bersyukur. Trimester pertama rasanya berat sekali. Keringat dingin, mual, muntah, lemas, migrain menjadi teman sehari2. Terlebih suami tak bisa menemani karena sibuk mengerjakan skripsi.
Trimester kedua, aku pulang ke rumah ibuku, mencari keheningan dan udara segar. Aku mulai menata hati dan menerima dengan ikhlas that i'm gonna be a mother in 6 months. Pastinya Allah sudah menyiapkan rencana yang indah dibalik semua ketersiksaanku ini.
Usia kehamilan 6 bulan, perutku rasanya besar sekali. Dan ternyata apa yang kurasa berbanding lurus dengan apa yang orang lihat. Sampai pada suatu ketika, ibuku pulang berbelanja. Ia bilang, orang2 mulai menggunjingkan aku.
"6 bulan kok perutnya udah kayak 9 bulan, kayaknya sih gitu..." sambil tertawa sinis. Oh, i see. Mereka mengira aku MBA, married by accident. Lalu ibuku bilang, mereka mulai 'berhitung', nampak sekilas ada kekhawatiran di wajahnya.
"mom, nggak usah khawatir...aku kan nikah bukan karena hamil duluan. biarin mereka ngitung sampai pening, kalo aku MBA, masak nikah udah 10 bulan tapi bayinya belum keluar juga? mereka begitu kan cuma karena ingin cari teman, menutupi rasa malu karena ternyata anaknya lah yang seperti itu". Berhasil, ibuku mulai tak perduli apa kata orang.
Usia kehamilan 7 bulan 3 minggu, aku memeriksakan diri ke bidan di Bandung, aku memang berencana lahiran disana. Tak seperti yang sudah2, bidan senior ini memeriksaku lamaaaaaa sekali, berulang2, hingga aku dan suami dijalari rasa takut kenapa2. Setelah pemeriksaan selesai, beliau berkata..."ibu ada keturunan kembar?" aku pun mengangguk lemas.
Seminggu kemudian aku melahirkan bayi kembar lelaki dan perempuan, Alhamdulillah. Bersyukur sekali bayi kembarku tak mesti bermalam di inkubator kendati beratnya tak lebih dari 2 kg. Lalu dimulailah episode menjadi ibu. Untuk sementara sampai imunisasi pertama, aku tinggal di rumah tante dari suamiku, sementara ibuku menyiapkan rumah untuk kedatangan si kembar. Dengan pengetahuan minim, aku mulai mengurus bayi2 mungil yang hanya sebesar botol kecap itu. Peluh tak pernah pergi dari dahiku. Panik dengan suara tangis keduanya yang tak nyaman karena popoknya basah. Sendiri menangani 2 premature babies sekaligus membuatku snewen dan mengalami baby blues syndrome. Melihat mereka yang begitu kecil, kuning dan berbintik merah. Tidur ditemani sorot pijar 60 watt demi rasa hangat. Masing2 mendapat jatah 4 botol obat dan suplemen. Aku menangis saat mereka tak mau menyusu padaku, saat mereka minta ganti popok bersamaan, saat mereka memuntahkan kembali obat yang kuberi. Tuhan, bagaimana mereka bisa bertahan hidup, jeritku.
Hari demi hari kulalui dengan tawa dan air mata. Sampi pada usia lewat 1 bulan, kaka, jagoanku menangis jerit2 setiap kali pipis. Udel dan testis kirinya membesar. Tanpa tunggu lama, aku membawanya ke rumah sakit tempat ia dilahirkan. Setelah berkonsultasi dengan perawat IGD kenalanku, ternyata ada pelengketan di penisnya yang membuat ia menjerit2 kesakitan saat pipis dan menyebabkan hernia pada scrotum dan umbilical-nya. Mereka menyarankan untuk sesegera mungkin dilakukan circumsisi. DISUNAT. Masya Allah. Lakukan apapun asal bayiku sembuh. Aku memegangi tanggan mungilnya saat mereka memotong ujung penis anakku, membersihkan pelengketan lalu menjahitnya. Allah memberiku kekuatan untuk menemani anakku melewati prosesi sunatannya. Masa recovery, jangan tanya, itu penuh air mata, melihat luka basahnya, belum lagi memikirkan hernianya yang baru bisa di operasi setelah beratnya mencapai 8 kg. Mudah2an saja bisa sembuh sendiri, tak sampai harus operasi.
Lalu dua bulan kemudian, saat ayahnya datang dengan arna merah di matanya, aku panik. Benar saja, kami seisi rumah ikut2an sakit mata. Dalam keadaan perih-kesat-pening seperti itu aku juga harus merawat bayi2ku yang juga merasakan apa yang kurasa. Ku titipkan kaka pada ibuku, lalu kugendong puteri kecilku, kunyamankan ia dalam dekapanku, mencoba menyampaikan penenang berupa kalimat "sabar ya nak, bunda ada disini" dan apa yang kudapat? ia menatapku dengan mata sipit-merah-belekan itu lalu tersenyum, manis sekali seolah berkata "jangan sedih bunda, keukeu nggak apa2 kok"...