Rabu, 17 Februari 2010

Cintamorfosa part 3. Princess of The Darkness

Wisuda. Beruntung sekali aku masuk dalam kepanitiaan, aku bisa melihatmu mungkin untuk terakhir kali sebagai mahasiswa. Kamu dengan toga adalah best view hari itu. Nampak gagah sekali, walau ada sedikit garis yang tak biasa di wajahmu. Hatiku tak tenang. Apa kamu sedang menghadapi masalah besar pangeran? sorot mata itu tak lagi teduh mendamaikan, terlihat gelisah dan sesekali menatap kosong. Are you okay? ingin sekali aku ada disana, aku tak keberatan jika kau pinjam bahuku seharian untuk sekedar menyandarkan penat. Apapun, asal kau kembali bersinar.
Malam inaugurasi, lagi-lagi aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Punggungmu saja sudah cukup. Aku ingat alm. ayah sering bilang "barang siapa yang bersyukur, maka Allah aka menambahnya". Tentu saja aku mengimani hal ini setengah mati dan untuk kesekian kalinya ini terbukti. Aku kehilangan sosokmu, entah dimana. Mungkin pertemuan terakhir dengan teman-teman ataukah memanjakan bidadari hatimu? aku tak tahu. Kuhela nafasku dengan berat, sangat berat.
"Princess...capek? aku pijitin ya..." aku tak berani menoleh ke belakang. Aku tahu itu kamu. Tak pernah seorang pun memanggilku dengan sebutan itu, semerdu itu. Princess. Kamu tidak pernah memanggilku Azalea Puteri. Tidak 'Zee' seperti keluarga dan temen-teman kebanyakan, tidak 'Put' seperti para dosen, tidak juga 'Teri' seperti sahabat-sahabatku saat bergila-ria bersama. Princess menurutmu lebih memunculkan sisi feminin dibalik celana jeans dan blouse hitam yang selalu ku kenakan. Princess of the darkness.

Aku ingin menikmati momen itu lebih lama lagi, tapi aku takut kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati wajahmu dari dekat.
"Selamat ya, lulus kuliah bisa langsung kerja..." kamu pun nampak sangat kebingungan waktu itu.
"Kerja? maksud kamu? aku malah masih bingung abis ini mau ngapain, ngelamar kemana dan minta gaji berapa?" aku suka, wajah kamu mirip anak kecil kalau sedang bingung.
"Masa? nih, aku sampai merem melek kamu pijitin. Kalau buka praktek, tukang pijat amatir biasanya pasang tarif dua puluh sampai tiga puluh ribuan durasi dua jam, lumayan kan buat beli kuwaci..." kamu pun tergelak, begitu lepasnya sampai beberapa pasang mata menoleh penasaran ke arah kita.
"Kamu tuh ya, selaluuu aja bikin aku ketawa kayak gini"
"Ih, aku seriuuuus!"
"Iya sayang..." DEG!!! sayang. Kamu bilang SAYANG?! untuk beberapa saat waktu rasanya berhenti berputar. Aku terdiam tak mampu berkata-kata, begitu pula dengan kamu. Sekilas terlihat kamu menggigit bibir, entah itu untuk kejujuran yang tak sengaja terungkap, sebuah kekeliruan yang patut disesali atau sekedar hal biasa namun salah objek? aku tak berani menyimpulkan. Bahkan sampai beberapa hari yang lalu aku tak pernah tahu apa artinya. Kamu tak pernah menjelaskannya, atau lebih tepat dikatakan tak sempat, karena saat mulutmu sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, Kiera datang dengan senyum 'dia-milikku'-nya dan membawamu pergi menjauh dari aku, dari hidupku, untuk waktu yang sangat lama.

Tiba-tiba saja seseorang memegang pundakku. "Princess...capek? aku pijitin ya..." Moses menirukan kata-katamu dengan nada amat sinis dan mengejek. Rautnya menunjukkan kekesalan yang sengaja tidak ia sembunyikan, seolah ingin dunia tahu apa yang ia rasakan.
"Kamu..."
"Iya, aku disini sedari tadi. Kamu sadar nggak sih? aku panik nyariin kamu kemana-mana, tapi apa yang aku dapat? kamu malah enak-enakan dipijitin sambil ketawa-ketawa. Zee...dia itu milik Kiera, dia lebih MEMILIH cewek barbie anak konglomerat itu daripada kamu. Dia cuma cowok matre...dia nggak pantes dapetin cinta kamu! Jangan kamu rendahin diri kamu seolah-olah kamu ini nggak laku sampai harus mengemis pada kekasih orang apalagi orangnya itu dia!"
Aku shock. Tak pernah menyangka Moses akan mengeluarkan kata-kata sepedas itu. Dia bukan saja secara tidak langsung merendahkan aku, tapi dia juga menghina kamu, aku tak bisa terima itu. Lagi pula untuk apa dia repot mencariku? bukankah dia yang sejak awal asyik dengan gadis-paras-timur tengah-nya itu? lalu kenapa aku tak boleh sejenak dengan kamu padahal kita hanya sekedar ngobrol? Ada yang bergejolak di hatiku. Kesal, marah, tak terima dan sejuta kenapa yang ingin ku muntahkan.
"Namanya Jibril. Dan dia bukan cowok matre..." ucapku dengan rahang yang terasa mengeras.
"Whatever! aku antar kamu pulang sekarang." seluruh tubuhku memanas, aku ingin teriak, aku ingin berontak, aku belum sekesai bicara, tapi yang terjadi aku hanya diam membeku. Dia menyeretku masuk ke mobilnya dengan kasar, menyetir seperti orang kesetan. Aku mati-matian menahan tangis dan kesal sepanjang jalan Lalu tiba-tiba saja dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan
"Tadi aku berantem lagi sama Nawa, cuma gara-gara dia buka handphone aku dan banyak sms kamu di inbox-ku. Dia nggak suka aku dekat dengan kamu, dengan perempuan manapun selain dia. Dia nampar aku Zee...selalu begitu, mempermalukan aku di depan umum. Dia banting handphoneku, terus pergi gitu aja. Aku butuh kamu, cuma kamu yang bisa nenangin aku. Aku cari kamu kemana-mana, kamu alah lagi asyik bercanda dngan cowok matre itu, aku bete tau..."

WHAT?! aku semakin tak percaya. Bisa-bisanya dia bicara semanja itu setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku ini apa? propertinya yang selalu ada saat dia butuh? atau sekedar extacy untuk melarikan diri dari permasalahan dan melepaskan penat?! Aku keluar dari mobilnya dengan kekecewaan yang amat sangat, menyetop taxi yang lewat, lalu pulang. Kumatikan ponsel. Aku yakin dia pasti panik lalu menghujaniku dengan puluhan missed call dan sms, tapi ku tak peduli, aku hanya ingin sendiri.

Cintamorfosa part 2. Kunci Hati

Ada anak baru di himpunan. Moses namanya. Awalnya aku pikir dia pendiam, tapi setelah kenal, dia lumayan asyik juga. Dia banyak bercerita. Tentang Musik, film, komputer, kartun, bahkan tentang irama hujan yang paling disukainya. Banyak persamaan diantara aku dan dia yang mau tak mau membuat kami dekat. Entah kenapa aku mulai merasa dia mendekati aku. Dari pembicaraannya aku merasa dia mulai mencari-cari kunci untuk membuka pintu hatiku yang selalu kututup rapat. Bukannya aku ge er, tapi instingku berkata begitu.
Aku mulai merasa takut. Takut dia berhasil menemukan kunci itu. Kunci yang aku titipkan di hatimu. Sempat aku berniat untuk menjauh, tapi tiba-tiba aku sadar, aku terperangkap. Terjerat dalam gayanya. Semua itu membuat aku bingung sendiri. Ada apa ini? Aku tahu dia mulai mendekatiku, aku tahu dia berniat masuk ke dalam hatiku dan aku belum siap untuk itu, tapi kenapa ada sedikit hangat di hatiku? Suara hatiku yang paling lemah menolak untuk menjauh darinya. Haruskah aku biarkan ia semakin dalam mengenalku?.
Dia punya pacar. Aku tahu itu saat dia menemaniku ke BIP, mencari jeans pesanan kakakku. Ponselnya berdering. “Iya buuu…sabar sebentar, aku juga lagi di jalan. Tunggu aja di rumah, bentar lagi aku pulang ya…” Entah kenapa tiba-tiba hatiku tak tenang. Apa dia bicara dengan ibunya? Mungkin ibunya minta diantar ke suatu tempat. Tapi aku merasa ada yang ganjil. Mungkinkah pacarnya? Oh come on…memangnya kenapa kalau dia punya pacar? Tunggu. PACAR. DIA PUNYA PACAR? Terus kenapa dia mendekati aku? Kenapa dia bertingkah seolah-olah dia menyukai aku dan berniat mendapatkan perhatianku? Apa aku kegeeran? GREAT!
Kali kedua, aku yakin dia sudah punya pacar. Bagaimana tidak, tengah rapat himpunan dia disibukkan dengan dering ponselnya. Dari gerak-geriknya, seolah dia ingin acara cepat selesai dan melesat pergi. Selesai rapat dia berjalan jauh di depanku, sedikit kecewa karena biasanya ia selalu menjejeri langkahku. Di dapan kampus terlihat seorang perempuan sedang menunggu seseorang. Benar saja, Moses lah yang dia tunggu. Mereka berlalu begitu saja tanpa tahu ada sepasang mata menatap miris kearah mereka, milikku. Aku tak tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Merasa di khianati…no way! Ini gila, ini tak boleh dibiarkan. Lalu apa maksudnya selama ini?! AAARRRGGGHHH!!!
Keesokan harinya dengan rasa ingin tahu yang ditutup-tutupi, aku nekat bertanya “kemarin di jemput pacarnya ya? Deuh, romantis banget…Kapan-kapan kenalin dong…anak mana dia?” kubuat suaraku setenang mungkin seolah tak ada apa-apa. “anak ITB…” jawabnya malas. Lalu dia bercerita tentang pacarnya yang menurut dia possessive mendekati saiko. Selalu curiga, cemburu berlebihan, telat balas sms langsung di telpon, di cecar dengan berbagai pertanyaan menuduh yang menyudutkan. Setiap ketemu selalu cek cok. Pernah sekali Moses minta putus, perempuan itu nekat menyilet nadinya. Kesimpulan yang bisa kuambil, Moses terjebak dalam hubungan tak sehat dan dia tak bisa melepaskan diri. Moses yang malang. Ia butuh teman untuk menetralkan semua kepenatannya. Aku…ah sudahlah.
Hari-hari berikutnya tiba-tiba saja aku merasa begitu dekat dengannya. Rasanya tak lengkap bila sehari saja aku tak bertemu dia. Lalu aku pun berhadapan dengan kenyataan yang selama ini aku takutkan. Aku suka dia. Aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Hati ini masih untuk kamu, tapi entah kenapa rasanya aku ingin dia selalu ada di dekatku. Apa aku serakah? Ataukah ini sekedar pelarian semata? Kuharap bukan keduanya.
Kamu tahu, dia begitu berbeda dengan kamu. Dia selalu tampil rapi, bersih dan wangi, selalu memperhatikan penampilan. Dia tidak suka aktivitas berat yang membuatnya banjir keringat dan dia mencuci celana jeans-nya dua hari sekali. Aku nyaman ada di dekatnya, setidaknya tidak menyusahkan pembuluh rapuh di hidungku yang sangat sensitif ini. Tapi kadang aku kangen kamu dengan gaya kamu yang biasa saja. Kangen kamu yang datang ke kampus dengan peluh dan tangan penuh oli karena motor mogok di tengah jalan atau kehabisan bensin dan kamu harus mendorong si kukut melewati tiga perempatan sampai kampus. Kangen kamu dengan celana jeans biru navy dekil kesayanganmu itu. Dia smart, kreatif dan humoris. Dia main musik juga seperti kamu. Dia vokalis. Kamu ingat betapa aku ingin punya pacar seorang vokalis band? Aku pernah cerita tentang itu sekali. Dulu seringkali aku membayangkan ada seorang lelaki yang menyanyikan sebuah lagu romantis untukku di depan banyak orang dengan sekuntum mawar di tangannya. Dan aku sempat berhasil mengikhlaskan impian itu saat kutahu kamu main drum. Rasanya aku rela melepaskan semua impianku dan hijrah menyukai apapun yang ada di dirimu. Tahukah kamu? Tiba-tiba saja aku begitu kangen kamu. Semoga kamu bahagia dengannya. Beneran.

Cintamorfosa part. 1 Kiera Osman

Aku tak pernah tahu kau mencintaiku atau tidak. Rasanya aku ingin kembali mengulang tahun-tahun kebersamaan kita. Kebersamaan yang dulu terasa seperti sayur pare buatan ibuku. Pahit, kesat, tapi aku kecanduan. Kebersamaan yang kupikir hanya kunikmati seorang diri. Memandangi punggungmu sudah cukup bagiku untuk beroleh rasa tenang, karena saat kau berbalik dan mata kita tak sengaja beradu pandang, hatiku jadi tak karuan. Momen seperti itu membuatku sibuk menenangkan keinginan-keinginan yang entah darimana datangnya, tapi tiba-tiba menyerbu. Ingin menatapmu lebih lama lagi, ingin menikmati getaran seperti tersengat belut listrik saat kau menimpukku dengan senyummu dan saat kau memanggil namaku, ada yang meletup-letup di dalam dadaku, hingga kadang aku khawatir kau dapat mendengar bunyi letupannya. Sampai pada saat perempuan itu melangkah dengan kepercayaan diri yang penuh di depanku, menghampirimu, lalu bergelayut manja di lenganmu. Musnah seketika keindahan yang kurasa.
KIERA OSMAN. Namanya saja sudah mentereng, orangnya apalagi. Aku tak heran melihat kamu begitu senangnya saat dia minta kamu temani ke acara “Student Nite”. Aku juga tak heran saat orang-orang mulai membicarakan kedekatan kalian. Lalu saat kamu bilang kalian resmi pacaran, aku sama sekali tak heran. Aku sakit. Rasanya ingin lari dari kenyataan bahwa mungkin aku takkan bisa lagi menikmati saat-saat mata kita tak sengaja beradu pandang, karena sekarang matamu hanya akan menatap dia. Menatap bidadari yang memiliki hatimu.
Terkadang aku membayangkan, andai seperti di sinetron, tiba-tiba ada orang kaya yang mengclaim bahwa aku ini anaknya yang dulu diculik orang atau tertukar di rumah sakit atau apapun lah itu kejadiannya, mungkin akan lebih mudah untukku. Aku bisa kabur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri sekalian untuk menjaga mata ini agar tidak melihat putri tunggal raja outlet di Bandung itu menggelayuti tanganmu. Bagaimana tidak, kita kuliah di tempat yang sama. Masih untung kita beda fakultas, aku tak tahu apa jadinya bila kita satu fakultas juga. Atau paling tidak ada hal lain yang bisa mengalihkan perhatianku, pikiranku dan bahkan hatiku dari kamu. Mungkin.
Kamu mulai jarang terlihat nongkrong di tempat biasa. Bidadari itukah yang menyita waktumu? Disatu sisi aku merasa sedikit lega tidak perlu melihat kemesraan kalian, tapi disisi lain aku kangen sekali sama kamu. Aku ingin melihat kamu dengan senyum itu lagi, menyapaku dan menawariku makanan apapun yang ada di tanganmu, selalu. Aku masih ingat, kamu paling suka makan kuwaci biji bunga matahari. Dan kebiasaan nyampahmu itu membuat si Mbah OB menjadi berang karena sampah kuwacimu menambah berat pekerjaannya. Dan si Mbah masih dendam sama kamu sampai sekarang.
Tanpa kehadiran kamu, perkuliahan membuatku sibuk. Mungkin lebih tepat dibilang aku menyibukkan diri dengan perkuliahanku. Perpustakaan, tugas kelompok, rapat himpunan mahasiswa, ketemu dosen atau sekedar kumpul dengan teman-teman di kantin belakang. Sesekali masih saja ada yang membicarakan kamu dan dia, sesak dada ini mendengarnya, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa. Terbiasa mencari kesibukan lain untuk menghindarkan telingaku dari pembicaraan mereka. Dua bulan, kupikir aku sudah berhasil melupakanmu. Setidaknya aku sudah tidak terlalu berharap ketemu kamu dan mencuri senyummu.

Kamis, 28 Januari 2010

La Tahzan for Twins mother

Membaca buku La Tahzan for Mothers (Asma Nadia, dkk) mau tak mau mengingatkan aku pada setahun yang lalu.
Kehamilan tiba2 membuatku sulit sekali bersyukur. Terlalu cepat, pikirku. Aku hamil, suamiku masih kuliah, aku baru saja resign, bagaimana aku bisa membiayai kehamilan ini? itu saja yang terus berulang2 bergema di kepalaku. Ketidaksiapan membuatku lupa pada apa yang seharusnya kulakukan, bersyukur. Trimester pertama rasanya berat sekali. Keringat dingin, mual, muntah, lemas, migrain menjadi teman sehari2. Terlebih suami tak bisa menemani karena sibuk mengerjakan skripsi.
Trimester kedua, aku pulang ke rumah ibuku, mencari keheningan dan udara segar. Aku mulai menata hati dan menerima dengan ikhlas that i'm gonna be a mother in 6 months. Pastinya Allah sudah menyiapkan rencana yang indah dibalik semua ketersiksaanku ini.
Usia kehamilan 6 bulan, perutku rasanya besar sekali. Dan ternyata apa yang kurasa berbanding lurus dengan apa yang orang lihat. Sampai pada suatu ketika, ibuku pulang berbelanja. Ia bilang, orang2 mulai menggunjingkan aku.
"6 bulan kok perutnya udah kayak 9 bulan, kayaknya sih gitu..." sambil tertawa sinis. Oh, i see. Mereka mengira aku MBA, married by accident. Lalu ibuku bilang, mereka mulai 'berhitung', nampak sekilas ada kekhawatiran di wajahnya.
"mom, nggak usah khawatir...aku kan nikah bukan karena hamil duluan. biarin mereka ngitung sampai pening, kalo aku MBA, masak nikah udah 10 bulan tapi bayinya belum keluar juga? mereka begitu kan cuma karena ingin cari teman, menutupi rasa malu karena ternyata anaknya lah yang seperti itu". Berhasil, ibuku mulai tak perduli apa kata orang.
Usia kehamilan 7 bulan 3 minggu, aku memeriksakan diri ke bidan di Bandung, aku memang berencana lahiran disana. Tak seperti yang sudah2, bidan senior ini memeriksaku lamaaaaaa sekali, berulang2, hingga aku dan suami dijalari rasa takut kenapa2. Setelah pemeriksaan selesai, beliau berkata..."ibu ada keturunan kembar?" aku pun mengangguk lemas.
Seminggu kemudian aku melahirkan bayi kembar lelaki dan perempuan, Alhamdulillah. Bersyukur sekali bayi kembarku tak mesti bermalam di inkubator kendati beratnya tak lebih dari 2 kg. Lalu dimulailah episode menjadi ibu. Untuk sementara sampai imunisasi pertama, aku tinggal di rumah tante dari suamiku, sementara ibuku menyiapkan rumah untuk kedatangan si kembar. Dengan pengetahuan minim, aku mulai mengurus bayi2 mungil yang hanya sebesar botol kecap itu. Peluh tak pernah pergi dari dahiku. Panik dengan suara tangis keduanya yang tak nyaman karena popoknya basah. Sendiri menangani 2 premature babies sekaligus membuatku snewen dan mengalami baby blues syndrome. Melihat mereka yang begitu kecil, kuning dan berbintik merah. Tidur ditemani sorot pijar 60 watt demi rasa hangat. Masing2 mendapat jatah 4 botol obat dan suplemen. Aku menangis saat mereka tak mau menyusu padaku, saat mereka minta ganti popok bersamaan, saat mereka memuntahkan kembali obat yang kuberi. Tuhan, bagaimana mereka bisa bertahan hidup, jeritku.
Hari demi hari kulalui dengan tawa dan air mata. Sampi pada usia lewat 1 bulan, kaka, jagoanku menangis jerit2 setiap kali pipis. Udel dan testis kirinya membesar. Tanpa tunggu lama, aku membawanya ke rumah sakit tempat ia dilahirkan. Setelah berkonsultasi dengan perawat IGD kenalanku, ternyata ada pelengketan di penisnya yang membuat ia menjerit2 kesakitan saat pipis dan menyebabkan hernia pada scrotum dan umbilical-nya. Mereka menyarankan untuk sesegera mungkin dilakukan circumsisi. DISUNAT. Masya Allah. Lakukan apapun asal bayiku sembuh. Aku memegangi tanggan mungilnya saat mereka memotong ujung penis anakku, membersihkan pelengketan lalu menjahitnya. Allah memberiku kekuatan untuk menemani anakku melewati prosesi sunatannya. Masa recovery, jangan tanya, itu penuh air mata, melihat luka basahnya, belum lagi memikirkan hernianya yang baru bisa di operasi setelah beratnya mencapai 8 kg. Mudah2an saja bisa sembuh sendiri, tak sampai harus operasi.
Lalu dua bulan kemudian, saat ayahnya datang dengan arna merah di matanya, aku panik. Benar saja, kami seisi rumah ikut2an sakit mata. Dalam keadaan perih-kesat-pening seperti itu aku juga harus merawat bayi2ku yang juga merasakan apa yang kurasa. Ku titipkan kaka pada ibuku, lalu kugendong puteri kecilku, kunyamankan ia dalam dekapanku, mencoba menyampaikan penenang berupa kalimat "sabar ya nak, bunda ada disini" dan apa yang kudapat? ia menatapku dengan mata sipit-merah-belekan itu lalu tersenyum, manis sekali seolah berkata "jangan sedih bunda, keukeu nggak apa2 kok"...