Ada anak baru di himpunan. Moses namanya. Awalnya aku pikir dia pendiam, tapi setelah kenal, dia lumayan asyik juga. Dia banyak bercerita. Tentang Musik, film, komputer, kartun, bahkan tentang irama hujan yang paling disukainya. Banyak persamaan diantara aku dan dia yang mau tak mau membuat kami dekat. Entah kenapa aku mulai merasa dia mendekati aku. Dari pembicaraannya aku merasa dia mulai mencari-cari kunci untuk membuka pintu hatiku yang selalu kututup rapat. Bukannya aku ge er, tapi instingku berkata begitu.
Aku mulai merasa takut. Takut dia berhasil menemukan kunci itu. Kunci yang aku titipkan di hatimu. Sempat aku berniat untuk menjauh, tapi tiba-tiba aku sadar, aku terperangkap. Terjerat dalam gayanya. Semua itu membuat aku bingung sendiri. Ada apa ini? Aku tahu dia mulai mendekatiku, aku tahu dia berniat masuk ke dalam hatiku dan aku belum siap untuk itu, tapi kenapa ada sedikit hangat di hatiku? Suara hatiku yang paling lemah menolak untuk menjauh darinya. Haruskah aku biarkan ia semakin dalam mengenalku?.
Dia punya pacar. Aku tahu itu saat dia menemaniku ke BIP, mencari jeans pesanan kakakku. Ponselnya berdering. “Iya buuu…sabar sebentar, aku juga lagi di jalan. Tunggu aja di rumah, bentar lagi aku pulang ya…” Entah kenapa tiba-tiba hatiku tak tenang. Apa dia bicara dengan ibunya? Mungkin ibunya minta diantar ke suatu tempat. Tapi aku merasa ada yang ganjil. Mungkinkah pacarnya? Oh come on…memangnya kenapa kalau dia punya pacar? Tunggu. PACAR. DIA PUNYA PACAR? Terus kenapa dia mendekati aku? Kenapa dia bertingkah seolah-olah dia menyukai aku dan berniat mendapatkan perhatianku? Apa aku kegeeran? GREAT!
Kali kedua, aku yakin dia sudah punya pacar. Bagaimana tidak, tengah rapat himpunan dia disibukkan dengan dering ponselnya. Dari gerak-geriknya, seolah dia ingin acara cepat selesai dan melesat pergi. Selesai rapat dia berjalan jauh di depanku, sedikit kecewa karena biasanya ia selalu menjejeri langkahku. Di dapan kampus terlihat seorang perempuan sedang menunggu seseorang. Benar saja, Moses lah yang dia tunggu. Mereka berlalu begitu saja tanpa tahu ada sepasang mata menatap miris kearah mereka, milikku. Aku tak tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Merasa di khianati…no way! Ini gila, ini tak boleh dibiarkan. Lalu apa maksudnya selama ini?! AAARRRGGGHHH!!!
Keesokan harinya dengan rasa ingin tahu yang ditutup-tutupi, aku nekat bertanya “kemarin di jemput pacarnya ya? Deuh, romantis banget…Kapan-kapan kenalin dong…anak mana dia?” kubuat suaraku setenang mungkin seolah tak ada apa-apa. “anak ITB…” jawabnya malas. Lalu dia bercerita tentang pacarnya yang menurut dia possessive mendekati saiko. Selalu curiga, cemburu berlebihan, telat balas sms langsung di telpon, di cecar dengan berbagai pertanyaan menuduh yang menyudutkan. Setiap ketemu selalu cek cok. Pernah sekali Moses minta putus, perempuan itu nekat menyilet nadinya. Kesimpulan yang bisa kuambil, Moses terjebak dalam hubungan tak sehat dan dia tak bisa melepaskan diri. Moses yang malang. Ia butuh teman untuk menetralkan semua kepenatannya. Aku…ah sudahlah.
Hari-hari berikutnya tiba-tiba saja aku merasa begitu dekat dengannya. Rasanya tak lengkap bila sehari saja aku tak bertemu dia. Lalu aku pun berhadapan dengan kenyataan yang selama ini aku takutkan. Aku suka dia. Aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Hati ini masih untuk kamu, tapi entah kenapa rasanya aku ingin dia selalu ada di dekatku. Apa aku serakah? Ataukah ini sekedar pelarian semata? Kuharap bukan keduanya.
Kamu tahu, dia begitu berbeda dengan kamu. Dia selalu tampil rapi, bersih dan wangi, selalu memperhatikan penampilan. Dia tidak suka aktivitas berat yang membuatnya banjir keringat dan dia mencuci celana jeans-nya dua hari sekali. Aku nyaman ada di dekatnya, setidaknya tidak menyusahkan pembuluh rapuh di hidungku yang sangat sensitif ini. Tapi kadang aku kangen kamu dengan gaya kamu yang biasa saja. Kangen kamu yang datang ke kampus dengan peluh dan tangan penuh oli karena motor mogok di tengah jalan atau kehabisan bensin dan kamu harus mendorong si kukut melewati tiga perempatan sampai kampus. Kangen kamu dengan celana jeans biru navy dekil kesayanganmu itu. Dia smart, kreatif dan humoris. Dia main musik juga seperti kamu. Dia vokalis. Kamu ingat betapa aku ingin punya pacar seorang vokalis band? Aku pernah cerita tentang itu sekali. Dulu seringkali aku membayangkan ada seorang lelaki yang menyanyikan sebuah lagu romantis untukku di depan banyak orang dengan sekuntum mawar di tangannya. Dan aku sempat berhasil mengikhlaskan impian itu saat kutahu kamu main drum. Rasanya aku rela melepaskan semua impianku dan hijrah menyukai apapun yang ada di dirimu. Tahukah kamu? Tiba-tiba saja aku begitu kangen kamu. Semoga kamu bahagia dengannya. Beneran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar