Wisuda. Beruntung sekali aku masuk dalam kepanitiaan, aku bisa melihatmu mungkin untuk terakhir kali sebagai mahasiswa. Kamu dengan toga adalah best view hari itu. Nampak gagah sekali, walau ada sedikit garis yang tak biasa di wajahmu. Hatiku tak tenang. Apa kamu sedang menghadapi masalah besar pangeran? sorot mata itu tak lagi teduh mendamaikan, terlihat gelisah dan sesekali menatap kosong. Are you okay? ingin sekali aku ada disana, aku tak keberatan jika kau pinjam bahuku seharian untuk sekedar menyandarkan penat. Apapun, asal kau kembali bersinar.
Malam inaugurasi, lagi-lagi aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Punggungmu saja sudah cukup. Aku ingat alm. ayah sering bilang "barang siapa yang bersyukur, maka Allah aka menambahnya". Tentu saja aku mengimani hal ini setengah mati dan untuk kesekian kalinya ini terbukti. Aku kehilangan sosokmu, entah dimana. Mungkin pertemuan terakhir dengan teman-teman ataukah memanjakan bidadari hatimu? aku tak tahu. Kuhela nafasku dengan berat, sangat berat.
"Princess...capek? aku pijitin ya..." aku tak berani menoleh ke belakang. Aku tahu itu kamu. Tak pernah seorang pun memanggilku dengan sebutan itu, semerdu itu. Princess. Kamu tidak pernah memanggilku Azalea Puteri. Tidak 'Zee' seperti keluarga dan temen-teman kebanyakan, tidak 'Put' seperti para dosen, tidak juga 'Teri' seperti sahabat-sahabatku saat bergila-ria bersama. Princess menurutmu lebih memunculkan sisi feminin dibalik celana jeans dan blouse hitam yang selalu ku kenakan. Princess of the darkness.
Aku ingin menikmati momen itu lebih lama lagi, tapi aku takut kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati wajahmu dari dekat.
"Selamat ya, lulus kuliah bisa langsung kerja..." kamu pun nampak sangat kebingungan waktu itu.
"Kerja? maksud kamu? aku malah masih bingung abis ini mau ngapain, ngelamar kemana dan minta gaji berapa?" aku suka, wajah kamu mirip anak kecil kalau sedang bingung.
"Masa? nih, aku sampai merem melek kamu pijitin. Kalau buka praktek, tukang pijat amatir biasanya pasang tarif dua puluh sampai tiga puluh ribuan durasi dua jam, lumayan kan buat beli kuwaci..." kamu pun tergelak, begitu lepasnya sampai beberapa pasang mata menoleh penasaran ke arah kita.
"Kamu tuh ya, selaluuu aja bikin aku ketawa kayak gini"
"Ih, aku seriuuuus!"
"Iya sayang..." DEG!!! sayang. Kamu bilang SAYANG?! untuk beberapa saat waktu rasanya berhenti berputar. Aku terdiam tak mampu berkata-kata, begitu pula dengan kamu. Sekilas terlihat kamu menggigit bibir, entah itu untuk kejujuran yang tak sengaja terungkap, sebuah kekeliruan yang patut disesali atau sekedar hal biasa namun salah objek? aku tak berani menyimpulkan. Bahkan sampai beberapa hari yang lalu aku tak pernah tahu apa artinya. Kamu tak pernah menjelaskannya, atau lebih tepat dikatakan tak sempat, karena saat mulutmu sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, Kiera datang dengan senyum 'dia-milikku'-nya dan membawamu pergi menjauh dari aku, dari hidupku, untuk waktu yang sangat lama.
Tiba-tiba saja seseorang memegang pundakku. "Princess...capek? aku pijitin ya..." Moses menirukan kata-katamu dengan nada amat sinis dan mengejek. Rautnya menunjukkan kekesalan yang sengaja tidak ia sembunyikan, seolah ingin dunia tahu apa yang ia rasakan.
"Kamu..."
"Iya, aku disini sedari tadi. Kamu sadar nggak sih? aku panik nyariin kamu kemana-mana, tapi apa yang aku dapat? kamu malah enak-enakan dipijitin sambil ketawa-ketawa. Zee...dia itu milik Kiera, dia lebih MEMILIH cewek barbie anak konglomerat itu daripada kamu. Dia cuma cowok matre...dia nggak pantes dapetin cinta kamu! Jangan kamu rendahin diri kamu seolah-olah kamu ini nggak laku sampai harus mengemis pada kekasih orang apalagi orangnya itu dia!"
Aku shock. Tak pernah menyangka Moses akan mengeluarkan kata-kata sepedas itu. Dia bukan saja secara tidak langsung merendahkan aku, tapi dia juga menghina kamu, aku tak bisa terima itu. Lagi pula untuk apa dia repot mencariku? bukankah dia yang sejak awal asyik dengan gadis-paras-timur tengah-nya itu? lalu kenapa aku tak boleh sejenak dengan kamu padahal kita hanya sekedar ngobrol? Ada yang bergejolak di hatiku. Kesal, marah, tak terima dan sejuta kenapa yang ingin ku muntahkan.
"Namanya Jibril. Dan dia bukan cowok matre..." ucapku dengan rahang yang terasa mengeras.
"Whatever! aku antar kamu pulang sekarang." seluruh tubuhku memanas, aku ingin teriak, aku ingin berontak, aku belum sekesai bicara, tapi yang terjadi aku hanya diam membeku. Dia menyeretku masuk ke mobilnya dengan kasar, menyetir seperti orang kesetan. Aku mati-matian menahan tangis dan kesal sepanjang jalan Lalu tiba-tiba saja dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan
"Tadi aku berantem lagi sama Nawa, cuma gara-gara dia buka handphone aku dan banyak sms kamu di inbox-ku. Dia nggak suka aku dekat dengan kamu, dengan perempuan manapun selain dia. Dia nampar aku Zee...selalu begitu, mempermalukan aku di depan umum. Dia banting handphoneku, terus pergi gitu aja. Aku butuh kamu, cuma kamu yang bisa nenangin aku. Aku cari kamu kemana-mana, kamu alah lagi asyik bercanda dngan cowok matre itu, aku bete tau..."
WHAT?! aku semakin tak percaya. Bisa-bisanya dia bicara semanja itu setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku ini apa? propertinya yang selalu ada saat dia butuh? atau sekedar extacy untuk melarikan diri dari permasalahan dan melepaskan penat?! Aku keluar dari mobilnya dengan kekecewaan yang amat sangat, menyetop taxi yang lewat, lalu pulang. Kumatikan ponsel. Aku yakin dia pasti panik lalu menghujaniku dengan puluhan missed call dan sms, tapi ku tak peduli, aku hanya ingin sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar