Ingin ku ulang hari, Ingin ku perbaiki, Kau sangat ku butuhkan, Beraninya kau pergi dan tak kembali…
Di mana letak surga itu? Biar ku gantikan tempatmu denganku…
Adakah pantas surga itu? Biar ku temukan untuk bersamamu…
Apalah artinya hidup tanpa kekasihku…Percuma, ku ada di sini…
Setiap
hari, lagu ini yang menemaniku di iPod, di PC, di mobil, dimana pun aku
bisa mengakses musik, sengaja atau tidak, selalu lagu ini yang ku putar
di urutan pertama. Sejak kejadian itu, memang lagu ini yang dengan
tepat melukiskan hatiku. Seperti terselimuti abu vulkanik gunung Merapi,
hanya hitam yang tersisa di hidupku. Aku kehilangan warna, aku
kehilangan rasa. Apapun terasa pahit. Aku kehilangan dia. Separuh
hidupku.
Kecelakaan malam itu telah merenggut nyawa satu-satunya
orang yang paling aku cintai. Tiga hari setelah pernikahan kami. Masih
terekam jelas dalam ingatanku, sore itu…kami pergi ke sebuah café di
Lembang, tempat pertama kali kami bertemu dulu. Kami memesan sepiring
ketan bakar ayam spesial dan dua gelas yoghurt mocca, seperti biasanya.
Kami menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, tertawa-tawa,
ledek-ledekan membahas masa pendekatan sebelum pacaran, bersenang
menikmati awal kebersamaan kami sebagai suami istri.
Aku dan Axel
tidak memilih Kuta atau Senggigi untuk pergi berbulan madu. Kami sepakat
untuk napak tilas ke tempat-tempat kenangan masa pacaran dulu, rasanya
lebih spesial. Lagipula saat itu kami hanya punya waktu tiga hari. Aku
diterima bekerja di sebuah perusahaan nutrisi bayi. Ajaibnya, Axel
diterima di perusahaan distribusi pada hari yang sama dan gedung yang
sama. Gedung yang sama! Semua terasa begitu sempurna. Kami sudah
membayangkan bisa selalu berangkat dan pulang kerja sama-sama, makan
siang sama-sama, tanpa harus repot janjian di titik tengah. Tak ada yang
lebih membahagiakan dari apa yang kami miliki saat itu.
Awan
mendung mulai berarak meredupkan langit Lembang. Berkejaran dengan sang
waktu yang hendak membuka malam. Kami pun bergegas. Axel memacu kuda
besinya sekencang yang ia bisa. Jalanan berliku itu mulai basah ditetesi
hujan. Aku memeluk Axel erat di belakang. Detak jantungku mulai tak
beraturan. Aku memang tak pernah terlalu suka hujan. Sedikit petir saja
cukup membuatku ketar ketir. Saat itu tak banyak petir. Hanya satu kali.
Satu kali yang mengakhiri setengah hidupku. Awalnya kilat membelah
langit, menyilaukan. Lalu tak sampai tiga detik kemudian aku mendengar
suara petir terdahsyat seumur hidupku. Aku terlonjak kaget, ku surukkan
kepalaku ke punggung Axel. Gerakan tiba-tiba itu membuat Axel kaget dan
oleng di tikungan tajam. Belum sempat ia menstabilkan kembali motornya,
tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil Colt yang penuh dengan
sayuran dikemudikan dengan kecepatan tinggi, tak sempat menginjak rem.
Begitu menerut saksi mata yang ada di tempat kejadian.
Aku seolah
tenggelam di balik punggung Axel, berusaha mendamaikan hatiku hingga tak
tahu apa yang kami hadapi saat itu. Kejadiannya barlangsung sangat
cepat, aku hanya mampu mengingat saat tubuhku tiba-tiba melayang di
udara lalu terhempas, bergulingan di jalan aspal yang keras dan basah.
Pandanganku kabur. Aku megap-megap, berusaha melepas helm dengan segenap
kekuatan yang tersisa. Samar kulihat Axel tergeletak payah dan berdarah
tak jauh dari tempatku. Dengan bertumpu pada kedua tangan lemahku, aku
merangkak sedapatnya, berusaha menggapai tangan Axel yang terulur ke
arahku. Dan meskipun teramat lirih, aku dapat dengan jelas mendengar
kata demi kata yang diucapkan Axel dengan nafas tersenggal dan rasa
sakit yang nyata…
“ I love you, sunshine…”
***
Selama
tujuh hari penuh aku mengurung diri di dalam rumah, nyaris tak bisa
percaya semua itu bukan sekedar mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit
yang harus aku hadapi. Aku hanya berdiam diri di kamar atau teras
belakang, di kursi ayunan tempat aku biasa menghabiskan waktu bersama
Axel dulu. Saat bosan, biasanya aku menghabiskan waktu di kolam renang.
Berharap air dapat menenangkan pikiranku. Aku berendam di pinggir kolam
atau sekedar berjalan lambat-lambat di dalamnya. Kadang aku berenang
bolak-balik berpuluh-puluh kali, berharap air membuatku kelelahan hingga
aku bisa tidur sejenak walau tanpa lelap.
Aku beruntung. Karena
terkesan dengan hasil psikotest dan interwiew-ku, perusahaan yang
menerimaku bekerja memberikan kelonggaran waktu sebebas-bebasnya untuk
aku menata hati sampai benar-benar siap untuk bekerja. Tapi aku tak tahu
seperti apa konsep ‘benar-benar siap’ itu? Kenyataannya hati ini tak
bisa rapi kembali, aku bahkan tak tahu apa aku bisa menatanya lagi atau
tidak? Aku mungkin masih bisa hidup tanpa Axel, tapi aku tak bisa
membayangkan hidup seperti apa yang bisa kujalani tanpa dia disisiku.
Padahal ini bukan saatnya lagi untuk membayangkan, semuanya sudah
terjadi dan aku ‘dipaksa’ untuk langsung menjalani.
Aku tahu aku
tak boleh berlama-lama larut dalam kepedihan, Axel paling tidak suka
melihat orang yang memelihara rasa sakit dan sengaja berlarut-larut
dalam duka.
“ Heran deh, masa sepupu jauh aku yang cowoknya
meninggal beberapa bulan yang lalu itu sampai sekarang nggak mau keluar
rumah?! Kata ibunya, tiap hari tiap waktu kerjaannya nangiiiiiiiis terus
ngeratapin kematian cowoknya itu. Badannya sampai habis karena nggak
mau makan. Kok ada ya orang kayak gitu? Buang-buang waktu aja!”
“
Ya wajar dong schaadt, mereka kan udah mau nikah. Mana ada perempuan
yang nggak sedih ditinggal pacarnya. Jangan kasar gitu ah, nggak baik,
kalau aku yang ada di posisi dia malah mungkin lebih parah…”
“
No! kamu sama sekali nggak boleh kayak gitu sunshine. Kalau terjadi
apa-apa sama aku nanti, kamu nggak boleh larut dalam kesedihan. Kamu
harus bangkit dan lanjutin hidup kamu, lanjutin mimpi-mimpi kita…ya
sayang ya? Aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu sedih…”
“
Dan aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu nggak ada di samping aku
TAU! Udah dong ah, ngebayanginnya aja udah pengen mati! Jangan pernah
tinggalin aku, please…Awas aja kalo berani!”
“ Oke, enough for the heavy. Tapi aku bener-bener minta maaf, aku harus ninggalin kamu sekarang sunshine…”
“ WHAT?! You’ve got to be kidding me! Kamu mau kemana?”
“ Aku mau ke toilet sayang, kebelet! hehehe…bye cantik, ketemu di parkiran ya!”
Aku tak mau membuat Axel tak bahagia seandainya ia tahu keadaanku sekarang. Death doesn’t put an end to love, bukan?
Aku harus bisa kembali berdiri untuk melanjutkan mimpiku, mimpi Axel,
mimpi-mimpi kami berdua. Axel memang sudah tak ada, tapi aku masih bisa
mencintai kenangannya sebanyak yang aku mau.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar