Rabu, 24 Juli 2013

Sunshine In The Rain - Part 1. Love Doesn't Put an End To Love

Ingin ku ulang hari, Ingin ku perbaiki, Kau sangat ku butuhkan, Beraninya kau pergi dan tak kembali…
Di mana letak surga itu? Biar ku gantikan tempatmu denganku…
Adakah pantas surga itu? Biar ku temukan untuk bersamamu…
Apalah artinya hidup tanpa kekasihku…Percuma, ku ada di sini…

Setiap hari, lagu ini yang menemaniku di iPod, di PC, di mobil, dimana pun aku bisa mengakses musik, sengaja atau tidak, selalu lagu ini yang ku putar di urutan pertama. Sejak kejadian itu, memang lagu ini yang dengan tepat melukiskan hatiku. Seperti terselimuti abu vulkanik gunung Merapi, hanya hitam yang tersisa di hidupku. Aku kehilangan warna, aku kehilangan rasa. Apapun terasa pahit. Aku kehilangan dia. Separuh hidupku.
Kecelakaan malam itu telah merenggut nyawa satu-satunya orang yang paling aku cintai. Tiga hari setelah pernikahan kami. Masih terekam jelas dalam ingatanku, sore itu…kami pergi ke sebuah café di Lembang, tempat pertama kali kami bertemu dulu. Kami memesan sepiring ketan bakar ayam spesial dan dua gelas yoghurt mocca, seperti biasanya. Kami menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, tertawa-tawa, ledek-ledekan membahas masa pendekatan sebelum pacaran, bersenang menikmati awal kebersamaan kami sebagai suami istri.
Aku dan Axel tidak memilih Kuta atau Senggigi untuk pergi berbulan madu. Kami sepakat untuk napak tilas ke tempat-tempat kenangan masa pacaran dulu, rasanya lebih spesial. Lagipula saat itu kami hanya punya waktu tiga hari. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan nutrisi bayi. Ajaibnya, Axel diterima di perusahaan distribusi pada hari yang sama dan gedung yang sama. Gedung yang sama! Semua terasa begitu sempurna. Kami sudah membayangkan bisa selalu berangkat dan pulang kerja sama-sama, makan siang sama-sama, tanpa harus repot janjian di titik tengah. Tak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang kami miliki saat itu.
Awan mendung mulai berarak meredupkan langit Lembang. Berkejaran dengan sang waktu yang hendak membuka malam. Kami pun bergegas. Axel memacu kuda besinya sekencang yang ia bisa. Jalanan berliku itu mulai basah ditetesi hujan. Aku memeluk Axel erat di belakang. Detak jantungku mulai tak beraturan. Aku memang tak pernah terlalu suka hujan. Sedikit petir saja cukup membuatku ketar ketir. Saat itu tak banyak petir. Hanya satu kali. Satu kali yang mengakhiri setengah hidupku. Awalnya kilat membelah langit, menyilaukan. Lalu tak sampai  tiga detik kemudian aku mendengar suara petir terdahsyat seumur hidupku. Aku terlonjak kaget, ku surukkan kepalaku ke punggung Axel. Gerakan tiba-tiba itu membuat Axel kaget dan oleng di tikungan tajam. Belum sempat ia menstabilkan kembali motornya, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil Colt yang penuh dengan sayuran dikemudikan dengan kecepatan tinggi, tak sempat menginjak rem. Begitu menerut saksi mata yang ada di tempat kejadian.
Aku seolah tenggelam di balik punggung Axel, berusaha mendamaikan hatiku hingga tak tahu apa yang kami hadapi saat itu. Kejadiannya barlangsung sangat cepat, aku hanya mampu mengingat saat tubuhku tiba-tiba melayang di udara lalu terhempas, bergulingan di jalan aspal yang keras dan basah. Pandanganku kabur. Aku megap-megap, berusaha melepas helm dengan segenap kekuatan yang tersisa. Samar kulihat Axel tergeletak payah dan berdarah tak jauh dari tempatku. Dengan bertumpu pada kedua tangan lemahku, aku merangkak sedapatnya, berusaha menggapai tangan Axel yang terulur ke arahku. Dan meskipun teramat lirih, aku dapat dengan jelas mendengar kata demi kata yang diucapkan Axel dengan nafas tersenggal dan rasa sakit yang nyata…
I love you, sunshine…”
***
Selama tujuh hari penuh aku mengurung diri di dalam rumah, nyaris tak bisa percaya semua itu bukan sekedar mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit yang harus aku hadapi. Aku hanya berdiam diri di kamar atau teras belakang, di kursi ayunan tempat aku biasa menghabiskan waktu bersama Axel dulu. Saat bosan, biasanya aku menghabiskan waktu di kolam renang. Berharap air dapat menenangkan pikiranku. Aku  berendam di pinggir kolam atau sekedar berjalan lambat-lambat di dalamnya. Kadang aku berenang bolak-balik berpuluh-puluh kali, berharap air membuatku kelelahan hingga aku bisa tidur sejenak walau tanpa lelap.
Aku beruntung. Karena terkesan dengan hasil psikotest dan interwiew-ku, perusahaan yang menerimaku bekerja memberikan kelonggaran waktu sebebas-bebasnya untuk aku menata hati sampai benar-benar siap untuk bekerja. Tapi aku tak tahu seperti apa konsep ‘benar-benar siap’ itu? Kenyataannya hati ini tak bisa rapi kembali, aku bahkan tak tahu apa aku bisa menatanya lagi atau tidak? Aku mungkin masih bisa hidup tanpa Axel, tapi aku tak bisa membayangkan hidup seperti apa yang bisa kujalani tanpa dia disisiku. Padahal ini bukan saatnya lagi untuk membayangkan, semuanya sudah terjadi dan aku ‘dipaksa’ untuk langsung menjalani.
Aku tahu aku tak boleh berlama-lama larut dalam kepedihan, Axel paling tidak suka melihat orang yang memelihara rasa sakit dan sengaja berlarut-larut dalam duka.
“ Heran deh, masa sepupu jauh aku yang cowoknya meninggal beberapa bulan yang lalu itu sampai sekarang nggak mau keluar rumah?! Kata ibunya, tiap hari tiap waktu kerjaannya nangiiiiiiiis terus ngeratapin kematian cowoknya itu. Badannya sampai habis karena nggak mau makan. Kok ada ya orang kayak gitu? Buang-buang waktu aja!”
“ Ya wajar dong schaadt, mereka kan udah mau nikah. Mana ada perempuan yang nggak sedih ditinggal pacarnya. Jangan kasar gitu ah, nggak baik, kalau aku yang ada di posisi dia malah mungkin lebih parah…”
“ No! kamu sama sekali nggak boleh kayak gitu sunshine. Kalau terjadi apa-apa sama aku nanti, kamu nggak boleh larut dalam kesedihan. Kamu harus bangkit dan lanjutin hidup kamu, lanjutin mimpi-mimpi kita…ya sayang ya? Aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu sedih…”
“ Dan aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu nggak ada di samping aku TAU! Udah dong ah, ngebayanginnya aja udah pengen mati! Jangan pernah tinggalin aku, please…Awas  aja kalo berani!”
“ Oke, enough for the heavy. Tapi aku bener-bener minta maaf, aku harus ninggalin kamu sekarang sunshine…”
“ WHAT?! You’ve got to be kidding me! Kamu mau kemana?”
“ Aku mau ke toilet sayang, kebelet!  hehehe…bye cantik, ketemu di parkiran ya!”
Aku tak mau membuat Axel tak bahagia seandainya ia tahu keadaanku sekarang. Death doesn’t put an end to love, bukan? Aku harus bisa kembali berdiri untuk melanjutkan mimpiku, mimpi Axel, mimpi-mimpi kami berdua. Axel memang sudah tak ada, tapi aku masih bisa mencintai kenangannya sebanyak yang aku mau.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar