Rabu, 24 Juli 2013

Sunshine In The Rain - Part 2. The Second Life

Semalaman aku berjuang untuk tidak menangis, mendoktrin pikiranku dengan motto yang ku dapat di bangku kuliah : I CAN IF I THINK I CAN. Aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa… Entah berapa ribu kali ku ulang kalimat tersebut demi mendapatkan kembali semangat hidup, lalu entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja kalimat-kalimat tersebut menyeretku ke alam mimpi dimana Axel menatapku dengan mata teduhnya sambil tersenyum di kejauhan, lalu berkata “ Yes sunshine, kamu pasti bisa!”
Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun -terbangun oleh mimpi lebih tepatnya- dan sedikit terheran-heran karena sejak kepergian Axel, aku tak pernah benar-benar bisa ‘tidur’ apalagi sampai bermimpi. Ini awal yang baik, kemenangan pertamaku mengatasi keterpurukan ini. Aku mulai menyiapkan perlengkapan hari pertama bekerja. Setelan kerja hitam polos dengan bros warna emas berbentuk bunga Tulip kesukaanku, hadiah dari Axel di menjelang sidang skripsi. Senyum Axel di mimpi tadi malam menjadi suntikan energi positif untukku memulai hari. Memulai hidupku yang ke dua.
Perlahan kuturuni tangga menuju ruang makan. Semua mata menatapku takjub bercampur dengan kaget, heran, bingung, tapi diatas semua itu, secercah kebahagiaan tampak jelas dari tatapan mereka. Bunda, Ayah dan adikku, Jody mendadak speechless. Aku jadi sedikit tak enak hati. Apa ada yang salah dengan penampilanku ya?
“ Mmm…kenapa sih pada ngeliatin Jo kayak gitu? Aneh ya pakai setelan kerja kayak gini? Atau bajunya yang nggak oke? Aku ganti aja kali ya?” Aku memecah keheningan, taku mereka merasa tak enak untuk berkomentar. Aku berbalik, kembali menaiki tangga menuju kamar.
“ JANGAAAAAN!!!” semua berteriak kompak, aku makin bingung. Akhirnya Bunda beranjak dari tempat duduknya, menghampiriku.
“ Anak Bunda cantik bangeeet! Kamu…mau mulai kerja?” tanya Bundanya ragu-ragu.
“ Iya Bunda…kan udah seminggu Jo izin, nggak enak kalau kelamaan…nanti malah nggak jadi diterima kerjanya. Bunda doain ya, biar hari pertama Jo kerja jadi lancar.”
“ Lho, Bunda kenapa malah nangis? Jo salah ya?” kebingunganku semakin menjadi-jadi.
“ Itu air mata bahagia sayang…kami semua bahagia melihat kamu bangkit. Kamu memang putri Ayah yang tangguh. Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini dengan baik. Sekarang, kita sarapan sama-sama yuk…” rasa haru sekaligus bersalah tiba-tiba menyeruak di dadaku. Ya Allah…aku sudah membuat keluargaku khawatir selama ini. Bantu hamba untuk bangkit Ya Rabb.
***
Kulangkahkan kakiku dengan sedikit ragu menuju gedung di hadapanku. Rasanya tak enak karena aku tidak bisa masuk kerja sesuai tanggal yang disepakati di kontrak. Aku khawatir dengan opini teman-teman kerjaku nanti. Apa mereka akan menerimaku? Atau menganggapku tidak profesional? Atau bahkan mereka tak peduli sama sekali? Lututku sedikit gemetar saat menaiki tangga menuju Lobby, kepercayaan diriku mendadak luntur. Tiba-tiba saja seseorang menabrak bahu kananku hingga tas-ku terjatuh. Aku spontan merunduk bermaksud mengambilnya, tapi tangan lain sudah lebih dulu sampai di rantainya dan menyodorkannya padaku. Aku yakin dia bukan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas insiden itu, warna bajunya berbeda. Well, aku memang tidak melihat jelas, tapi sepertinya orang yang menabrakku langsung pergi begitu saja, atau mungkin dia tidak sadar kalau dia menabrak seseorang sampat tasnya terjatuh? Entahlah.
“Terima…kasih…” aku sedikit terhenyak, cepat-cepat kutarik nafas sedalam yang aku mampu. Aku mengenali sang penolong itu sebagai atasanku, orang yang meng-interview-ku waktu itu, orang yang menerimaku bekerja dan memberiku waktu untuk menenangkan diri, ya itu dia. Tapi aku benar-benar lupa kalau wajahnya sangat mengingatkanku pada Axel.
“ Schaadt, tahu nggak…tadi manajer yang ngewawancara aku mirip banget sama kamu lho…”
“ Masa sih? Muka aku pasaran dong?”
“ Hehehe…tepat sekali!”
“ Hmmm…seneng! Tapi awas aja kalau kamu jadi suka sama dia…”
Kenangan itu sedikit menyesakkan. Tanpa bisa ku kendalikan, sesuatu menggenang di pelupuk mataku. Air mata? Ya Tuhan, jangan sampai aku menangis lagi di tempat seperti ini. Aku kuat…aku kuat…aku kuat…aku kuat…aku kuat…
“ Mba? Nggak apa-apa kan?” Tuhan…mata ini, kenapa bisa begitu mirip? Tolong jangan runtuhkan tekadku di hari pertama aku membangunnya Tuhan…
“ Mba...? Hey, kamu…Joana? Ya, ya…kamu Joana Athalia kan? Aku nggak nyangka kamu masuk secepat ini lho! Kamu baik-baik aja kan? Oh, kita ke cafetaria dulu ya? Sepertinya kamu perlu minum sesuatu…”
“ Eh, tidak usah Pak, saya baik-baik saja kok. Lagipula ini kan hari pertama saya kerja, masa terlambat? Tidak enak dengan yang lain Pak.” Sekuat tenaga kudorong rasa sesak itu keluar dari hatiku. Aku tak boleh kalah.
“ Udah…nggak usah kaku begitu, ayo ikut saya, it’s an order!” dia menarik tenganku begitu saja seolah kami sudah kenal sejak lama dan aku hanya bisa pasrah. It’s an order dia bilang. Apa hal seperti ini masuk hitungan perintah kerja? Menemani bos minum? Atau dalam kasus ini, ditemani bos? Waktu kuliah Professional Development dulu kalau tidak salah, justru hal-hal seperti ini yang harus dihindari agar tidak di cap ‘unprofessional’. Bagaimana ini?.
RAGA. Namanya Raga. Aku berhasil membaca sekilas ID Card yang dijepitkan di saku kemejanya. Raga Narendra. Nama yang tidak berhasil aku ingat sepanjang perjalanan dari Lobby ke Cafetaria. Peristiwa seminggu yang lalu itu berpengaruh juga terhadap daya ingatku rupanya. Semoga tidak banyak yang hilang.
“ Teh manis panas?” tawarnya. Aku melihat ke sekelilingku. Kosong. Well, jam delapan pagi sudah sewajarnya Cafetaria kosong kan? Yang membuatku bingung, aku tak sadar kapan tepatnya kami sampai di Cafetaria ini? Tiba-tiba saja kami sudah duduk di meja paling luar. Fokus, Joana. Fokus.
“ Kopi hitam, kalau boleh.” Aku tak sempat berpikir panjang, itu yang pertama kali terlintas. Lagipula, aku kan bukan penggemar teh manis panas. Tidak, tanpa lemon. Tidak, semenjak Axel bilang tidak suka teh manis panas. Aku tidak suka semua yang tidak disukai Axel. Plagiat, dia bilang. Tapi menurutku, itu wujud kesediaanku untuk menjadi bagian dari dirinya. Untungnya, selera kami kurang lebih sama. Jadi tak terlalu banyak penambahan dalam daftar ‘tidak suka’-ku.
“ WOW!” Aku tak tahu pasti apakah ‘WOW’ itu merupakan ekspresi kekaguman, keterkejutan atau penasaran? Sepertinya yang ketiga lah yang paling mungkin. Kalau begitu aku harus siap-siap dengan ‘kenapa?’ yang mungkin akan ditanyakannya setelah memesan kopi hitam-ku.
“ Boleh tahu kenapa?” aku mengerutkan alis, pura-pura tidak paham. “Kopi hitam. Kenapa kopi hitam? Well, baru kali ini saya menemukan orang, perempuan, sedikit shock karena hampir jatuh ditabrak orang, minta kopi hitam untuk menenangkan diri.” Rasa penasaran yang terpancar jelas di wajahnya membuatku bingung harus menjawab apa. Aku mengangkat bahu, “ Itu yang pertama terlintas. ” Jawabku sambil sedikit menggelengkan kepala. Semoga dia percaya dan tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Interesting. Tapi kok saya nggak begitu puas ya sama jawaban kamu?” kali ini dia yang mengangkat bahu, tidak ingin memperpanjang. “ Sudahlah. By the way, kamu yakin sudah siap bekerja hari ini? Saya lihat kamu sedikit kurang fokus sejak insiden tabrakan di lobby tadi?” matanya menganalisa, aku menunduk. “ Kamu juga nggak banyak bicara…” karena dari tadi Bapak yang memonopoli pembicaraan, jawabku dalam hati. Lagipula, wajahnya yang mengingatkanku pada Axel-lah yang membuatku goyah, tadi pagi kan kakiku sudah tegap. “ Saya bisa kasih kamu perpanjangan waktu untuk recovery lho…mau?”
“ Oh, tidak perlu Pak. Saya sudah berusaha keras untuk bisa bangkit hari ini, saya tidak ingin semuanya menjadi sia-sia hanya karena insiden kecil,” aku menarik nafas dalam, mencuri jeda untuk memikirkan pernyataan terbaik yang bisa kuberikan. “ Memulai kembali dari awal rasanya akan lebih sulit untuk saya ketimbang meneruskan satu langkah lagi ke depan. Tidak ada orang yang ingin mengulang bagian terberat dari sebuah perjuangan bukan?” itu kalimat terpanjang yang ku ucapkan hari ini, bravo. Dan sesungguhnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang ku ucapkan barusan. Fokus. Fokus.
Atasanku menganggukkan kepalanya beberapa kali, entah untuk apa. Aku menyesap kopi-ku, tidak sepanas yang kuharapkan sayangnya. Tapi demi alasan kesopanan, aku menyesapnya lagi, dan lagi. Ia nampak sedang berpikir. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Tidak mau tahu, lebih tepatnya, toh bukan urusanku juga. Melihat cangkirku yang sudah kosong tiga perempatnya, ia bertanya “ Siap memasuki dunia kerja?” katanya sambil berdiri dengan isyarat mengajak pergi. Aku mengangguk sambil mengumpulkan semangat yang ternoda, lalu berjalan mengikutinya. Sedikit terlintas dalam benakku, Lho…dia kan belum bayar? Atau aku yang ke- ge er-an berharap di traktir? Tapi melihat langkahnya yang penuh percaya diri, aku berprasangka baik saja dia punya bill khusus yang ditagihkan setiap akhir bulan. Jadi aku tidak perlu bertanya, atau inisiatif membayar sendiri. Biarkan sajalah.
***
Debut-ku pagi ini cukup lancar. Pak Raga sendiri yang memperkenalkan aku pada semua karyawan di ruangan besar bersekat-sekat itu. Aku sendiri mendapat meja paling ujung sebelah kanan, dekat dengan pantry dan toilet. Great. Posisi strategis untuk orang yang doyan minum dan buang air.
Aku diterima bekerja di perusahaan ini sebagai staf Inventory Controller, Divisi Supply Chain. Tugasku, ya sesuai dengan namanya, mengontrol persediaan barang di gudang. Memenuhi kebutuhan barang yang diminta oleh Divisi Sales -yang di pimpin oleh Pak Raga- untuk di jual oleh mereka. Aku dititipkan oleh Divisiku -yang bermarkas di kantor pusat, Jakarta-  untuk menghandle lima area di Jawa Barat, beruntung sekali mereka menempatkanku di Bandung, di rumahku sendiri. Aku juga di perkenalkan kepada Kepala Gudang beserta admin-adminnya, karena memang nantinya pekerjaanku berhubungan dengan mereka. Aku mendapat partner yang lumayan helpful. Satu-satunya orang  yang kutemui di gudang, yang yang tatapannya tidak membuatku risih. Thanks God, apa jadinya kalau harus bekerja sama -setiap hari- dengan orang yang kesan pertamanya saja kurang enak. Yah, semoga saja kerjasamaku dengannya bisa berjalan selencar hari ini. Semoga.
Jam 12.00 waktunya makan siang. Aku tak begitu lapar. Memang sejak kepergian Axel, rasanya aku tak pernah lapar. Aku makan dua kali sehari hanya demi menjaga ketahanan tubuhku, bahkan seringkali aku tak menyadari apa yang ku makan. Aku hanya tak ingin semakin merepotkan keluargaku dengan keterpurukanku kemarin. Aku sedang berpikir-pikir untuk memanfaatkan waktu istirahatku atau tidak. Lalu tiba-tiba saja aku membayangkan Axel menjemputku untuk lunch bareng.
“ Joana…keluar yuk, maksi…maksi…” terdengar suara seorang perempuan. Aku mengalihkan pandanganku dari layar monitor. Pauline, tercetak di ID Card-nya yang kutatap sekilas. Ia tersenyum ramah, cantik dalam balutan busana kerja bernuansa peach corak bunga yang serasi dengan kulit putih oriental-nya. Aku membalas senyumnya, berharap senyumku seindah miliknya.
“ Ayo…tapi sebenarnya aku nggak begitu lapar sih…”
“ Lapar nggak lapar yang penting keluar, nggak baik berlama-lama di depan komputer, mata kan butuh refreshing juga. Kamu kan bisa pilih menu ringan atau sekedar minum atau icip-icip punyaku juga boleh kok, yuk?”
“ Hmmm, boleh deh…” aku memastikan pekerjaanku sudah di save, lalu beranjak dari kursiku. Rasanya aku mulai menyukai Pauline dengan gayanya yang supel, ceria dan persuasif. Aku terkesan dengan kemampuannya mengajak, dan tiba-tiba saja aku sudah berjalan dengannya menuju Cafetaria.
Sangat berbeda dengan keadaan tadi pagi, kali ini Cafearia penuh dengan karyawan kelaparan. Terlihat dari antrian yang cukup panjang, seperti undangan pernikahan di hotel mewah pada jam yang sama. Pauline membawaku ke sebuah meja bertuan. Dua laki-laki, satu perempuan.
“ Hey guys, kenalin nih temen baru aku…” ujar Paulin menjawab tanda tanya di muka mereka. Dan aku pun berinisiatif memperkenalkan diri.
“ Hai, aku Joana, panggil Jo aja boleh…”
“ Hai, aku Mega…”
“ Nindy…”
“ Bagas…”
“ Nuno…”
Masing-masing menyalamiku dengan semangat dan senyuman bersahabat. Nuno menarik kursi kosong di meja sebelah untukku. Kekhawatiranku akan tidak diterima mulai memudar. Mudah-mudahan aku bisa berteman dengan mereka.
“ Oke. Semuanya udah ngumpul, saatnya wisata kuliner…” kali ini Bagas menyelamatkan kami dari kecanggungan akibat keberadaan orang asing di tengah-tengah mereka, aku. Ia menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan, “ Kehormatan pertama akan di berikan pada…Joana! Silakan madam, mau pesan apa?” tangannya memegang bolpen dan secarik kertas, menunggu. Aku benar-benar tidak ingin makan sekarang, tapi aku tak mau mengecewakan teman baruku itu. Lalu aku ingat, tadi pagi aku sempat melihat-lihat daftar menu.
“ Coleslaw sama kopi hitam, please...” Jawabku.
“ Ouuw…asem dan pahit. Mudah-mudahan bukan refleksi hati kamu ya!” semua orang tertawa dan aku hanya bisa tersenyum sambil menelan ludah, tiba-tiba saja tenggorokanku terasa asam dan pahit. Bagas mungkin tidak akan mengira kalau kata-katanya sangat tepat, setidaknya untuk saat ini. Memori itu menghampiriku lagi. Petir, hujan, tangannya yang menggapai-gapai ke arahku, kata-kata terakhirnya, Tuhan…hujan hari itu telah meluruhkan rasa manis dalam hatiku, membilas warna dalam hidupku dan meninggalkan hitam disana. Hanya hitam. Aku masih tenggelam dalam lamunanku saat Pauline menggoyang-goyangkan tanganku.
“ Jo…Jo…Joana!” aku tergagap, lupa kalau aku sedang berada di tengah keramaian. Meja kami sudah penuh dengan pesanan teman-teman yang sempat samar kudengar, termasuk persananku. Berapa lama aku melamun tadi? “ Kamu baik-baik aja kan Jo? Kamu sakit?” empat pasang mata itu tampak khawatir.
“ Oh, maaf. Aku nggak apa-apa kok. Pesanannya udah sampe ya? Cepet banget…” jawabku.
“ Bukan pesenannya yang cepet banget, tapi kamu yang ‘pergi’-nya lama banget! Abis dari Hongkong ya bu? Dapet apa aja? Bagi-bagi dong, Cuma ceritanya juga boleh kok, kami siap mendengarkan episode petualangan kamu barusan…” well, kuakui itu cara yang sangat menarik untuk membuat seseorang bercerita. Sepertinya Nindy memiliki kelebihan dalam hal ‘interogasi cara halus’, next time aku harus mendapatkan ilmunya.  Aku menyesap kopi-ku, kurang panas seperti tadi pagi. Atau jangan-jangan lamunanku yang mempercepat penguapan panasnya? Sambil menyuapkan coleslaw ke mulutku, aku memutuskan untuk menceritakan ‘petualangan’-ku tadi pada mereka.
“ Pauline…”
“ Alin.” Ralatnya.
“ Oke. Alin…kamu tahu nggak seharusnya aku mulai kerja seminggu yang lalu?” tanyaku memulai cerita. Alin memiringkan kepalanya, bingung.
“ I…ya…terus?”
“ Alasannya?”
“ Hmm, waktu itu aku dengar kamu katanya kecelakaan motor, bener begitu?”
“ Iya, aku memang mengalami kecelakaan motor di daerah Lembang. Dan kecelakaan itu…” aku menghirup nafas dalam-dalam, memenuhi rongga paru-paruku dengan sebanyak mungkin oksigen, “ merenggut nyawa suamiku…” aku sedikit tercekat menyebut istilah itu. Belum lagi aku terbiasa menyebutkannya, aku sudah harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku telah kehilangannya.
Aku melihat berbagai macam ekspresi di wajah teman-teman baruku. Kaget, kasihan, tak percaya.
“ Ya ampun Jo…aku nggak tahu ceritanya sampai setragis itu. Aku pikir cuma kecelakaan biasa. I’m so sorry. Gimana kejadiannya bisa sampai kayak gitu?” Aku terdiam. Tiba-tiba saja aku tak siap menceritakan kejadian itu. Aku merasakan ledakan emosi di dalam diriku, perlahan-lahan menggetarkan tubuhku.
“ Jo, relax…kalau kamu belum siap, kamu nggak perlu cerita sekarang, kita ngerti kok…jangan sampai kepenasaran kita-kita ini malah memerparah luka kamu…” lagi-lagi Nindy. Aku merasa damai seketika.
“ Nggak apa-apa kok. Ini memang pertama kalinya aku cerita, tapi aku…” merarik nafas dalam lagi, “kuat. Ya, aku kuat kok…” Dan mengalirlah ceritaku tentang kejadian itu. Aku memusatkan pandanganku pada satu titik di dinding hijau pucat Cafetaria, mendapat sedikit ketenangan dari warnanya. Ditambah lagi Mega yang memegang erat tanganku selama aku bercerita, seolah menyalurkan kekuatan padaku. Aku benar-benar berharap mereka bisa jadi sahabat untukku. Sahabat tempat aku berbagi tawa dan tangis. Menggantikan sahabat paling setia-ku, Axel.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar