Sudah hampir dua bulan aku bekerja di perusahaan ini, berteman dengan lima orang baru yang begitu mudahnya nge-blend
dengan aku. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada mereka. Seolah
Tuhan mengirimkan mereka khusus untuk membantuku bangkit dari kepedihan
karena ditinggal Axel. Ada saja ulah mereka yang membuat kami tertawa
setiap harinya. Sampai kadang aku merasa telah berkhianat. Bukankah
seharusnya aku masih bersedih? Well, bukannya aku tidak sedih, tapi kenyataannya aku menjalani hari-hari dengan sangat ringan. Apa ini tidak normal?
Pekerjaanku
cukup menyibukkan. Tak ada lagi waktu untuk meratap, sebetulnya memang
aku tak ingin lagi meratapi kepergiannya. Axel takkan suka, sudah
kubilang. Dan teman-teman baruku tak mengizinkan. Sedikit saja waktu
luang, mereka selalu berusaha menyibukkan aku. Apalagi kalau mereka
dapat info ada Launching novel baru di Toko Buku, niscaya aku orang
pertama yang mereka hubungi. Well, mereka tahu aku gila baca,
doyan sastra dan berharap suatu hari nanti menjadi bagian dari dunia
itu. Mereka menghormati batasan-batasanku sebagai janda yang belum habis
masa idah-nya. Mereka menghormati saat-saat aku ingin sendiri mengenang
almarhum suamiku, Axel. Tapi diluar itu, tak pernah ada waktu yang
terbuang percuma. Untungnya mereka bukan tipe orang yang suka clubbing, hura-hura, banci party atau melakukan hal-hal ajaib yang tak pernah ada dalam kamus hidupku. So far, aku merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka.
Siang
ini seperti biasa kami berkumpul di Cafetaria, perasaanku tak enak.
Sejenis kebiasaan lama yang tiba-tiba muncul. Dulu seringkali aku merasa
sesak karena nggak enak hati tanpa tahu apa penyebabnya. Dan biasanya
tidak lama berselang, ada sesuatu yang terjadi dan biasanya bukan hal
positif. Entah itu terjadi pada diriku sendiri atau orang-orang yang
dekat denganku secara emosional. Biasanya aku sangat terganggu, karena
perasaan yang datangnya tiba-tiba itu pastinya merusak mood-ku saat itu.
Tapi Axel malah bilang “ Senangnya punya pacar yang bisa berfungsi
sebagai indikator, jadi aku punya sedikit waktu untuk memperkirakan apa
yang mungkin terjadi beberapa menit lagi…” tanpa sadar aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“
Bu…kemana lagi sekarang? Macau? Ketemu Gayus dong!” khas Nindy.
Senyumku makin lebar sekarang, antara malu kepergok sedang melamun dan
takjub dengan kejeliannya.
“ Udah dong bu, ini kan jam-nya makan
siang…ngelamunnya di rumah aja! Katanya Axel nggak akan suka kalau kamu
meratapi kepergiannya, sekarang gimana ceritanya nih sampai bisa
ngelamun di keramaian?” kali ini Nuno yang menimpali. Tiba-tiba saja
terlintas di benakku kalau Nindy-Nuno bisa jadi pasangan yang sangat
serasi. Aku senyum lagi, masih dengan kesadaran yang entah dimana.
“ Beuuuh…senyam senyum sendiri lagi, keterlaluan!” Nuno geleng-geleng kepala.
“
Eh, iya maaf…tadi aku inget Axel, tapi bukan yang sedih-sedih kok,
bukan meratapi! Hadoooh kalian ini ya, kan sudah bukan masanya meratap…”
“ Terus kenapa dong?” tanya Mega sambil mengunyah pempek-nya.
“
Mmmm…tadi tuh aku tiba-tiba aja nggak enak hati, nggak tahu kenapa.
Sebenernya ini kebiasaan lama sih, dari SMA udah sering begitu. Dan
biasanya, setelah rasa nggak enak hati itu pergi, ada aja kejadian yang
nimpa aku atau orang-orang yang deket sama aku, semacam firasat gitu
lah. Tapi aku nggak selalu bisa ngerasain apa yang akan terjadi sama aku
atau sama siapapun yang dekat sama aku.”
“ Trus bagian mana yang ada senyum-senyumnya?” tanya Mega penasaran.
“
Ooh itu…dulu Axel sering bilang aku indikator kesialan…” hening, tapi
mata mereka saling menatap. “ Kok pada diem sih?” bibirku mengerucut.
Lalu sedetik kemudian mereka kompak tertawa terbahak-bahak. Alin malah
sampai kocar kacir ke toilet gara-gara tertawa sampai kepingin buang
air.
“ Hmmm bagus…puas kalian ya?!” tak ada yang menanggapi, semua
masih sibuk tertawa. Menertawakan aku tepatnya. Akhirnya aku pun ikut
tertawa bersama mereka. Perasaanku semakin tak enak, jangan-jangan
mereka berniat meneruskan sebutan Axel untukku itu, indikator kesialan,
ugh! sama sekali nggak ada positif-positifnya. Mereka tertawa diatas
kecemasanku.
***
Aku pulang setengah lunglai, stock opname
menguras tenagaku. Resiko kerja di bagian inventory. Begitu keluar
gedung, aku mengeluarkan isi tas plastik ungu yang ku tenteng sejak
tadi. Aku bermaksud mengganti high heels-ku dengan sandal teplek, the
most comfortable footwear. Sialnya begitu aku membungkuk, seseorang
terlambat mengerem langkahnya di belakangku. Brukkk! Tas-ku jatuh lebih
dulu, sementara aku masih dalam proses melayang menuju paving blok.
Tiba-tiba saja seperti Tuhan sengaja melambatkan laju waktu, hingga aku
benar-benar bisa merasakan sensasi janggal yang memacu sedikit
adrenalin, menikmati proses kejatuhanku (secara fisik). Wah, jatuh nih, jatuh nih…
Tepat
tiga senti sebelum keningku benar-benar ‘say hello’ pada paving blok di
depan gedung kantorku, aku melihat sepasang telapak tangan menghadap
keatas memosisikan dirinya sedemikian rupa hingga berhasil menghalangi
keningku sampai ke tujuan yang tak di inginkan itu. Masih dalam waktu
yang bergerak sangat lambat, aku menyadari yang terjadi dan mengucap
dalam hati, Alhamdulillah, selamat…
Kraaakkk!!!
Innalillahi, apa itu tadi? Nggak mungkin kening aku kan?
Kedua telapak tangan itu terasa hangat di keningku, tapi ada yang mengganjal. Apa itu kelingking?
Aku mengangkat wajahku, melihat wajah seseorang dengan semburat biru kesakitan. Ya Tuhan, Pak Raga! Mati aku…
“Masya
Alloh Pak, tangannya nggak apa-apa kan? Mana yang sakit? Kelingking,
iya?” secara refleks aku meraup tangannya yang yang menyangga keningku
tadi, mengurutnya dengan panik campur rasa bersalah. Sesekali aku
meniup-niup kelingkingnya sambil berdoa, membaca apa saja yang mampu
kuingat. Aku menangkap sebuah senyum dari kepala yang miring 23 derajat
dan mata yang menatapku tak berkedip. Mungkin dimatanya aku tampak
seperti dukun yang sedang merapal mantra. Aku menundukkan kembali
pandanganku, berusaha konsentrasi pada kelingkingnya, berharap bisa
meringankan sakitnya.
“ Hey, it’s okay…I’m okay…” mataku
kembali bersibobrok dengan miliknya, dengan senyum tertahan-nya. Mungkin
sebenarnya dalam hati dia terpingkal-pingkal sambil berguling-guling di
lantai seperti emoticon yang ada di chat box melihat kepanikanku.
Aku
sedang memikirkan langkah yang tepat untuk menetralkan suasana yang
mulai terasa canggung itu -dengan tangan kami yang saling menggenggam,
jelas tidak netral!- saat sebuah suara berat yang familiar dari
belakangku menginterupsi.
“ Maaf tadi saya nggak lihat Mbak, jadi
nggak sengaja nabrak…” aku menangkap sebersit sesal di dalam permintaan
maafnya, tapi entah kenapa aku mendadak merasa tidak nyaman. Suara itu…
Aku memutar tubuhku, dan terhenyak sedetik kemudian.
***
“ Jadi dia mantan kamu?” tanya Mega dengan volume suara tingkat 5 dan rasa penasaran jauh di atasnya.
“ Extended version, please…” Bagas menambahkan.
“
Hmmm…nggak mantan sih, Cuma dulu kita pernah deket sampai hampir
jadian. Dia kakak kelas aku di SMA, salah satu cowok populer gitu
deh...” Jawabku malas-malasan.
“ Terus kenapa nggak jadian?” tanya Mega lagi.
“ Dia punya pacar ternyata di sekolah lain, aku di labrak deh sama pacarnya…” bibirku mengerucut.
“
Axel bener…” tiba-tiba saja Nuno menimpali ceritaku, dengan tatapan
mata kosong, suara datar dan pernyataan yang menggantung di udara.
“ What?
“ tanyaku dengan nada menyelidik dan mata sedikit menyipit, untuk
memunculkan efek dramatis yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Semua
orang yang ada di meja menatap kearahnya. Disini aku baru menyadari
bahwa ketidaktahuan, penasaran dan curiga itu memiliki keterkaitan
emosional.
“ Indikator kesialan…”
Singkat, padat, jelas.
Yang terjadi kemudian hanyalah pengulangan menit-menit terakhir
istirahat kami siang kemarin. Déjà vu? Bukan. Ini lebih tepat dinamai
repetisi. Pengulangan nyata. Menyebalkan.
***
Kabar burung
mulai menyebar. Entah burung siapa yang berani menyebarkan kabar murahan
yang menyudutkan itu! Yang jelas, hampir satu gedung ini tahu kejadian
(hampir) french kiss dengan paving blok yang menimpaku tempo hari itu.
Kabar tersebut memberikan penekanan pada kejadian aku berusaha
meringankankan penderitaan kelingking si Bos dengan mengurutnya, mereka
bilang aku mebelainya. MEMBELAINYA. Yang benar saja! Lalu tatapan si Bos
yang kutaksir sedang menahan semburan ‘ketawa guling-guling di lantai’
itu, mereka bilang tatapannya seperti orang kasmaran. KASMARAN. Dan saat
aku mengalami momen canggung akibat jemari yang saling bertaut itu,
mereka bilang -dan aku benci sekali bagian yang terakhir ini- aku pandai
sekali memanfaatkan momentum kecelakaan itu untuk merebut simpati si
Bos. Ha! Sekalian saja bilang aku sengaja menjatuhkan diri di jarak
tangkap tangan si Bos, untuk mencicipi rasanya ‘waktu berhenti’ seperti
yang sedang inn di semua sinetron stripping. Ugh!
Kemana
kaki ini melangkah, tatapan ‘tak lazim’ mengikuti, bisik-bisik
bermuatan caci dan iri menyertai. Ke ruang fotocopy, ke kamar mandi,
bahkan ke warehouse -tempatku berlindung dari segala gunjingan
wanita, tempat yang dihuni populasi homogen berkromosom Y- telingaku
tidak juga dingin.
“ Non, gosipnya dahsyat lho…” ujar Mas Agung saat menemaniku menghitung stok barang, mencocokan data dengan nyata.
“
Allohu Akbar…nyampe juga kesini? Ckckck, kirain cowok nggak doyan
gosip!” jawabku kecewa, merasa dikhianati oleh para pekerja yang
mengandalkan kekuatan fisik itu.
“ Hoho…jangan salah, disini gosip
justru kayak bensin tumpah kena percik pemantik, membara!” bahuku
melorot seketika, tak sangka.
“ Separah apa?” tanyaku sambil terus menghitung.
“
Panah merah ke kiri. Tapi santai Non, nggak semua terhasut kok.
Cewek-cewek ganjen itu cuma iri sama kamu, berani-beraninya orang baru
merebut pujaan hati mereka! Biarin aja, nanti juga hilang sendiri.”
Bibirnya membentuk seulas senyum yang cukup menentramkan. Rupa-rupanya
dia mencium ketidaknyamananku atas situasi ini.
“ Aku nggak pernah
berusaha merebut Pak Raga. Bahkan berniat pun nggak! Bagaimana bisa
mereka setega itu fitnah aku? Mereka tahu aku Janda, baru ditinggal mati
dua bulan…mana mungkin aku tebar pesona secepat itu? Masa idah saja
belum selesai!” Aku mulai histeris.
“ Kenapa mereka…” air mata
yang merebak di pelupuk mataku mulai menyesakkan, menghentikan semburan
kekesalanku. Mereka pun berjatuhan satu per satu. Aku menunduk,
menghindari tatapan pegawai lain. Mas Agung menyodoriku sehelai
saputangan yang terlihat seperti baru dicuci, aku menerimanya, menekan
kedua mataku dengan saputangan itu, berharap dapat menghentikan
alirannya, tapi tidak sampai buang ingus disana. Aku tidak se-‘sinetron’
itu. Dan kulihat dia menghela nafas lega.
Tak kubiarkan air mata
itu mempermalukannku di depan yang lain-lain. Aku menguatkan hati,
melanjutkan pekerjaanku yang belum tuntas. Mas Agung menemaniku sampai
akhir, seperti biasanya, juga karena itu memang kewajibannya. Dia pintar
sekali mengalihkan perhatianku. Bercerita ini itu yang tidak terlalu
penting, kadang tidak terlalu lucu, tapi toh aku tertawa juga. Jadi
kunikmati saja, hitung-hitung cuti sebentar dari gunjingan yang
menderaku di gedung sebelah.
***
Di Cafetaria, teman-teman
berusaha menjaga emosiku dengan tidak membahas gosip itu. Aku tahu lidah
mereka gatal sekali untuk membicarakannya, tapi kepedulian mereka
terhadap kesehatan psikologis mengalahkan godaan itu. Aku masih
merasakan tatapan dan bisik-bisik tak lazim itu, tapi mereka tidak
membiarkannya terlalu menggangguku. Dan aku sangat menghargai usaha
mereka, walau beberapa terasa konyol. Mengalihkan kesedihanku dengan
kompetisi muka jelek, yang paling jelek mendapatkan satu gelas
Cappuccino gratis. Dan tebak siapa pemenangnya? AKU tentu saja! Kurang
ajar betul mereka itu. Tapi kekurang-ajaran mereka itulah yang membuatku
bagai terhisap lebih dalam pada pusaran pertemanan mereka. Bahkan aku
kini bersama mereka menjadi materi pusaran itu sendiri, bukan lagi benda
asing yang terjebak di dalamnya.
Sayangnya pemeran utama pria
dalam pemberitaan menyudutkan itu tak bisa diajak kompromi. Melangkah
penuh percaya diri dengan satu tujuan pasti, meja kami. Lalu menyempit
lagi, kursi tempatku bersandar lemas dan malas. Aku menangkap tatapan warning
dari teman-temanku. Aku menegakkan badan sambil menelan ludah, glek!
Kurasa mereka bisa mendengar itu, atau menangkap pergerakan berat di
tenggorokanku.
“ Guys, boleh pinjam Joana sebentar?” tanyanya santai.
“ Dikembaliin utuh ya Pak…” jawab Alin sambil nyengir.
“ I promise you that…”
Ia
membawaku ke meja kosong, tak jauh dari tempat dudukku sebelumnya. Aku
mengikutinya, pasrah. Apalagi yang akan menantiku setelah ini? Setiap
tatapan terasa menghakimi.
“ Besok kamu ikut saya ke Bogor ya, ada sedikit masalah dan saya akan butuh kamu disana. Kamu bisa sekalian survey keadaan warehouse disana. Jam tujuh pagi berangkat dari sini. Kita pakai mobil kantor, sekalian Figo -Team Leader- nge-cek gimmick disana, katanya banyak selisih. Bisa kan?” tak ada celah, instruksi mutlak.
“
Positive.” Jawabku seraya mengangguk, setelah mengabrasi batu khayal
yang mendekam di tenggorokan hingga menekan pita suaraku. Well,
setidaknya kami tidak akan ‘hanya’ berdua di perjalanan nanti. Lagipula
ini kesempatan, aku memang perlu menyamakan beberapa persepsi dengan
Mas Agung-nya Bogor. Selagi aku berpikir-pikir, ia pun melanjutkan.
“ Mungkin kita disana sekitar dua sampai tiga hari, bawa perbekalan yang cukup. Sekalian tolong minta Friska booking-in tiga single room
di hotel yang deket kantor sana ya, saya langsung ke Outlet sekarang.”
Dia mengangguk, mengisyaratkanku untuk bangkit dari tempat duduk dan
mengikutinya, lagi. Aku patuh.
“ Guys, saya kembaliin utuh…tapi
sepertinya sedikit shock, tolong dibantu…thanks ya!” dia tersenyum
dengan mata sedikit memohon -maaf dan bantuan, sepertinya- kemudian
berlalu dari hadapan kami, masih dengan langkah penuh percaya diri.
Entah memang bawaan pabrik atau demi membangun wibawa sebagai seorang
manajer.
Dan di berondong lah aku dengan ribuan pertanyaan mereka.
“ Kenapa bu? Si Bos bilang apa?”
“ Kamu diapain?”
“ Ada masalah Jo?”
Aku
mulai pulih dari kaget, bingung dan ketakutan akan efek di kemudian
hari. Bahuku semakin turun dan aku melorot di kursi. Aku menceritakan
instruksi-instruksinya. Mereka tertawa hambar.
“ Nggak bisa diajak kompromi nih si Bos…” Ujar Alin.
“
Kira-kira butuh berapa menit untuk membuat semua karyawan di gedung ini
tahu aku akan pergi ke Bogor sama Pak Raga dan nginep di hotel selama
dua sampai tiga hari?” tanyaku pasrah.
“ Well, mungkin
nggak sampai jam bubar. Kalian lihat nggak tadi si Winda? Dia kan
duduknya di belakang si Bos. Berlagak ngobrol santai sama cs-nya, tapi
telinganya gerak-gerak…apalagi kalau bukan CCD-CCG?!” Mega menanggapi.
“ What the hell is that?” tanya Nuno.
“ Curi-Curi Dengar, Cari-Cari Gosip!”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar