Rabu, 24 Juli 2013

Sunshine In The Rain - Part 3. Indikator Kesialan

Sudah hampir dua bulan aku bekerja di perusahaan ini, berteman dengan lima orang baru yang begitu mudahnya nge-blend dengan aku. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada mereka. Seolah Tuhan mengirimkan mereka khusus untuk membantuku bangkit dari kepedihan karena ditinggal Axel. Ada saja ulah mereka yang membuat kami tertawa setiap harinya. Sampai kadang aku merasa telah berkhianat. Bukankah seharusnya aku masih bersedih? Well, bukannya aku tidak sedih, tapi kenyataannya aku menjalani hari-hari dengan sangat ringan. Apa ini tidak normal?
Pekerjaanku cukup menyibukkan. Tak ada lagi waktu untuk meratap, sebetulnya memang aku tak ingin lagi meratapi kepergiannya. Axel takkan suka, sudah kubilang. Dan teman-teman baruku tak mengizinkan. Sedikit saja waktu luang, mereka selalu berusaha menyibukkan aku. Apalagi kalau mereka dapat info ada Launching novel baru di Toko Buku, niscaya aku orang pertama yang mereka hubungi. Well, mereka tahu aku gila baca, doyan sastra dan berharap suatu hari nanti menjadi bagian dari dunia itu. Mereka menghormati batasan-batasanku sebagai janda yang belum habis masa idah-nya. Mereka menghormati saat-saat aku ingin sendiri mengenang almarhum suamiku, Axel. Tapi diluar itu, tak pernah ada waktu yang terbuang percuma. Untungnya mereka bukan tipe orang yang suka clubbing, hura-hura, banci party atau melakukan hal-hal ajaib yang tak pernah ada dalam kamus hidupku. So far, aku merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka.
Siang ini seperti biasa kami berkumpul di Cafetaria, perasaanku tak enak. Sejenis kebiasaan lama yang tiba-tiba muncul. Dulu seringkali aku merasa sesak karena nggak enak hati tanpa tahu apa penyebabnya. Dan biasanya tidak lama berselang, ada sesuatu yang terjadi dan biasanya bukan hal positif. Entah itu terjadi pada diriku sendiri atau orang-orang yang dekat denganku secara emosional. Biasanya aku sangat terganggu, karena perasaan yang datangnya tiba-tiba itu pastinya merusak mood-ku saat itu. Tapi Axel malah bilang “ Senangnya punya pacar yang bisa berfungsi sebagai indikator, jadi aku punya sedikit waktu untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi beberapa menit lagi…” tanpa sadar aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“ Bu…kemana lagi sekarang? Macau? Ketemu Gayus dong!” khas Nindy. Senyumku makin lebar sekarang, antara malu kepergok sedang melamun dan takjub dengan kejeliannya.
“ Udah dong bu, ini kan jam-nya makan siang…ngelamunnya di rumah aja! Katanya Axel nggak akan suka kalau kamu meratapi kepergiannya, sekarang gimana ceritanya nih sampai bisa ngelamun di keramaian?” kali ini Nuno yang menimpali. Tiba-tiba saja terlintas di benakku kalau Nindy-Nuno bisa jadi pasangan yang sangat serasi. Aku senyum lagi, masih dengan kesadaran yang entah dimana.
“ Beuuuh…senyam senyum sendiri lagi, keterlaluan!” Nuno geleng-geleng kepala.
“ Eh, iya maaf…tadi aku inget Axel, tapi bukan yang sedih-sedih kok, bukan meratapi! Hadoooh kalian ini ya, kan sudah bukan masanya meratap…”
“ Terus kenapa dong?” tanya Mega sambil mengunyah pempek-nya.
“ Mmmm…tadi tuh aku tiba-tiba aja nggak enak hati, nggak tahu kenapa. Sebenernya ini kebiasaan lama sih, dari SMA udah sering begitu. Dan biasanya, setelah rasa nggak enak hati itu pergi, ada aja kejadian yang nimpa aku atau orang-orang yang deket sama aku, semacam firasat gitu lah. Tapi aku nggak selalu bisa ngerasain apa yang akan terjadi sama aku atau sama siapapun yang dekat sama aku.”
“ Trus bagian mana yang ada senyum-senyumnya?” tanya Mega penasaran.
“ Ooh itu…dulu Axel sering bilang aku indikator kesialan…” hening, tapi mata mereka saling menatap. “ Kok pada diem sih?” bibirku mengerucut. Lalu sedetik kemudian mereka kompak tertawa terbahak-bahak. Alin malah sampai kocar kacir ke toilet gara-gara tertawa sampai kepingin buang air.
“ Hmmm bagus…puas kalian ya?!” tak ada yang menanggapi, semua masih sibuk tertawa. Menertawakan aku tepatnya. Akhirnya aku pun ikut tertawa bersama mereka. Perasaanku semakin tak enak, jangan-jangan mereka berniat meneruskan sebutan Axel untukku itu, indikator kesialan, ugh! sama sekali nggak ada positif-positifnya. Mereka tertawa diatas kecemasanku.
***
Aku pulang setengah lunglai, stock opname menguras tenagaku. Resiko kerja di bagian inventory. Begitu keluar gedung, aku mengeluarkan isi tas plastik ungu yang ku tenteng sejak tadi. Aku bermaksud mengganti high heels-ku dengan sandal teplek, the most comfortable footwear. Sialnya begitu aku membungkuk, seseorang terlambat mengerem langkahnya di belakangku. Brukkk! Tas-ku jatuh lebih dulu, sementara aku masih dalam proses melayang menuju paving blok. Tiba-tiba saja seperti Tuhan sengaja melambatkan laju waktu, hingga aku benar-benar bisa merasakan sensasi janggal yang memacu sedikit adrenalin, menikmati proses kejatuhanku (secara fisik). Wah, jatuh nih, jatuh nih…
Tepat tiga senti sebelum keningku benar-benar ‘say hello’ pada paving blok di depan gedung kantorku, aku melihat sepasang telapak tangan menghadap keatas memosisikan dirinya sedemikian rupa hingga berhasil menghalangi keningku sampai ke tujuan yang tak di inginkan itu. Masih dalam waktu yang bergerak sangat lambat, aku menyadari yang terjadi dan mengucap dalam hati, Alhamdulillah, selamat
Kraaakkk!!!
Innalillahi, apa itu tadi? Nggak mungkin kening aku kan?
Kedua telapak tangan itu terasa hangat di keningku, tapi ada yang mengganjal. Apa itu kelingking?
Aku mengangkat wajahku, melihat wajah seseorang dengan semburat biru kesakitan. Ya Tuhan, Pak Raga! Mati aku…
“Masya Alloh Pak, tangannya nggak apa-apa kan? Mana yang sakit? Kelingking, iya?” secara refleks aku meraup tangannya yang yang menyangga keningku tadi, mengurutnya dengan panik campur rasa bersalah. Sesekali aku meniup-niup kelingkingnya sambil berdoa, membaca apa saja yang mampu kuingat. Aku menangkap sebuah senyum dari kepala yang miring 23 derajat dan mata yang menatapku tak berkedip. Mungkin dimatanya aku tampak seperti dukun yang sedang merapal mantra. Aku menundukkan kembali pandanganku, berusaha konsentrasi pada kelingkingnya, berharap bisa meringankan sakitnya.
“ Hey, it’s okay…I’m okay…” mataku kembali bersibobrok dengan miliknya, dengan senyum tertahan-nya. Mungkin sebenarnya dalam hati dia terpingkal-pingkal sambil berguling-guling di lantai seperti emoticon yang ada di chat box melihat kepanikanku.
Aku sedang memikirkan langkah yang tepat untuk menetralkan suasana yang mulai terasa canggung itu -dengan tangan kami yang saling menggenggam, jelas tidak netral!- saat sebuah suara berat yang familiar dari belakangku menginterupsi.
“ Maaf tadi saya nggak lihat Mbak, jadi nggak sengaja nabrak…” aku menangkap sebersit sesal di dalam permintaan maafnya, tapi entah kenapa aku mendadak merasa tidak nyaman. Suara itu…
Aku memutar tubuhku, dan terhenyak sedetik kemudian.
***
“ Jadi dia mantan kamu?” tanya Mega dengan volume suara tingkat 5 dan rasa penasaran jauh di atasnya.
Extended version, please…” Bagas menambahkan.
“ Hmmm…nggak mantan sih, Cuma dulu kita pernah deket sampai hampir jadian. Dia kakak kelas aku di SMA, salah satu cowok populer gitu deh...” Jawabku malas-malasan.
“ Terus kenapa nggak jadian?” tanya Mega lagi.
“ Dia punya pacar ternyata di sekolah lain, aku di labrak deh sama pacarnya…” bibirku mengerucut.
“ Axel bener…” tiba-tiba saja Nuno menimpali ceritaku, dengan tatapan mata kosong, suara datar dan pernyataan yang menggantung di udara.
What? “ tanyaku dengan nada menyelidik dan mata sedikit menyipit, untuk memunculkan efek dramatis yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Semua orang yang ada di meja menatap kearahnya. Disini aku baru menyadari bahwa ketidaktahuan, penasaran dan curiga itu memiliki keterkaitan emosional.
“ Indikator kesialan…”
Singkat, padat, jelas. Yang terjadi kemudian hanyalah pengulangan menit-menit terakhir istirahat kami siang kemarin. Déjà vu? Bukan. Ini lebih tepat dinamai repetisi. Pengulangan nyata. Menyebalkan.
***
Kabar burung mulai menyebar. Entah burung siapa yang berani menyebarkan kabar murahan yang menyudutkan itu! Yang jelas, hampir satu gedung ini tahu kejadian (hampir) french kiss dengan paving blok yang menimpaku tempo hari itu. Kabar tersebut memberikan penekanan pada kejadian aku berusaha meringankankan penderitaan kelingking si Bos dengan mengurutnya, mereka bilang aku mebelainya. MEMBELAINYA. Yang benar saja! Lalu tatapan si Bos yang kutaksir sedang menahan semburan ‘ketawa guling-guling di lantai’ itu, mereka bilang tatapannya seperti orang kasmaran. KASMARAN. Dan saat aku mengalami momen canggung akibat jemari yang saling bertaut itu, mereka bilang -dan aku benci sekali bagian yang terakhir ini- aku pandai sekali memanfaatkan momentum kecelakaan itu untuk merebut simpati si  Bos. Ha! Sekalian saja bilang aku sengaja menjatuhkan diri di jarak tangkap tangan si Bos, untuk mencicipi rasanya ‘waktu berhenti’ seperti yang sedang inn di semua sinetron stripping. Ugh!
Kemana kaki ini melangkah, tatapan ‘tak lazim’ mengikuti, bisik-bisik bermuatan caci dan iri menyertai. Ke ruang fotocopy, ke kamar mandi, bahkan ke warehouse -tempatku berlindung dari segala gunjingan wanita, tempat yang dihuni populasi homogen berkromosom Y- telingaku tidak juga dingin.
“ Non, gosipnya dahsyat lho…” ujar Mas Agung saat menemaniku menghitung stok barang, mencocokan data dengan nyata.
“ Allohu Akbar…nyampe juga kesini? Ckckck, kirain cowok nggak doyan gosip!” jawabku kecewa, merasa dikhianati oleh para pekerja yang mengandalkan kekuatan fisik itu.
“ Hoho…jangan salah, disini gosip justru kayak bensin tumpah kena percik pemantik, membara!” bahuku melorot seketika, tak sangka.
“ Separah apa?” tanyaku sambil terus menghitung.
“ Panah merah ke kiri. Tapi santai Non, nggak semua terhasut kok. Cewek-cewek ganjen itu cuma iri sama kamu, berani-beraninya orang baru merebut pujaan hati mereka! Biarin aja, nanti juga hilang sendiri.” Bibirnya membentuk seulas senyum yang cukup menentramkan. Rupa-rupanya dia mencium ketidaknyamananku atas situasi ini.
“ Aku nggak pernah berusaha merebut Pak Raga. Bahkan berniat pun nggak! Bagaimana bisa mereka setega itu fitnah aku? Mereka tahu aku Janda, baru ditinggal mati dua bulan…mana mungkin aku tebar pesona secepat itu? Masa idah saja belum selesai!” Aku mulai histeris.
“ Kenapa mereka…” air mata yang merebak di pelupuk mataku mulai menyesakkan, menghentikan semburan kekesalanku. Mereka pun berjatuhan satu per satu. Aku menunduk, menghindari tatapan pegawai lain. Mas Agung menyodoriku sehelai saputangan yang terlihat seperti baru dicuci, aku menerimanya, menekan kedua mataku dengan saputangan itu, berharap dapat menghentikan alirannya, tapi tidak sampai buang ingus disana. Aku tidak se-‘sinetron’ itu. Dan kulihat dia menghela nafas lega.
Tak kubiarkan air mata itu mempermalukannku di depan yang lain-lain. Aku menguatkan hati, melanjutkan pekerjaanku yang belum tuntas. Mas Agung menemaniku sampai akhir, seperti biasanya, juga karena itu memang kewajibannya. Dia pintar sekali mengalihkan perhatianku. Bercerita ini itu yang tidak terlalu penting, kadang tidak terlalu lucu, tapi toh aku tertawa juga. Jadi kunikmati saja, hitung-hitung cuti sebentar dari gunjingan yang menderaku di gedung sebelah.
***
Di Cafetaria, teman-teman berusaha menjaga emosiku dengan tidak membahas gosip itu. Aku tahu lidah mereka gatal sekali untuk membicarakannya, tapi kepedulian mereka terhadap kesehatan psikologis mengalahkan godaan itu. Aku masih merasakan tatapan dan bisik-bisik tak lazim itu, tapi mereka tidak membiarkannya terlalu menggangguku. Dan aku sangat menghargai usaha mereka, walau beberapa terasa konyol. Mengalihkan kesedihanku dengan kompetisi muka jelek, yang paling jelek mendapatkan satu gelas Cappuccino gratis. Dan tebak siapa pemenangnya? AKU tentu saja! Kurang ajar betul mereka itu. Tapi kekurang-ajaran mereka itulah yang membuatku bagai terhisap lebih dalam pada pusaran pertemanan mereka. Bahkan aku kini bersama mereka menjadi materi pusaran itu sendiri, bukan lagi benda asing yang terjebak di dalamnya.
Sayangnya pemeran utama pria dalam pemberitaan menyudutkan itu tak bisa diajak kompromi. Melangkah penuh percaya diri dengan satu tujuan pasti, meja kami. Lalu menyempit lagi, kursi tempatku bersandar lemas dan malas. Aku menangkap tatapan warning dari teman-temanku. Aku menegakkan badan sambil menelan ludah, glek! Kurasa mereka bisa mendengar itu, atau menangkap pergerakan berat di tenggorokanku.
“ Guys, boleh pinjam Joana sebentar?” tanyanya santai.
“ Dikembaliin utuh ya Pak…” jawab Alin sambil nyengir.
I promise you that…”
Ia membawaku ke meja kosong, tak jauh dari tempat dudukku sebelumnya. Aku mengikutinya, pasrah. Apalagi yang akan menantiku setelah ini? Setiap tatapan terasa  menghakimi.
“ Besok kamu ikut saya ke Bogor ya, ada sedikit masalah dan saya akan butuh kamu disana. Kamu bisa sekalian survey keadaan warehouse disana. Jam tujuh pagi berangkat dari sini. Kita pakai mobil kantor, sekalian Figo -Team Leader- nge-cek gimmick disana, katanya banyak selisih. Bisa kan?” tak ada celah, instruksi mutlak.
“ Positive.” Jawabku seraya mengangguk, setelah mengabrasi batu khayal yang mendekam di tenggorokan hingga menekan pita suaraku. Well, setidaknya kami tidak akan ‘hanya’ berdua di perjalanan nanti. Lagipula ini kesempatan, aku memang perlu menyamakan beberapa persepsi dengan Mas Agung-nya Bogor. Selagi aku berpikir-pikir, ia pun melanjutkan.
“  Mungkin kita disana sekitar dua sampai tiga hari, bawa perbekalan yang cukup. Sekalian tolong minta Friska booking-in tiga single room di hotel yang deket kantor sana ya, saya langsung ke Outlet sekarang.” Dia mengangguk, mengisyaratkanku untuk bangkit dari tempat duduk dan mengikutinya, lagi. Aku patuh.
“ Guys, saya kembaliin utuh…tapi sepertinya sedikit shock, tolong dibantu…thanks ya!” dia tersenyum dengan mata sedikit memohon -maaf dan bantuan, sepertinya- kemudian berlalu dari hadapan kami, masih dengan langkah penuh percaya diri. Entah memang bawaan pabrik atau demi membangun wibawa sebagai seorang manajer.
Dan di berondong lah aku dengan ribuan pertanyaan mereka.
“ Kenapa bu? Si Bos bilang apa?”
“ Kamu diapain?”
“ Ada masalah Jo?”
Aku mulai pulih dari kaget, bingung dan ketakutan akan efek di kemudian hari. Bahuku semakin turun dan aku melorot di kursi. Aku menceritakan instruksi-instruksinya. Mereka tertawa hambar.
“ Nggak bisa diajak kompromi nih si Bos…” Ujar Alin.
“ Kira-kira butuh berapa menit untuk membuat semua karyawan di gedung ini tahu aku akan pergi ke Bogor sama Pak Raga dan nginep di hotel selama dua sampai tiga hari?” tanyaku pasrah.
Well, mungkin nggak sampai jam bubar. Kalian lihat nggak tadi si Winda? Dia kan duduknya di belakang si Bos. Berlagak ngobrol santai sama cs-nya, tapi telinganya gerak-gerak…apalagi kalau bukan CCD-CCG?!” Mega menanggapi.
What the hell is that?” tanya Nuno.
“ Curi-Curi Dengar, Cari-Cari Gosip!”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar