Rabu, 17 Februari 2010

Cintamorfosa part. 1 Kiera Osman

Aku tak pernah tahu kau mencintaiku atau tidak. Rasanya aku ingin kembali mengulang tahun-tahun kebersamaan kita. Kebersamaan yang dulu terasa seperti sayur pare buatan ibuku. Pahit, kesat, tapi aku kecanduan. Kebersamaan yang kupikir hanya kunikmati seorang diri. Memandangi punggungmu sudah cukup bagiku untuk beroleh rasa tenang, karena saat kau berbalik dan mata kita tak sengaja beradu pandang, hatiku jadi tak karuan. Momen seperti itu membuatku sibuk menenangkan keinginan-keinginan yang entah darimana datangnya, tapi tiba-tiba menyerbu. Ingin menatapmu lebih lama lagi, ingin menikmati getaran seperti tersengat belut listrik saat kau menimpukku dengan senyummu dan saat kau memanggil namaku, ada yang meletup-letup di dalam dadaku, hingga kadang aku khawatir kau dapat mendengar bunyi letupannya. Sampai pada saat perempuan itu melangkah dengan kepercayaan diri yang penuh di depanku, menghampirimu, lalu bergelayut manja di lenganmu. Musnah seketika keindahan yang kurasa.
KIERA OSMAN. Namanya saja sudah mentereng, orangnya apalagi. Aku tak heran melihat kamu begitu senangnya saat dia minta kamu temani ke acara “Student Nite”. Aku juga tak heran saat orang-orang mulai membicarakan kedekatan kalian. Lalu saat kamu bilang kalian resmi pacaran, aku sama sekali tak heran. Aku sakit. Rasanya ingin lari dari kenyataan bahwa mungkin aku takkan bisa lagi menikmati saat-saat mata kita tak sengaja beradu pandang, karena sekarang matamu hanya akan menatap dia. Menatap bidadari yang memiliki hatimu.
Terkadang aku membayangkan, andai seperti di sinetron, tiba-tiba ada orang kaya yang mengclaim bahwa aku ini anaknya yang dulu diculik orang atau tertukar di rumah sakit atau apapun lah itu kejadiannya, mungkin akan lebih mudah untukku. Aku bisa kabur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri sekalian untuk menjaga mata ini agar tidak melihat putri tunggal raja outlet di Bandung itu menggelayuti tanganmu. Bagaimana tidak, kita kuliah di tempat yang sama. Masih untung kita beda fakultas, aku tak tahu apa jadinya bila kita satu fakultas juga. Atau paling tidak ada hal lain yang bisa mengalihkan perhatianku, pikiranku dan bahkan hatiku dari kamu. Mungkin.
Kamu mulai jarang terlihat nongkrong di tempat biasa. Bidadari itukah yang menyita waktumu? Disatu sisi aku merasa sedikit lega tidak perlu melihat kemesraan kalian, tapi disisi lain aku kangen sekali sama kamu. Aku ingin melihat kamu dengan senyum itu lagi, menyapaku dan menawariku makanan apapun yang ada di tanganmu, selalu. Aku masih ingat, kamu paling suka makan kuwaci biji bunga matahari. Dan kebiasaan nyampahmu itu membuat si Mbah OB menjadi berang karena sampah kuwacimu menambah berat pekerjaannya. Dan si Mbah masih dendam sama kamu sampai sekarang.
Tanpa kehadiran kamu, perkuliahan membuatku sibuk. Mungkin lebih tepat dibilang aku menyibukkan diri dengan perkuliahanku. Perpustakaan, tugas kelompok, rapat himpunan mahasiswa, ketemu dosen atau sekedar kumpul dengan teman-teman di kantin belakang. Sesekali masih saja ada yang membicarakan kamu dan dia, sesak dada ini mendengarnya, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa. Terbiasa mencari kesibukan lain untuk menghindarkan telingaku dari pembicaraan mereka. Dua bulan, kupikir aku sudah berhasil melupakanmu. Setidaknya aku sudah tidak terlalu berharap ketemu kamu dan mencuri senyummu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar