Rabu, 24 Juli 2013

Sunshine In The Rain - Part 3. Indikator Kesialan

Sudah hampir dua bulan aku bekerja di perusahaan ini, berteman dengan lima orang baru yang begitu mudahnya nge-blend dengan aku. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada mereka. Seolah Tuhan mengirimkan mereka khusus untuk membantuku bangkit dari kepedihan karena ditinggal Axel. Ada saja ulah mereka yang membuat kami tertawa setiap harinya. Sampai kadang aku merasa telah berkhianat. Bukankah seharusnya aku masih bersedih? Well, bukannya aku tidak sedih, tapi kenyataannya aku menjalani hari-hari dengan sangat ringan. Apa ini tidak normal?
Pekerjaanku cukup menyibukkan. Tak ada lagi waktu untuk meratap, sebetulnya memang aku tak ingin lagi meratapi kepergiannya. Axel takkan suka, sudah kubilang. Dan teman-teman baruku tak mengizinkan. Sedikit saja waktu luang, mereka selalu berusaha menyibukkan aku. Apalagi kalau mereka dapat info ada Launching novel baru di Toko Buku, niscaya aku orang pertama yang mereka hubungi. Well, mereka tahu aku gila baca, doyan sastra dan berharap suatu hari nanti menjadi bagian dari dunia itu. Mereka menghormati batasan-batasanku sebagai janda yang belum habis masa idah-nya. Mereka menghormati saat-saat aku ingin sendiri mengenang almarhum suamiku, Axel. Tapi diluar itu, tak pernah ada waktu yang terbuang percuma. Untungnya mereka bukan tipe orang yang suka clubbing, hura-hura, banci party atau melakukan hal-hal ajaib yang tak pernah ada dalam kamus hidupku. So far, aku merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka.
Siang ini seperti biasa kami berkumpul di Cafetaria, perasaanku tak enak. Sejenis kebiasaan lama yang tiba-tiba muncul. Dulu seringkali aku merasa sesak karena nggak enak hati tanpa tahu apa penyebabnya. Dan biasanya tidak lama berselang, ada sesuatu yang terjadi dan biasanya bukan hal positif. Entah itu terjadi pada diriku sendiri atau orang-orang yang dekat denganku secara emosional. Biasanya aku sangat terganggu, karena perasaan yang datangnya tiba-tiba itu pastinya merusak mood-ku saat itu. Tapi Axel malah bilang “ Senangnya punya pacar yang bisa berfungsi sebagai indikator, jadi aku punya sedikit waktu untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi beberapa menit lagi…” tanpa sadar aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“ Bu…kemana lagi sekarang? Macau? Ketemu Gayus dong!” khas Nindy. Senyumku makin lebar sekarang, antara malu kepergok sedang melamun dan takjub dengan kejeliannya.
“ Udah dong bu, ini kan jam-nya makan siang…ngelamunnya di rumah aja! Katanya Axel nggak akan suka kalau kamu meratapi kepergiannya, sekarang gimana ceritanya nih sampai bisa ngelamun di keramaian?” kali ini Nuno yang menimpali. Tiba-tiba saja terlintas di benakku kalau Nindy-Nuno bisa jadi pasangan yang sangat serasi. Aku senyum lagi, masih dengan kesadaran yang entah dimana.
“ Beuuuh…senyam senyum sendiri lagi, keterlaluan!” Nuno geleng-geleng kepala.
“ Eh, iya maaf…tadi aku inget Axel, tapi bukan yang sedih-sedih kok, bukan meratapi! Hadoooh kalian ini ya, kan sudah bukan masanya meratap…”
“ Terus kenapa dong?” tanya Mega sambil mengunyah pempek-nya.
“ Mmmm…tadi tuh aku tiba-tiba aja nggak enak hati, nggak tahu kenapa. Sebenernya ini kebiasaan lama sih, dari SMA udah sering begitu. Dan biasanya, setelah rasa nggak enak hati itu pergi, ada aja kejadian yang nimpa aku atau orang-orang yang deket sama aku, semacam firasat gitu lah. Tapi aku nggak selalu bisa ngerasain apa yang akan terjadi sama aku atau sama siapapun yang dekat sama aku.”
“ Trus bagian mana yang ada senyum-senyumnya?” tanya Mega penasaran.
“ Ooh itu…dulu Axel sering bilang aku indikator kesialan…” hening, tapi mata mereka saling menatap. “ Kok pada diem sih?” bibirku mengerucut. Lalu sedetik kemudian mereka kompak tertawa terbahak-bahak. Alin malah sampai kocar kacir ke toilet gara-gara tertawa sampai kepingin buang air.
“ Hmmm bagus…puas kalian ya?!” tak ada yang menanggapi, semua masih sibuk tertawa. Menertawakan aku tepatnya. Akhirnya aku pun ikut tertawa bersama mereka. Perasaanku semakin tak enak, jangan-jangan mereka berniat meneruskan sebutan Axel untukku itu, indikator kesialan, ugh! sama sekali nggak ada positif-positifnya. Mereka tertawa diatas kecemasanku.
***
Aku pulang setengah lunglai, stock opname menguras tenagaku. Resiko kerja di bagian inventory. Begitu keluar gedung, aku mengeluarkan isi tas plastik ungu yang ku tenteng sejak tadi. Aku bermaksud mengganti high heels-ku dengan sandal teplek, the most comfortable footwear. Sialnya begitu aku membungkuk, seseorang terlambat mengerem langkahnya di belakangku. Brukkk! Tas-ku jatuh lebih dulu, sementara aku masih dalam proses melayang menuju paving blok. Tiba-tiba saja seperti Tuhan sengaja melambatkan laju waktu, hingga aku benar-benar bisa merasakan sensasi janggal yang memacu sedikit adrenalin, menikmati proses kejatuhanku (secara fisik). Wah, jatuh nih, jatuh nih…
Tepat tiga senti sebelum keningku benar-benar ‘say hello’ pada paving blok di depan gedung kantorku, aku melihat sepasang telapak tangan menghadap keatas memosisikan dirinya sedemikian rupa hingga berhasil menghalangi keningku sampai ke tujuan yang tak di inginkan itu. Masih dalam waktu yang bergerak sangat lambat, aku menyadari yang terjadi dan mengucap dalam hati, Alhamdulillah, selamat
Kraaakkk!!!
Innalillahi, apa itu tadi? Nggak mungkin kening aku kan?
Kedua telapak tangan itu terasa hangat di keningku, tapi ada yang mengganjal. Apa itu kelingking?
Aku mengangkat wajahku, melihat wajah seseorang dengan semburat biru kesakitan. Ya Tuhan, Pak Raga! Mati aku…
“Masya Alloh Pak, tangannya nggak apa-apa kan? Mana yang sakit? Kelingking, iya?” secara refleks aku meraup tangannya yang yang menyangga keningku tadi, mengurutnya dengan panik campur rasa bersalah. Sesekali aku meniup-niup kelingkingnya sambil berdoa, membaca apa saja yang mampu kuingat. Aku menangkap sebuah senyum dari kepala yang miring 23 derajat dan mata yang menatapku tak berkedip. Mungkin dimatanya aku tampak seperti dukun yang sedang merapal mantra. Aku menundukkan kembali pandanganku, berusaha konsentrasi pada kelingkingnya, berharap bisa meringankan sakitnya.
“ Hey, it’s okay…I’m okay…” mataku kembali bersibobrok dengan miliknya, dengan senyum tertahan-nya. Mungkin sebenarnya dalam hati dia terpingkal-pingkal sambil berguling-guling di lantai seperti emoticon yang ada di chat box melihat kepanikanku.
Aku sedang memikirkan langkah yang tepat untuk menetralkan suasana yang mulai terasa canggung itu -dengan tangan kami yang saling menggenggam, jelas tidak netral!- saat sebuah suara berat yang familiar dari belakangku menginterupsi.
“ Maaf tadi saya nggak lihat Mbak, jadi nggak sengaja nabrak…” aku menangkap sebersit sesal di dalam permintaan maafnya, tapi entah kenapa aku mendadak merasa tidak nyaman. Suara itu…
Aku memutar tubuhku, dan terhenyak sedetik kemudian.
***
“ Jadi dia mantan kamu?” tanya Mega dengan volume suara tingkat 5 dan rasa penasaran jauh di atasnya.
Extended version, please…” Bagas menambahkan.
“ Hmmm…nggak mantan sih, Cuma dulu kita pernah deket sampai hampir jadian. Dia kakak kelas aku di SMA, salah satu cowok populer gitu deh...” Jawabku malas-malasan.
“ Terus kenapa nggak jadian?” tanya Mega lagi.
“ Dia punya pacar ternyata di sekolah lain, aku di labrak deh sama pacarnya…” bibirku mengerucut.
“ Axel bener…” tiba-tiba saja Nuno menimpali ceritaku, dengan tatapan mata kosong, suara datar dan pernyataan yang menggantung di udara.
What? “ tanyaku dengan nada menyelidik dan mata sedikit menyipit, untuk memunculkan efek dramatis yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Semua orang yang ada di meja menatap kearahnya. Disini aku baru menyadari bahwa ketidaktahuan, penasaran dan curiga itu memiliki keterkaitan emosional.
“ Indikator kesialan…”
Singkat, padat, jelas. Yang terjadi kemudian hanyalah pengulangan menit-menit terakhir istirahat kami siang kemarin. Déjà vu? Bukan. Ini lebih tepat dinamai repetisi. Pengulangan nyata. Menyebalkan.
***
Kabar burung mulai menyebar. Entah burung siapa yang berani menyebarkan kabar murahan yang menyudutkan itu! Yang jelas, hampir satu gedung ini tahu kejadian (hampir) french kiss dengan paving blok yang menimpaku tempo hari itu. Kabar tersebut memberikan penekanan pada kejadian aku berusaha meringankankan penderitaan kelingking si Bos dengan mengurutnya, mereka bilang aku mebelainya. MEMBELAINYA. Yang benar saja! Lalu tatapan si Bos yang kutaksir sedang menahan semburan ‘ketawa guling-guling di lantai’ itu, mereka bilang tatapannya seperti orang kasmaran. KASMARAN. Dan saat aku mengalami momen canggung akibat jemari yang saling bertaut itu, mereka bilang -dan aku benci sekali bagian yang terakhir ini- aku pandai sekali memanfaatkan momentum kecelakaan itu untuk merebut simpati si  Bos. Ha! Sekalian saja bilang aku sengaja menjatuhkan diri di jarak tangkap tangan si Bos, untuk mencicipi rasanya ‘waktu berhenti’ seperti yang sedang inn di semua sinetron stripping. Ugh!
Kemana kaki ini melangkah, tatapan ‘tak lazim’ mengikuti, bisik-bisik bermuatan caci dan iri menyertai. Ke ruang fotocopy, ke kamar mandi, bahkan ke warehouse -tempatku berlindung dari segala gunjingan wanita, tempat yang dihuni populasi homogen berkromosom Y- telingaku tidak juga dingin.
“ Non, gosipnya dahsyat lho…” ujar Mas Agung saat menemaniku menghitung stok barang, mencocokan data dengan nyata.
“ Allohu Akbar…nyampe juga kesini? Ckckck, kirain cowok nggak doyan gosip!” jawabku kecewa, merasa dikhianati oleh para pekerja yang mengandalkan kekuatan fisik itu.
“ Hoho…jangan salah, disini gosip justru kayak bensin tumpah kena percik pemantik, membara!” bahuku melorot seketika, tak sangka.
“ Separah apa?” tanyaku sambil terus menghitung.
“ Panah merah ke kiri. Tapi santai Non, nggak semua terhasut kok. Cewek-cewek ganjen itu cuma iri sama kamu, berani-beraninya orang baru merebut pujaan hati mereka! Biarin aja, nanti juga hilang sendiri.” Bibirnya membentuk seulas senyum yang cukup menentramkan. Rupa-rupanya dia mencium ketidaknyamananku atas situasi ini.
“ Aku nggak pernah berusaha merebut Pak Raga. Bahkan berniat pun nggak! Bagaimana bisa mereka setega itu fitnah aku? Mereka tahu aku Janda, baru ditinggal mati dua bulan…mana mungkin aku tebar pesona secepat itu? Masa idah saja belum selesai!” Aku mulai histeris.
“ Kenapa mereka…” air mata yang merebak di pelupuk mataku mulai menyesakkan, menghentikan semburan kekesalanku. Mereka pun berjatuhan satu per satu. Aku menunduk, menghindari tatapan pegawai lain. Mas Agung menyodoriku sehelai saputangan yang terlihat seperti baru dicuci, aku menerimanya, menekan kedua mataku dengan saputangan itu, berharap dapat menghentikan alirannya, tapi tidak sampai buang ingus disana. Aku tidak se-‘sinetron’ itu. Dan kulihat dia menghela nafas lega.
Tak kubiarkan air mata itu mempermalukannku di depan yang lain-lain. Aku menguatkan hati, melanjutkan pekerjaanku yang belum tuntas. Mas Agung menemaniku sampai akhir, seperti biasanya, juga karena itu memang kewajibannya. Dia pintar sekali mengalihkan perhatianku. Bercerita ini itu yang tidak terlalu penting, kadang tidak terlalu lucu, tapi toh aku tertawa juga. Jadi kunikmati saja, hitung-hitung cuti sebentar dari gunjingan yang menderaku di gedung sebelah.
***
Di Cafetaria, teman-teman berusaha menjaga emosiku dengan tidak membahas gosip itu. Aku tahu lidah mereka gatal sekali untuk membicarakannya, tapi kepedulian mereka terhadap kesehatan psikologis mengalahkan godaan itu. Aku masih merasakan tatapan dan bisik-bisik tak lazim itu, tapi mereka tidak membiarkannya terlalu menggangguku. Dan aku sangat menghargai usaha mereka, walau beberapa terasa konyol. Mengalihkan kesedihanku dengan kompetisi muka jelek, yang paling jelek mendapatkan satu gelas Cappuccino gratis. Dan tebak siapa pemenangnya? AKU tentu saja! Kurang ajar betul mereka itu. Tapi kekurang-ajaran mereka itulah yang membuatku bagai terhisap lebih dalam pada pusaran pertemanan mereka. Bahkan aku kini bersama mereka menjadi materi pusaran itu sendiri, bukan lagi benda asing yang terjebak di dalamnya.
Sayangnya pemeran utama pria dalam pemberitaan menyudutkan itu tak bisa diajak kompromi. Melangkah penuh percaya diri dengan satu tujuan pasti, meja kami. Lalu menyempit lagi, kursi tempatku bersandar lemas dan malas. Aku menangkap tatapan warning dari teman-temanku. Aku menegakkan badan sambil menelan ludah, glek! Kurasa mereka bisa mendengar itu, atau menangkap pergerakan berat di tenggorokanku.
“ Guys, boleh pinjam Joana sebentar?” tanyanya santai.
“ Dikembaliin utuh ya Pak…” jawab Alin sambil nyengir.
I promise you that…”
Ia membawaku ke meja kosong, tak jauh dari tempat dudukku sebelumnya. Aku mengikutinya, pasrah. Apalagi yang akan menantiku setelah ini? Setiap tatapan terasa  menghakimi.
“ Besok kamu ikut saya ke Bogor ya, ada sedikit masalah dan saya akan butuh kamu disana. Kamu bisa sekalian survey keadaan warehouse disana. Jam tujuh pagi berangkat dari sini. Kita pakai mobil kantor, sekalian Figo -Team Leader- nge-cek gimmick disana, katanya banyak selisih. Bisa kan?” tak ada celah, instruksi mutlak.
“ Positive.” Jawabku seraya mengangguk, setelah mengabrasi batu khayal yang mendekam di tenggorokan hingga menekan pita suaraku. Well, setidaknya kami tidak akan ‘hanya’ berdua di perjalanan nanti. Lagipula ini kesempatan, aku memang perlu menyamakan beberapa persepsi dengan Mas Agung-nya Bogor. Selagi aku berpikir-pikir, ia pun melanjutkan.
“  Mungkin kita disana sekitar dua sampai tiga hari, bawa perbekalan yang cukup. Sekalian tolong minta Friska booking-in tiga single room di hotel yang deket kantor sana ya, saya langsung ke Outlet sekarang.” Dia mengangguk, mengisyaratkanku untuk bangkit dari tempat duduk dan mengikutinya, lagi. Aku patuh.
“ Guys, saya kembaliin utuh…tapi sepertinya sedikit shock, tolong dibantu…thanks ya!” dia tersenyum dengan mata sedikit memohon -maaf dan bantuan, sepertinya- kemudian berlalu dari hadapan kami, masih dengan langkah penuh percaya diri. Entah memang bawaan pabrik atau demi membangun wibawa sebagai seorang manajer.
Dan di berondong lah aku dengan ribuan pertanyaan mereka.
“ Kenapa bu? Si Bos bilang apa?”
“ Kamu diapain?”
“ Ada masalah Jo?”
Aku mulai pulih dari kaget, bingung dan ketakutan akan efek di kemudian hari. Bahuku semakin turun dan aku melorot di kursi. Aku menceritakan instruksi-instruksinya. Mereka tertawa hambar.
“ Nggak bisa diajak kompromi nih si Bos…” Ujar Alin.
“ Kira-kira butuh berapa menit untuk membuat semua karyawan di gedung ini tahu aku akan pergi ke Bogor sama Pak Raga dan nginep di hotel selama dua sampai tiga hari?” tanyaku pasrah.
Well, mungkin nggak sampai jam bubar. Kalian lihat nggak tadi si Winda? Dia kan duduknya di belakang si Bos. Berlagak ngobrol santai sama cs-nya, tapi telinganya gerak-gerak…apalagi kalau bukan CCD-CCG?!” Mega menanggapi.
What the hell is that?” tanya Nuno.
“ Curi-Curi Dengar, Cari-Cari Gosip!”
***

Sunshine In The Rain - Part 2. The Second Life

Semalaman aku berjuang untuk tidak menangis, mendoktrin pikiranku dengan motto yang ku dapat di bangku kuliah : I CAN IF I THINK I CAN. Aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa… Entah berapa ribu kali ku ulang kalimat tersebut demi mendapatkan kembali semangat hidup, lalu entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja kalimat-kalimat tersebut menyeretku ke alam mimpi dimana Axel menatapku dengan mata teduhnya sambil tersenyum di kejauhan, lalu berkata “ Yes sunshine, kamu pasti bisa!”
Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun -terbangun oleh mimpi lebih tepatnya- dan sedikit terheran-heran karena sejak kepergian Axel, aku tak pernah benar-benar bisa ‘tidur’ apalagi sampai bermimpi. Ini awal yang baik, kemenangan pertamaku mengatasi keterpurukan ini. Aku mulai menyiapkan perlengkapan hari pertama bekerja. Setelan kerja hitam polos dengan bros warna emas berbentuk bunga Tulip kesukaanku, hadiah dari Axel di menjelang sidang skripsi. Senyum Axel di mimpi tadi malam menjadi suntikan energi positif untukku memulai hari. Memulai hidupku yang ke dua.
Perlahan kuturuni tangga menuju ruang makan. Semua mata menatapku takjub bercampur dengan kaget, heran, bingung, tapi diatas semua itu, secercah kebahagiaan tampak jelas dari tatapan mereka. Bunda, Ayah dan adikku, Jody mendadak speechless. Aku jadi sedikit tak enak hati. Apa ada yang salah dengan penampilanku ya?
“ Mmm…kenapa sih pada ngeliatin Jo kayak gitu? Aneh ya pakai setelan kerja kayak gini? Atau bajunya yang nggak oke? Aku ganti aja kali ya?” Aku memecah keheningan, taku mereka merasa tak enak untuk berkomentar. Aku berbalik, kembali menaiki tangga menuju kamar.
“ JANGAAAAAN!!!” semua berteriak kompak, aku makin bingung. Akhirnya Bunda beranjak dari tempat duduknya, menghampiriku.
“ Anak Bunda cantik bangeeet! Kamu…mau mulai kerja?” tanya Bundanya ragu-ragu.
“ Iya Bunda…kan udah seminggu Jo izin, nggak enak kalau kelamaan…nanti malah nggak jadi diterima kerjanya. Bunda doain ya, biar hari pertama Jo kerja jadi lancar.”
“ Lho, Bunda kenapa malah nangis? Jo salah ya?” kebingunganku semakin menjadi-jadi.
“ Itu air mata bahagia sayang…kami semua bahagia melihat kamu bangkit. Kamu memang putri Ayah yang tangguh. Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini dengan baik. Sekarang, kita sarapan sama-sama yuk…” rasa haru sekaligus bersalah tiba-tiba menyeruak di dadaku. Ya Allah…aku sudah membuat keluargaku khawatir selama ini. Bantu hamba untuk bangkit Ya Rabb.
***
Kulangkahkan kakiku dengan sedikit ragu menuju gedung di hadapanku. Rasanya tak enak karena aku tidak bisa masuk kerja sesuai tanggal yang disepakati di kontrak. Aku khawatir dengan opini teman-teman kerjaku nanti. Apa mereka akan menerimaku? Atau menganggapku tidak profesional? Atau bahkan mereka tak peduli sama sekali? Lututku sedikit gemetar saat menaiki tangga menuju Lobby, kepercayaan diriku mendadak luntur. Tiba-tiba saja seseorang menabrak bahu kananku hingga tas-ku terjatuh. Aku spontan merunduk bermaksud mengambilnya, tapi tangan lain sudah lebih dulu sampai di rantainya dan menyodorkannya padaku. Aku yakin dia bukan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas insiden itu, warna bajunya berbeda. Well, aku memang tidak melihat jelas, tapi sepertinya orang yang menabrakku langsung pergi begitu saja, atau mungkin dia tidak sadar kalau dia menabrak seseorang sampat tasnya terjatuh? Entahlah.
“Terima…kasih…” aku sedikit terhenyak, cepat-cepat kutarik nafas sedalam yang aku mampu. Aku mengenali sang penolong itu sebagai atasanku, orang yang meng-interview-ku waktu itu, orang yang menerimaku bekerja dan memberiku waktu untuk menenangkan diri, ya itu dia. Tapi aku benar-benar lupa kalau wajahnya sangat mengingatkanku pada Axel.
“ Schaadt, tahu nggak…tadi manajer yang ngewawancara aku mirip banget sama kamu lho…”
“ Masa sih? Muka aku pasaran dong?”
“ Hehehe…tepat sekali!”
“ Hmmm…seneng! Tapi awas aja kalau kamu jadi suka sama dia…”
Kenangan itu sedikit menyesakkan. Tanpa bisa ku kendalikan, sesuatu menggenang di pelupuk mataku. Air mata? Ya Tuhan, jangan sampai aku menangis lagi di tempat seperti ini. Aku kuat…aku kuat…aku kuat…aku kuat…aku kuat…
“ Mba? Nggak apa-apa kan?” Tuhan…mata ini, kenapa bisa begitu mirip? Tolong jangan runtuhkan tekadku di hari pertama aku membangunnya Tuhan…
“ Mba...? Hey, kamu…Joana? Ya, ya…kamu Joana Athalia kan? Aku nggak nyangka kamu masuk secepat ini lho! Kamu baik-baik aja kan? Oh, kita ke cafetaria dulu ya? Sepertinya kamu perlu minum sesuatu…”
“ Eh, tidak usah Pak, saya baik-baik saja kok. Lagipula ini kan hari pertama saya kerja, masa terlambat? Tidak enak dengan yang lain Pak.” Sekuat tenaga kudorong rasa sesak itu keluar dari hatiku. Aku tak boleh kalah.
“ Udah…nggak usah kaku begitu, ayo ikut saya, it’s an order!” dia menarik tenganku begitu saja seolah kami sudah kenal sejak lama dan aku hanya bisa pasrah. It’s an order dia bilang. Apa hal seperti ini masuk hitungan perintah kerja? Menemani bos minum? Atau dalam kasus ini, ditemani bos? Waktu kuliah Professional Development dulu kalau tidak salah, justru hal-hal seperti ini yang harus dihindari agar tidak di cap ‘unprofessional’. Bagaimana ini?.
RAGA. Namanya Raga. Aku berhasil membaca sekilas ID Card yang dijepitkan di saku kemejanya. Raga Narendra. Nama yang tidak berhasil aku ingat sepanjang perjalanan dari Lobby ke Cafetaria. Peristiwa seminggu yang lalu itu berpengaruh juga terhadap daya ingatku rupanya. Semoga tidak banyak yang hilang.
“ Teh manis panas?” tawarnya. Aku melihat ke sekelilingku. Kosong. Well, jam delapan pagi sudah sewajarnya Cafetaria kosong kan? Yang membuatku bingung, aku tak sadar kapan tepatnya kami sampai di Cafetaria ini? Tiba-tiba saja kami sudah duduk di meja paling luar. Fokus, Joana. Fokus.
“ Kopi hitam, kalau boleh.” Aku tak sempat berpikir panjang, itu yang pertama kali terlintas. Lagipula, aku kan bukan penggemar teh manis panas. Tidak, tanpa lemon. Tidak, semenjak Axel bilang tidak suka teh manis panas. Aku tidak suka semua yang tidak disukai Axel. Plagiat, dia bilang. Tapi menurutku, itu wujud kesediaanku untuk menjadi bagian dari dirinya. Untungnya, selera kami kurang lebih sama. Jadi tak terlalu banyak penambahan dalam daftar ‘tidak suka’-ku.
“ WOW!” Aku tak tahu pasti apakah ‘WOW’ itu merupakan ekspresi kekaguman, keterkejutan atau penasaran? Sepertinya yang ketiga lah yang paling mungkin. Kalau begitu aku harus siap-siap dengan ‘kenapa?’ yang mungkin akan ditanyakannya setelah memesan kopi hitam-ku.
“ Boleh tahu kenapa?” aku mengerutkan alis, pura-pura tidak paham. “Kopi hitam. Kenapa kopi hitam? Well, baru kali ini saya menemukan orang, perempuan, sedikit shock karena hampir jatuh ditabrak orang, minta kopi hitam untuk menenangkan diri.” Rasa penasaran yang terpancar jelas di wajahnya membuatku bingung harus menjawab apa. Aku mengangkat bahu, “ Itu yang pertama terlintas. ” Jawabku sambil sedikit menggelengkan kepala. Semoga dia percaya dan tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Interesting. Tapi kok saya nggak begitu puas ya sama jawaban kamu?” kali ini dia yang mengangkat bahu, tidak ingin memperpanjang. “ Sudahlah. By the way, kamu yakin sudah siap bekerja hari ini? Saya lihat kamu sedikit kurang fokus sejak insiden tabrakan di lobby tadi?” matanya menganalisa, aku menunduk. “ Kamu juga nggak banyak bicara…” karena dari tadi Bapak yang memonopoli pembicaraan, jawabku dalam hati. Lagipula, wajahnya yang mengingatkanku pada Axel-lah yang membuatku goyah, tadi pagi kan kakiku sudah tegap. “ Saya bisa kasih kamu perpanjangan waktu untuk recovery lho…mau?”
“ Oh, tidak perlu Pak. Saya sudah berusaha keras untuk bisa bangkit hari ini, saya tidak ingin semuanya menjadi sia-sia hanya karena insiden kecil,” aku menarik nafas dalam, mencuri jeda untuk memikirkan pernyataan terbaik yang bisa kuberikan. “ Memulai kembali dari awal rasanya akan lebih sulit untuk saya ketimbang meneruskan satu langkah lagi ke depan. Tidak ada orang yang ingin mengulang bagian terberat dari sebuah perjuangan bukan?” itu kalimat terpanjang yang ku ucapkan hari ini, bravo. Dan sesungguhnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang ku ucapkan barusan. Fokus. Fokus.
Atasanku menganggukkan kepalanya beberapa kali, entah untuk apa. Aku menyesap kopi-ku, tidak sepanas yang kuharapkan sayangnya. Tapi demi alasan kesopanan, aku menyesapnya lagi, dan lagi. Ia nampak sedang berpikir. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Tidak mau tahu, lebih tepatnya, toh bukan urusanku juga. Melihat cangkirku yang sudah kosong tiga perempatnya, ia bertanya “ Siap memasuki dunia kerja?” katanya sambil berdiri dengan isyarat mengajak pergi. Aku mengangguk sambil mengumpulkan semangat yang ternoda, lalu berjalan mengikutinya. Sedikit terlintas dalam benakku, Lho…dia kan belum bayar? Atau aku yang ke- ge er-an berharap di traktir? Tapi melihat langkahnya yang penuh percaya diri, aku berprasangka baik saja dia punya bill khusus yang ditagihkan setiap akhir bulan. Jadi aku tidak perlu bertanya, atau inisiatif membayar sendiri. Biarkan sajalah.
***
Debut-ku pagi ini cukup lancar. Pak Raga sendiri yang memperkenalkan aku pada semua karyawan di ruangan besar bersekat-sekat itu. Aku sendiri mendapat meja paling ujung sebelah kanan, dekat dengan pantry dan toilet. Great. Posisi strategis untuk orang yang doyan minum dan buang air.
Aku diterima bekerja di perusahaan ini sebagai staf Inventory Controller, Divisi Supply Chain. Tugasku, ya sesuai dengan namanya, mengontrol persediaan barang di gudang. Memenuhi kebutuhan barang yang diminta oleh Divisi Sales -yang di pimpin oleh Pak Raga- untuk di jual oleh mereka. Aku dititipkan oleh Divisiku -yang bermarkas di kantor pusat, Jakarta-  untuk menghandle lima area di Jawa Barat, beruntung sekali mereka menempatkanku di Bandung, di rumahku sendiri. Aku juga di perkenalkan kepada Kepala Gudang beserta admin-adminnya, karena memang nantinya pekerjaanku berhubungan dengan mereka. Aku mendapat partner yang lumayan helpful. Satu-satunya orang  yang kutemui di gudang, yang yang tatapannya tidak membuatku risih. Thanks God, apa jadinya kalau harus bekerja sama -setiap hari- dengan orang yang kesan pertamanya saja kurang enak. Yah, semoga saja kerjasamaku dengannya bisa berjalan selencar hari ini. Semoga.
Jam 12.00 waktunya makan siang. Aku tak begitu lapar. Memang sejak kepergian Axel, rasanya aku tak pernah lapar. Aku makan dua kali sehari hanya demi menjaga ketahanan tubuhku, bahkan seringkali aku tak menyadari apa yang ku makan. Aku hanya tak ingin semakin merepotkan keluargaku dengan keterpurukanku kemarin. Aku sedang berpikir-pikir untuk memanfaatkan waktu istirahatku atau tidak. Lalu tiba-tiba saja aku membayangkan Axel menjemputku untuk lunch bareng.
“ Joana…keluar yuk, maksi…maksi…” terdengar suara seorang perempuan. Aku mengalihkan pandanganku dari layar monitor. Pauline, tercetak di ID Card-nya yang kutatap sekilas. Ia tersenyum ramah, cantik dalam balutan busana kerja bernuansa peach corak bunga yang serasi dengan kulit putih oriental-nya. Aku membalas senyumnya, berharap senyumku seindah miliknya.
“ Ayo…tapi sebenarnya aku nggak begitu lapar sih…”
“ Lapar nggak lapar yang penting keluar, nggak baik berlama-lama di depan komputer, mata kan butuh refreshing juga. Kamu kan bisa pilih menu ringan atau sekedar minum atau icip-icip punyaku juga boleh kok, yuk?”
“ Hmmm, boleh deh…” aku memastikan pekerjaanku sudah di save, lalu beranjak dari kursiku. Rasanya aku mulai menyukai Pauline dengan gayanya yang supel, ceria dan persuasif. Aku terkesan dengan kemampuannya mengajak, dan tiba-tiba saja aku sudah berjalan dengannya menuju Cafetaria.
Sangat berbeda dengan keadaan tadi pagi, kali ini Cafearia penuh dengan karyawan kelaparan. Terlihat dari antrian yang cukup panjang, seperti undangan pernikahan di hotel mewah pada jam yang sama. Pauline membawaku ke sebuah meja bertuan. Dua laki-laki, satu perempuan.
“ Hey guys, kenalin nih temen baru aku…” ujar Paulin menjawab tanda tanya di muka mereka. Dan aku pun berinisiatif memperkenalkan diri.
“ Hai, aku Joana, panggil Jo aja boleh…”
“ Hai, aku Mega…”
“ Nindy…”
“ Bagas…”
“ Nuno…”
Masing-masing menyalamiku dengan semangat dan senyuman bersahabat. Nuno menarik kursi kosong di meja sebelah untukku. Kekhawatiranku akan tidak diterima mulai memudar. Mudah-mudahan aku bisa berteman dengan mereka.
“ Oke. Semuanya udah ngumpul, saatnya wisata kuliner…” kali ini Bagas menyelamatkan kami dari kecanggungan akibat keberadaan orang asing di tengah-tengah mereka, aku. Ia menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan, “ Kehormatan pertama akan di berikan pada…Joana! Silakan madam, mau pesan apa?” tangannya memegang bolpen dan secarik kertas, menunggu. Aku benar-benar tidak ingin makan sekarang, tapi aku tak mau mengecewakan teman baruku itu. Lalu aku ingat, tadi pagi aku sempat melihat-lihat daftar menu.
“ Coleslaw sama kopi hitam, please...” Jawabku.
“ Ouuw…asem dan pahit. Mudah-mudahan bukan refleksi hati kamu ya!” semua orang tertawa dan aku hanya bisa tersenyum sambil menelan ludah, tiba-tiba saja tenggorokanku terasa asam dan pahit. Bagas mungkin tidak akan mengira kalau kata-katanya sangat tepat, setidaknya untuk saat ini. Memori itu menghampiriku lagi. Petir, hujan, tangannya yang menggapai-gapai ke arahku, kata-kata terakhirnya, Tuhan…hujan hari itu telah meluruhkan rasa manis dalam hatiku, membilas warna dalam hidupku dan meninggalkan hitam disana. Hanya hitam. Aku masih tenggelam dalam lamunanku saat Pauline menggoyang-goyangkan tanganku.
“ Jo…Jo…Joana!” aku tergagap, lupa kalau aku sedang berada di tengah keramaian. Meja kami sudah penuh dengan pesanan teman-teman yang sempat samar kudengar, termasuk persananku. Berapa lama aku melamun tadi? “ Kamu baik-baik aja kan Jo? Kamu sakit?” empat pasang mata itu tampak khawatir.
“ Oh, maaf. Aku nggak apa-apa kok. Pesanannya udah sampe ya? Cepet banget…” jawabku.
“ Bukan pesenannya yang cepet banget, tapi kamu yang ‘pergi’-nya lama banget! Abis dari Hongkong ya bu? Dapet apa aja? Bagi-bagi dong, Cuma ceritanya juga boleh kok, kami siap mendengarkan episode petualangan kamu barusan…” well, kuakui itu cara yang sangat menarik untuk membuat seseorang bercerita. Sepertinya Nindy memiliki kelebihan dalam hal ‘interogasi cara halus’, next time aku harus mendapatkan ilmunya.  Aku menyesap kopi-ku, kurang panas seperti tadi pagi. Atau jangan-jangan lamunanku yang mempercepat penguapan panasnya? Sambil menyuapkan coleslaw ke mulutku, aku memutuskan untuk menceritakan ‘petualangan’-ku tadi pada mereka.
“ Pauline…”
“ Alin.” Ralatnya.
“ Oke. Alin…kamu tahu nggak seharusnya aku mulai kerja seminggu yang lalu?” tanyaku memulai cerita. Alin memiringkan kepalanya, bingung.
“ I…ya…terus?”
“ Alasannya?”
“ Hmm, waktu itu aku dengar kamu katanya kecelakaan motor, bener begitu?”
“ Iya, aku memang mengalami kecelakaan motor di daerah Lembang. Dan kecelakaan itu…” aku menghirup nafas dalam-dalam, memenuhi rongga paru-paruku dengan sebanyak mungkin oksigen, “ merenggut nyawa suamiku…” aku sedikit tercekat menyebut istilah itu. Belum lagi aku terbiasa menyebutkannya, aku sudah harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku telah kehilangannya.
Aku melihat berbagai macam ekspresi di wajah teman-teman baruku. Kaget, kasihan, tak percaya.
“ Ya ampun Jo…aku nggak tahu ceritanya sampai setragis itu. Aku pikir cuma kecelakaan biasa. I’m so sorry. Gimana kejadiannya bisa sampai kayak gitu?” Aku terdiam. Tiba-tiba saja aku tak siap menceritakan kejadian itu. Aku merasakan ledakan emosi di dalam diriku, perlahan-lahan menggetarkan tubuhku.
“ Jo, relax…kalau kamu belum siap, kamu nggak perlu cerita sekarang, kita ngerti kok…jangan sampai kepenasaran kita-kita ini malah memerparah luka kamu…” lagi-lagi Nindy. Aku merasa damai seketika.
“ Nggak apa-apa kok. Ini memang pertama kalinya aku cerita, tapi aku…” merarik nafas dalam lagi, “kuat. Ya, aku kuat kok…” Dan mengalirlah ceritaku tentang kejadian itu. Aku memusatkan pandanganku pada satu titik di dinding hijau pucat Cafetaria, mendapat sedikit ketenangan dari warnanya. Ditambah lagi Mega yang memegang erat tanganku selama aku bercerita, seolah menyalurkan kekuatan padaku. Aku benar-benar berharap mereka bisa jadi sahabat untukku. Sahabat tempat aku berbagi tawa dan tangis. Menggantikan sahabat paling setia-ku, Axel.
***

Sunshine In The Rain - Part 1. Love Doesn't Put an End To Love

Ingin ku ulang hari, Ingin ku perbaiki, Kau sangat ku butuhkan, Beraninya kau pergi dan tak kembali…
Di mana letak surga itu? Biar ku gantikan tempatmu denganku…
Adakah pantas surga itu? Biar ku temukan untuk bersamamu…
Apalah artinya hidup tanpa kekasihku…Percuma, ku ada di sini…

Setiap hari, lagu ini yang menemaniku di iPod, di PC, di mobil, dimana pun aku bisa mengakses musik, sengaja atau tidak, selalu lagu ini yang ku putar di urutan pertama. Sejak kejadian itu, memang lagu ini yang dengan tepat melukiskan hatiku. Seperti terselimuti abu vulkanik gunung Merapi, hanya hitam yang tersisa di hidupku. Aku kehilangan warna, aku kehilangan rasa. Apapun terasa pahit. Aku kehilangan dia. Separuh hidupku.
Kecelakaan malam itu telah merenggut nyawa satu-satunya orang yang paling aku cintai. Tiga hari setelah pernikahan kami. Masih terekam jelas dalam ingatanku, sore itu…kami pergi ke sebuah café di Lembang, tempat pertama kali kami bertemu dulu. Kami memesan sepiring ketan bakar ayam spesial dan dua gelas yoghurt mocca, seperti biasanya. Kami menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, tertawa-tawa, ledek-ledekan membahas masa pendekatan sebelum pacaran, bersenang menikmati awal kebersamaan kami sebagai suami istri.
Aku dan Axel tidak memilih Kuta atau Senggigi untuk pergi berbulan madu. Kami sepakat untuk napak tilas ke tempat-tempat kenangan masa pacaran dulu, rasanya lebih spesial. Lagipula saat itu kami hanya punya waktu tiga hari. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan nutrisi bayi. Ajaibnya, Axel diterima di perusahaan distribusi pada hari yang sama dan gedung yang sama. Gedung yang sama! Semua terasa begitu sempurna. Kami sudah membayangkan bisa selalu berangkat dan pulang kerja sama-sama, makan siang sama-sama, tanpa harus repot janjian di titik tengah. Tak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang kami miliki saat itu.
Awan mendung mulai berarak meredupkan langit Lembang. Berkejaran dengan sang waktu yang hendak membuka malam. Kami pun bergegas. Axel memacu kuda besinya sekencang yang ia bisa. Jalanan berliku itu mulai basah ditetesi hujan. Aku memeluk Axel erat di belakang. Detak jantungku mulai tak beraturan. Aku memang tak pernah terlalu suka hujan. Sedikit petir saja cukup membuatku ketar ketir. Saat itu tak banyak petir. Hanya satu kali. Satu kali yang mengakhiri setengah hidupku. Awalnya kilat membelah langit, menyilaukan. Lalu tak sampai  tiga detik kemudian aku mendengar suara petir terdahsyat seumur hidupku. Aku terlonjak kaget, ku surukkan kepalaku ke punggung Axel. Gerakan tiba-tiba itu membuat Axel kaget dan oleng di tikungan tajam. Belum sempat ia menstabilkan kembali motornya, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil Colt yang penuh dengan sayuran dikemudikan dengan kecepatan tinggi, tak sempat menginjak rem. Begitu menerut saksi mata yang ada di tempat kejadian.
Aku seolah tenggelam di balik punggung Axel, berusaha mendamaikan hatiku hingga tak tahu apa yang kami hadapi saat itu. Kejadiannya barlangsung sangat cepat, aku hanya mampu mengingat saat tubuhku tiba-tiba melayang di udara lalu terhempas, bergulingan di jalan aspal yang keras dan basah. Pandanganku kabur. Aku megap-megap, berusaha melepas helm dengan segenap kekuatan yang tersisa. Samar kulihat Axel tergeletak payah dan berdarah tak jauh dari tempatku. Dengan bertumpu pada kedua tangan lemahku, aku merangkak sedapatnya, berusaha menggapai tangan Axel yang terulur ke arahku. Dan meskipun teramat lirih, aku dapat dengan jelas mendengar kata demi kata yang diucapkan Axel dengan nafas tersenggal dan rasa sakit yang nyata…
I love you, sunshine…”
***
Selama tujuh hari penuh aku mengurung diri di dalam rumah, nyaris tak bisa percaya semua itu bukan sekedar mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit yang harus aku hadapi. Aku hanya berdiam diri di kamar atau teras belakang, di kursi ayunan tempat aku biasa menghabiskan waktu bersama Axel dulu. Saat bosan, biasanya aku menghabiskan waktu di kolam renang. Berharap air dapat menenangkan pikiranku. Aku  berendam di pinggir kolam atau sekedar berjalan lambat-lambat di dalamnya. Kadang aku berenang bolak-balik berpuluh-puluh kali, berharap air membuatku kelelahan hingga aku bisa tidur sejenak walau tanpa lelap.
Aku beruntung. Karena terkesan dengan hasil psikotest dan interwiew-ku, perusahaan yang menerimaku bekerja memberikan kelonggaran waktu sebebas-bebasnya untuk aku menata hati sampai benar-benar siap untuk bekerja. Tapi aku tak tahu seperti apa konsep ‘benar-benar siap’ itu? Kenyataannya hati ini tak bisa rapi kembali, aku bahkan tak tahu apa aku bisa menatanya lagi atau tidak? Aku mungkin masih bisa hidup tanpa Axel, tapi aku tak bisa membayangkan hidup seperti apa yang bisa kujalani tanpa dia disisiku. Padahal ini bukan saatnya lagi untuk membayangkan, semuanya sudah terjadi dan aku ‘dipaksa’ untuk langsung menjalani.
Aku tahu aku tak boleh berlama-lama larut dalam kepedihan, Axel paling tidak suka melihat orang yang memelihara rasa sakit dan sengaja berlarut-larut dalam duka.
“ Heran deh, masa sepupu jauh aku yang cowoknya meninggal beberapa bulan yang lalu itu sampai sekarang nggak mau keluar rumah?! Kata ibunya, tiap hari tiap waktu kerjaannya nangiiiiiiiis terus ngeratapin kematian cowoknya itu. Badannya sampai habis karena nggak mau makan. Kok ada ya orang kayak gitu? Buang-buang waktu aja!”
“ Ya wajar dong schaadt, mereka kan udah mau nikah. Mana ada perempuan yang nggak sedih ditinggal pacarnya. Jangan kasar gitu ah, nggak baik, kalau aku yang ada di posisi dia malah mungkin lebih parah…”
“ No! kamu sama sekali nggak boleh kayak gitu sunshine. Kalau terjadi apa-apa sama aku nanti, kamu nggak boleh larut dalam kesedihan. Kamu harus bangkit dan lanjutin hidup kamu, lanjutin mimpi-mimpi kita…ya sayang ya? Aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu sedih…”
“ Dan aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu nggak ada di samping aku TAU! Udah dong ah, ngebayanginnya aja udah pengen mati! Jangan pernah tinggalin aku, please…Awas  aja kalo berani!”
“ Oke, enough for the heavy. Tapi aku bener-bener minta maaf, aku harus ninggalin kamu sekarang sunshine…”
“ WHAT?! You’ve got to be kidding me! Kamu mau kemana?”
“ Aku mau ke toilet sayang, kebelet!  hehehe…bye cantik, ketemu di parkiran ya!”
Aku tak mau membuat Axel tak bahagia seandainya ia tahu keadaanku sekarang. Death doesn’t put an end to love, bukan? Aku harus bisa kembali berdiri untuk melanjutkan mimpiku, mimpi Axel, mimpi-mimpi kami berdua. Axel memang sudah tak ada, tapi aku masih bisa mencintai kenangannya sebanyak yang aku mau.
***