Sudah hampir dua bulan aku bekerja di perusahaan ini, berteman dengan lima orang baru yang begitu mudahnya nge-blend
dengan aku. Entah bagaimana jadinya kalau tidak ada mereka. Seolah
Tuhan mengirimkan mereka khusus untuk membantuku bangkit dari kepedihan
karena ditinggal Axel. Ada saja ulah mereka yang membuat kami tertawa
setiap harinya. Sampai kadang aku merasa telah berkhianat. Bukankah
seharusnya aku masih bersedih? Well, bukannya aku tidak sedih, tapi kenyataannya aku menjalani hari-hari dengan sangat ringan. Apa ini tidak normal?
Pekerjaanku
cukup menyibukkan. Tak ada lagi waktu untuk meratap, sebetulnya memang
aku tak ingin lagi meratapi kepergiannya. Axel takkan suka, sudah
kubilang. Dan teman-teman baruku tak mengizinkan. Sedikit saja waktu
luang, mereka selalu berusaha menyibukkan aku. Apalagi kalau mereka
dapat info ada Launching novel baru di Toko Buku, niscaya aku orang
pertama yang mereka hubungi. Well, mereka tahu aku gila baca,
doyan sastra dan berharap suatu hari nanti menjadi bagian dari dunia
itu. Mereka menghormati batasan-batasanku sebagai janda yang belum habis
masa idah-nya. Mereka menghormati saat-saat aku ingin sendiri mengenang
almarhum suamiku, Axel. Tapi diluar itu, tak pernah ada waktu yang
terbuang percuma. Untungnya mereka bukan tipe orang yang suka clubbing, hura-hura, banci party atau melakukan hal-hal ajaib yang tak pernah ada dalam kamus hidupku. So far, aku merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka.
Siang
ini seperti biasa kami berkumpul di Cafetaria, perasaanku tak enak.
Sejenis kebiasaan lama yang tiba-tiba muncul. Dulu seringkali aku merasa
sesak karena nggak enak hati tanpa tahu apa penyebabnya. Dan biasanya
tidak lama berselang, ada sesuatu yang terjadi dan biasanya bukan hal
positif. Entah itu terjadi pada diriku sendiri atau orang-orang yang
dekat denganku secara emosional. Biasanya aku sangat terganggu, karena
perasaan yang datangnya tiba-tiba itu pastinya merusak mood-ku saat itu.
Tapi Axel malah bilang “ Senangnya punya pacar yang bisa berfungsi
sebagai indikator, jadi aku punya sedikit waktu untuk memperkirakan apa
yang mungkin terjadi beberapa menit lagi…” tanpa sadar aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“
Bu…kemana lagi sekarang? Macau? Ketemu Gayus dong!” khas Nindy.
Senyumku makin lebar sekarang, antara malu kepergok sedang melamun dan
takjub dengan kejeliannya.
“ Udah dong bu, ini kan jam-nya makan
siang…ngelamunnya di rumah aja! Katanya Axel nggak akan suka kalau kamu
meratapi kepergiannya, sekarang gimana ceritanya nih sampai bisa
ngelamun di keramaian?” kali ini Nuno yang menimpali. Tiba-tiba saja
terlintas di benakku kalau Nindy-Nuno bisa jadi pasangan yang sangat
serasi. Aku senyum lagi, masih dengan kesadaran yang entah dimana.
“ Beuuuh…senyam senyum sendiri lagi, keterlaluan!” Nuno geleng-geleng kepala.
“
Eh, iya maaf…tadi aku inget Axel, tapi bukan yang sedih-sedih kok,
bukan meratapi! Hadoooh kalian ini ya, kan sudah bukan masanya meratap…”
“ Terus kenapa dong?” tanya Mega sambil mengunyah pempek-nya.
“
Mmmm…tadi tuh aku tiba-tiba aja nggak enak hati, nggak tahu kenapa.
Sebenernya ini kebiasaan lama sih, dari SMA udah sering begitu. Dan
biasanya, setelah rasa nggak enak hati itu pergi, ada aja kejadian yang
nimpa aku atau orang-orang yang deket sama aku, semacam firasat gitu
lah. Tapi aku nggak selalu bisa ngerasain apa yang akan terjadi sama aku
atau sama siapapun yang dekat sama aku.”
“ Trus bagian mana yang ada senyum-senyumnya?” tanya Mega penasaran.
“
Ooh itu…dulu Axel sering bilang aku indikator kesialan…” hening, tapi
mata mereka saling menatap. “ Kok pada diem sih?” bibirku mengerucut.
Lalu sedetik kemudian mereka kompak tertawa terbahak-bahak. Alin malah
sampai kocar kacir ke toilet gara-gara tertawa sampai kepingin buang
air.
“ Hmmm bagus…puas kalian ya?!” tak ada yang menanggapi, semua
masih sibuk tertawa. Menertawakan aku tepatnya. Akhirnya aku pun ikut
tertawa bersama mereka. Perasaanku semakin tak enak, jangan-jangan
mereka berniat meneruskan sebutan Axel untukku itu, indikator kesialan,
ugh! sama sekali nggak ada positif-positifnya. Mereka tertawa diatas
kecemasanku.
***
Aku pulang setengah lunglai, stock opname
menguras tenagaku. Resiko kerja di bagian inventory. Begitu keluar
gedung, aku mengeluarkan isi tas plastik ungu yang ku tenteng sejak
tadi. Aku bermaksud mengganti high heels-ku dengan sandal teplek, the
most comfortable footwear. Sialnya begitu aku membungkuk, seseorang
terlambat mengerem langkahnya di belakangku. Brukkk! Tas-ku jatuh lebih
dulu, sementara aku masih dalam proses melayang menuju paving blok.
Tiba-tiba saja seperti Tuhan sengaja melambatkan laju waktu, hingga aku
benar-benar bisa merasakan sensasi janggal yang memacu sedikit
adrenalin, menikmati proses kejatuhanku (secara fisik). Wah, jatuh nih, jatuh nih…
Tepat
tiga senti sebelum keningku benar-benar ‘say hello’ pada paving blok di
depan gedung kantorku, aku melihat sepasang telapak tangan menghadap
keatas memosisikan dirinya sedemikian rupa hingga berhasil menghalangi
keningku sampai ke tujuan yang tak di inginkan itu. Masih dalam waktu
yang bergerak sangat lambat, aku menyadari yang terjadi dan mengucap
dalam hati, Alhamdulillah, selamat…
Kraaakkk!!!
Innalillahi, apa itu tadi? Nggak mungkin kening aku kan?
Kedua telapak tangan itu terasa hangat di keningku, tapi ada yang mengganjal. Apa itu kelingking?
Aku mengangkat wajahku, melihat wajah seseorang dengan semburat biru kesakitan. Ya Tuhan, Pak Raga! Mati aku…
“Masya
Alloh Pak, tangannya nggak apa-apa kan? Mana yang sakit? Kelingking,
iya?” secara refleks aku meraup tangannya yang yang menyangga keningku
tadi, mengurutnya dengan panik campur rasa bersalah. Sesekali aku
meniup-niup kelingkingnya sambil berdoa, membaca apa saja yang mampu
kuingat. Aku menangkap sebuah senyum dari kepala yang miring 23 derajat
dan mata yang menatapku tak berkedip. Mungkin dimatanya aku tampak
seperti dukun yang sedang merapal mantra. Aku menundukkan kembali
pandanganku, berusaha konsentrasi pada kelingkingnya, berharap bisa
meringankan sakitnya.
“ Hey, it’s okay…I’m okay…” mataku
kembali bersibobrok dengan miliknya, dengan senyum tertahan-nya. Mungkin
sebenarnya dalam hati dia terpingkal-pingkal sambil berguling-guling di
lantai seperti emoticon yang ada di chat box melihat kepanikanku.
Aku
sedang memikirkan langkah yang tepat untuk menetralkan suasana yang
mulai terasa canggung itu -dengan tangan kami yang saling menggenggam,
jelas tidak netral!- saat sebuah suara berat yang familiar dari
belakangku menginterupsi.
“ Maaf tadi saya nggak lihat Mbak, jadi
nggak sengaja nabrak…” aku menangkap sebersit sesal di dalam permintaan
maafnya, tapi entah kenapa aku mendadak merasa tidak nyaman. Suara itu…
Aku memutar tubuhku, dan terhenyak sedetik kemudian.
***
“ Jadi dia mantan kamu?” tanya Mega dengan volume suara tingkat 5 dan rasa penasaran jauh di atasnya.
“ Extended version, please…” Bagas menambahkan.
“
Hmmm…nggak mantan sih, Cuma dulu kita pernah deket sampai hampir
jadian. Dia kakak kelas aku di SMA, salah satu cowok populer gitu
deh...” Jawabku malas-malasan.
“ Terus kenapa nggak jadian?” tanya Mega lagi.
“ Dia punya pacar ternyata di sekolah lain, aku di labrak deh sama pacarnya…” bibirku mengerucut.
“
Axel bener…” tiba-tiba saja Nuno menimpali ceritaku, dengan tatapan
mata kosong, suara datar dan pernyataan yang menggantung di udara.
“ What?
“ tanyaku dengan nada menyelidik dan mata sedikit menyipit, untuk
memunculkan efek dramatis yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Semua
orang yang ada di meja menatap kearahnya. Disini aku baru menyadari
bahwa ketidaktahuan, penasaran dan curiga itu memiliki keterkaitan
emosional.
“ Indikator kesialan…”
Singkat, padat, jelas.
Yang terjadi kemudian hanyalah pengulangan menit-menit terakhir
istirahat kami siang kemarin. Déjà vu? Bukan. Ini lebih tepat dinamai
repetisi. Pengulangan nyata. Menyebalkan.
***
Kabar burung
mulai menyebar. Entah burung siapa yang berani menyebarkan kabar murahan
yang menyudutkan itu! Yang jelas, hampir satu gedung ini tahu kejadian
(hampir) french kiss dengan paving blok yang menimpaku tempo hari itu.
Kabar tersebut memberikan penekanan pada kejadian aku berusaha
meringankankan penderitaan kelingking si Bos dengan mengurutnya, mereka
bilang aku mebelainya. MEMBELAINYA. Yang benar saja! Lalu tatapan si Bos
yang kutaksir sedang menahan semburan ‘ketawa guling-guling di lantai’
itu, mereka bilang tatapannya seperti orang kasmaran. KASMARAN. Dan saat
aku mengalami momen canggung akibat jemari yang saling bertaut itu,
mereka bilang -dan aku benci sekali bagian yang terakhir ini- aku pandai
sekali memanfaatkan momentum kecelakaan itu untuk merebut simpati si
Bos. Ha! Sekalian saja bilang aku sengaja menjatuhkan diri di jarak
tangkap tangan si Bos, untuk mencicipi rasanya ‘waktu berhenti’ seperti
yang sedang inn di semua sinetron stripping. Ugh!
Kemana
kaki ini melangkah, tatapan ‘tak lazim’ mengikuti, bisik-bisik
bermuatan caci dan iri menyertai. Ke ruang fotocopy, ke kamar mandi,
bahkan ke warehouse -tempatku berlindung dari segala gunjingan
wanita, tempat yang dihuni populasi homogen berkromosom Y- telingaku
tidak juga dingin.
“ Non, gosipnya dahsyat lho…” ujar Mas Agung saat menemaniku menghitung stok barang, mencocokan data dengan nyata.
“
Allohu Akbar…nyampe juga kesini? Ckckck, kirain cowok nggak doyan
gosip!” jawabku kecewa, merasa dikhianati oleh para pekerja yang
mengandalkan kekuatan fisik itu.
“ Hoho…jangan salah, disini gosip
justru kayak bensin tumpah kena percik pemantik, membara!” bahuku
melorot seketika, tak sangka.
“ Separah apa?” tanyaku sambil terus menghitung.
“
Panah merah ke kiri. Tapi santai Non, nggak semua terhasut kok.
Cewek-cewek ganjen itu cuma iri sama kamu, berani-beraninya orang baru
merebut pujaan hati mereka! Biarin aja, nanti juga hilang sendiri.”
Bibirnya membentuk seulas senyum yang cukup menentramkan. Rupa-rupanya
dia mencium ketidaknyamananku atas situasi ini.
“ Aku nggak pernah
berusaha merebut Pak Raga. Bahkan berniat pun nggak! Bagaimana bisa
mereka setega itu fitnah aku? Mereka tahu aku Janda, baru ditinggal mati
dua bulan…mana mungkin aku tebar pesona secepat itu? Masa idah saja
belum selesai!” Aku mulai histeris.
“ Kenapa mereka…” air mata
yang merebak di pelupuk mataku mulai menyesakkan, menghentikan semburan
kekesalanku. Mereka pun berjatuhan satu per satu. Aku menunduk,
menghindari tatapan pegawai lain. Mas Agung menyodoriku sehelai
saputangan yang terlihat seperti baru dicuci, aku menerimanya, menekan
kedua mataku dengan saputangan itu, berharap dapat menghentikan
alirannya, tapi tidak sampai buang ingus disana. Aku tidak se-‘sinetron’
itu. Dan kulihat dia menghela nafas lega.
Tak kubiarkan air mata
itu mempermalukannku di depan yang lain-lain. Aku menguatkan hati,
melanjutkan pekerjaanku yang belum tuntas. Mas Agung menemaniku sampai
akhir, seperti biasanya, juga karena itu memang kewajibannya. Dia pintar
sekali mengalihkan perhatianku. Bercerita ini itu yang tidak terlalu
penting, kadang tidak terlalu lucu, tapi toh aku tertawa juga. Jadi
kunikmati saja, hitung-hitung cuti sebentar dari gunjingan yang
menderaku di gedung sebelah.
***
Di Cafetaria, teman-teman
berusaha menjaga emosiku dengan tidak membahas gosip itu. Aku tahu lidah
mereka gatal sekali untuk membicarakannya, tapi kepedulian mereka
terhadap kesehatan psikologis mengalahkan godaan itu. Aku masih
merasakan tatapan dan bisik-bisik tak lazim itu, tapi mereka tidak
membiarkannya terlalu menggangguku. Dan aku sangat menghargai usaha
mereka, walau beberapa terasa konyol. Mengalihkan kesedihanku dengan
kompetisi muka jelek, yang paling jelek mendapatkan satu gelas
Cappuccino gratis. Dan tebak siapa pemenangnya? AKU tentu saja! Kurang
ajar betul mereka itu. Tapi kekurang-ajaran mereka itulah yang membuatku
bagai terhisap lebih dalam pada pusaran pertemanan mereka. Bahkan aku
kini bersama mereka menjadi materi pusaran itu sendiri, bukan lagi benda
asing yang terjebak di dalamnya.
Sayangnya pemeran utama pria
dalam pemberitaan menyudutkan itu tak bisa diajak kompromi. Melangkah
penuh percaya diri dengan satu tujuan pasti, meja kami. Lalu menyempit
lagi, kursi tempatku bersandar lemas dan malas. Aku menangkap tatapan warning
dari teman-temanku. Aku menegakkan badan sambil menelan ludah, glek!
Kurasa mereka bisa mendengar itu, atau menangkap pergerakan berat di
tenggorokanku.
“ Guys, boleh pinjam Joana sebentar?” tanyanya santai.
“ Dikembaliin utuh ya Pak…” jawab Alin sambil nyengir.
“ I promise you that…”
Ia
membawaku ke meja kosong, tak jauh dari tempat dudukku sebelumnya. Aku
mengikutinya, pasrah. Apalagi yang akan menantiku setelah ini? Setiap
tatapan terasa menghakimi.
“ Besok kamu ikut saya ke Bogor ya, ada sedikit masalah dan saya akan butuh kamu disana. Kamu bisa sekalian survey keadaan warehouse disana. Jam tujuh pagi berangkat dari sini. Kita pakai mobil kantor, sekalian Figo -Team Leader- nge-cek gimmick disana, katanya banyak selisih. Bisa kan?” tak ada celah, instruksi mutlak.
“
Positive.” Jawabku seraya mengangguk, setelah mengabrasi batu khayal
yang mendekam di tenggorokan hingga menekan pita suaraku. Well,
setidaknya kami tidak akan ‘hanya’ berdua di perjalanan nanti. Lagipula
ini kesempatan, aku memang perlu menyamakan beberapa persepsi dengan
Mas Agung-nya Bogor. Selagi aku berpikir-pikir, ia pun melanjutkan.
“ Mungkin kita disana sekitar dua sampai tiga hari, bawa perbekalan yang cukup. Sekalian tolong minta Friska booking-in tiga single room
di hotel yang deket kantor sana ya, saya langsung ke Outlet sekarang.”
Dia mengangguk, mengisyaratkanku untuk bangkit dari tempat duduk dan
mengikutinya, lagi. Aku patuh.
“ Guys, saya kembaliin utuh…tapi
sepertinya sedikit shock, tolong dibantu…thanks ya!” dia tersenyum
dengan mata sedikit memohon -maaf dan bantuan, sepertinya- kemudian
berlalu dari hadapan kami, masih dengan langkah penuh percaya diri.
Entah memang bawaan pabrik atau demi membangun wibawa sebagai seorang
manajer.
Dan di berondong lah aku dengan ribuan pertanyaan mereka.
“ Kenapa bu? Si Bos bilang apa?”
“ Kamu diapain?”
“ Ada masalah Jo?”
Aku
mulai pulih dari kaget, bingung dan ketakutan akan efek di kemudian
hari. Bahuku semakin turun dan aku melorot di kursi. Aku menceritakan
instruksi-instruksinya. Mereka tertawa hambar.
“ Nggak bisa diajak kompromi nih si Bos…” Ujar Alin.
“
Kira-kira butuh berapa menit untuk membuat semua karyawan di gedung ini
tahu aku akan pergi ke Bogor sama Pak Raga dan nginep di hotel selama
dua sampai tiga hari?” tanyaku pasrah.
“ Well, mungkin
nggak sampai jam bubar. Kalian lihat nggak tadi si Winda? Dia kan
duduknya di belakang si Bos. Berlagak ngobrol santai sama cs-nya, tapi
telinganya gerak-gerak…apalagi kalau bukan CCD-CCG?!” Mega menanggapi.
“ What the hell is that?” tanya Nuno.
“ Curi-Curi Dengar, Cari-Cari Gosip!”
***
Cintamorfosa
Rabu, 24 Juli 2013
Sunshine In The Rain - Part 2. The Second Life
Semalaman aku berjuang untuk tidak menangis, mendoktrin pikiranku dengan motto yang ku dapat di bangku kuliah : I CAN IF I THINK I CAN.
Aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku bisa…aku
bisa…aku bisa… Entah berapa ribu kali ku ulang kalimat tersebut demi
mendapatkan kembali semangat hidup, lalu entah bagaimana ceritanya
tiba-tiba saja kalimat-kalimat tersebut menyeretku ke alam mimpi dimana
Axel menatapku dengan mata teduhnya sambil tersenyum di kejauhan, lalu
berkata “ Yes sunshine, kamu pasti bisa!”
Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun -terbangun oleh mimpi lebih tepatnya- dan sedikit terheran-heran karena sejak kepergian Axel, aku tak pernah benar-benar bisa ‘tidur’ apalagi sampai bermimpi. Ini awal yang baik, kemenangan pertamaku mengatasi keterpurukan ini. Aku mulai menyiapkan perlengkapan hari pertama bekerja. Setelan kerja hitam polos dengan bros warna emas berbentuk bunga Tulip kesukaanku, hadiah dari Axel di menjelang sidang skripsi. Senyum Axel di mimpi tadi malam menjadi suntikan energi positif untukku memulai hari. Memulai hidupku yang ke dua.
Perlahan kuturuni tangga menuju ruang makan. Semua mata menatapku takjub bercampur dengan kaget, heran, bingung, tapi diatas semua itu, secercah kebahagiaan tampak jelas dari tatapan mereka. Bunda, Ayah dan adikku, Jody mendadak speechless. Aku jadi sedikit tak enak hati. Apa ada yang salah dengan penampilanku ya?
“ Mmm…kenapa sih pada ngeliatin Jo kayak gitu? Aneh ya pakai setelan kerja kayak gini? Atau bajunya yang nggak oke? Aku ganti aja kali ya?” Aku memecah keheningan, taku mereka merasa tak enak untuk berkomentar. Aku berbalik, kembali menaiki tangga menuju kamar.
“ JANGAAAAAN!!!” semua berteriak kompak, aku makin bingung. Akhirnya Bunda beranjak dari tempat duduknya, menghampiriku.
“ Anak Bunda cantik bangeeet! Kamu…mau mulai kerja?” tanya Bundanya ragu-ragu.
“ Iya Bunda…kan udah seminggu Jo izin, nggak enak kalau kelamaan…nanti malah nggak jadi diterima kerjanya. Bunda doain ya, biar hari pertama Jo kerja jadi lancar.”
“ Lho, Bunda kenapa malah nangis? Jo salah ya?” kebingunganku semakin menjadi-jadi.
“ Itu air mata bahagia sayang…kami semua bahagia melihat kamu bangkit. Kamu memang putri Ayah yang tangguh. Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini dengan baik. Sekarang, kita sarapan sama-sama yuk…” rasa haru sekaligus bersalah tiba-tiba menyeruak di dadaku. Ya Allah…aku sudah membuat keluargaku khawatir selama ini. Bantu hamba untuk bangkit Ya Rabb.
***
Kulangkahkan kakiku dengan sedikit ragu menuju gedung di hadapanku. Rasanya tak enak karena aku tidak bisa masuk kerja sesuai tanggal yang disepakati di kontrak. Aku khawatir dengan opini teman-teman kerjaku nanti. Apa mereka akan menerimaku? Atau menganggapku tidak profesional? Atau bahkan mereka tak peduli sama sekali? Lututku sedikit gemetar saat menaiki tangga menuju Lobby, kepercayaan diriku mendadak luntur. Tiba-tiba saja seseorang menabrak bahu kananku hingga tas-ku terjatuh. Aku spontan merunduk bermaksud mengambilnya, tapi tangan lain sudah lebih dulu sampai di rantainya dan menyodorkannya padaku. Aku yakin dia bukan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas insiden itu, warna bajunya berbeda. Well, aku memang tidak melihat jelas, tapi sepertinya orang yang menabrakku langsung pergi begitu saja, atau mungkin dia tidak sadar kalau dia menabrak seseorang sampat tasnya terjatuh? Entahlah.
“Terima…kasih…” aku sedikit terhenyak, cepat-cepat kutarik nafas sedalam yang aku mampu. Aku mengenali sang penolong itu sebagai atasanku, orang yang meng-interview-ku waktu itu, orang yang menerimaku bekerja dan memberiku waktu untuk menenangkan diri, ya itu dia. Tapi aku benar-benar lupa kalau wajahnya sangat mengingatkanku pada Axel.
“ Schaadt, tahu nggak…tadi manajer yang ngewawancara aku mirip banget sama kamu lho…”
“ Masa sih? Muka aku pasaran dong?”
“ Hehehe…tepat sekali!”
“ Hmmm…seneng! Tapi awas aja kalau kamu jadi suka sama dia…”
Kenangan itu sedikit menyesakkan. Tanpa bisa ku kendalikan, sesuatu menggenang di pelupuk mataku. Air mata? Ya Tuhan, jangan sampai aku menangis lagi di tempat seperti ini. Aku kuat…aku kuat…aku kuat…aku kuat…aku kuat…
“ Mba? Nggak apa-apa kan?” Tuhan…mata ini, kenapa bisa begitu mirip? Tolong jangan runtuhkan tekadku di hari pertama aku membangunnya Tuhan…
“ Mba...? Hey, kamu…Joana? Ya, ya…kamu Joana Athalia kan? Aku nggak nyangka kamu masuk secepat ini lho! Kamu baik-baik aja kan? Oh, kita ke cafetaria dulu ya? Sepertinya kamu perlu minum sesuatu…”
“ Eh, tidak usah Pak, saya baik-baik saja kok. Lagipula ini kan hari pertama saya kerja, masa terlambat? Tidak enak dengan yang lain Pak.” Sekuat tenaga kudorong rasa sesak itu keluar dari hatiku. Aku tak boleh kalah.
“ Udah…nggak usah kaku begitu, ayo ikut saya, it’s an order!” dia menarik tenganku begitu saja seolah kami sudah kenal sejak lama dan aku hanya bisa pasrah. It’s an order dia bilang. Apa hal seperti ini masuk hitungan perintah kerja? Menemani bos minum? Atau dalam kasus ini, ditemani bos? Waktu kuliah Professional Development dulu kalau tidak salah, justru hal-hal seperti ini yang harus dihindari agar tidak di cap ‘unprofessional’. Bagaimana ini?.
RAGA. Namanya Raga. Aku berhasil membaca sekilas ID Card yang dijepitkan di saku kemejanya. Raga Narendra. Nama yang tidak berhasil aku ingat sepanjang perjalanan dari Lobby ke Cafetaria. Peristiwa seminggu yang lalu itu berpengaruh juga terhadap daya ingatku rupanya. Semoga tidak banyak yang hilang.
“ Teh manis panas?” tawarnya. Aku melihat ke sekelilingku. Kosong. Well, jam delapan pagi sudah sewajarnya Cafetaria kosong kan? Yang membuatku bingung, aku tak sadar kapan tepatnya kami sampai di Cafetaria ini? Tiba-tiba saja kami sudah duduk di meja paling luar. Fokus, Joana. Fokus.
“ Kopi hitam, kalau boleh.” Aku tak sempat berpikir panjang, itu yang pertama kali terlintas. Lagipula, aku kan bukan penggemar teh manis panas. Tidak, tanpa lemon. Tidak, semenjak Axel bilang tidak suka teh manis panas. Aku tidak suka semua yang tidak disukai Axel. Plagiat, dia bilang. Tapi menurutku, itu wujud kesediaanku untuk menjadi bagian dari dirinya. Untungnya, selera kami kurang lebih sama. Jadi tak terlalu banyak penambahan dalam daftar ‘tidak suka’-ku.
“ WOW!” Aku tak tahu pasti apakah ‘WOW’ itu merupakan ekspresi kekaguman, keterkejutan atau penasaran? Sepertinya yang ketiga lah yang paling mungkin. Kalau begitu aku harus siap-siap dengan ‘kenapa?’ yang mungkin akan ditanyakannya setelah memesan kopi hitam-ku.
“ Boleh tahu kenapa?” aku mengerutkan alis, pura-pura tidak paham. “Kopi hitam. Kenapa kopi hitam? Well, baru kali ini saya menemukan orang, perempuan, sedikit shock karena hampir jatuh ditabrak orang, minta kopi hitam untuk menenangkan diri.” Rasa penasaran yang terpancar jelas di wajahnya membuatku bingung harus menjawab apa. Aku mengangkat bahu, “ Itu yang pertama terlintas. ” Jawabku sambil sedikit menggelengkan kepala. Semoga dia percaya dan tidak bertanya lebih lanjut lagi.
“ Interesting. Tapi kok saya nggak begitu puas ya sama jawaban kamu?” kali ini dia yang mengangkat bahu, tidak ingin memperpanjang. “ Sudahlah. By the way, kamu yakin sudah siap bekerja hari ini? Saya lihat kamu sedikit kurang fokus sejak insiden tabrakan di lobby tadi?” matanya menganalisa, aku menunduk. “ Kamu juga nggak banyak bicara…” karena dari tadi Bapak yang memonopoli pembicaraan, jawabku dalam hati. Lagipula, wajahnya yang mengingatkanku pada Axel-lah yang membuatku goyah, tadi pagi kan kakiku sudah tegap. “ Saya bisa kasih kamu perpanjangan waktu untuk recovery lho…mau?”
“ Oh, tidak perlu Pak. Saya sudah berusaha keras untuk bisa bangkit hari ini, saya tidak ingin semuanya menjadi sia-sia hanya karena insiden kecil,” aku menarik nafas dalam, mencuri jeda untuk memikirkan pernyataan terbaik yang bisa kuberikan. “ Memulai kembali dari awal rasanya akan lebih sulit untuk saya ketimbang meneruskan satu langkah lagi ke depan. Tidak ada orang yang ingin mengulang bagian terberat dari sebuah perjuangan bukan?” itu kalimat terpanjang yang ku ucapkan hari ini, bravo. Dan sesungguhnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang ku ucapkan barusan. Fokus. Fokus.
Atasanku menganggukkan kepalanya beberapa kali, entah untuk apa. Aku menyesap kopi-ku, tidak sepanas yang kuharapkan sayangnya. Tapi demi alasan kesopanan, aku menyesapnya lagi, dan lagi. Ia nampak sedang berpikir. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Tidak mau tahu, lebih tepatnya, toh bukan urusanku juga. Melihat cangkirku yang sudah kosong tiga perempatnya, ia bertanya “ Siap memasuki dunia kerja?” katanya sambil berdiri dengan isyarat mengajak pergi. Aku mengangguk sambil mengumpulkan semangat yang ternoda, lalu berjalan mengikutinya. Sedikit terlintas dalam benakku, Lho…dia kan belum bayar? Atau aku yang ke- ge er-an berharap di traktir? Tapi melihat langkahnya yang penuh percaya diri, aku berprasangka baik saja dia punya bill khusus yang ditagihkan setiap akhir bulan. Jadi aku tidak perlu bertanya, atau inisiatif membayar sendiri. Biarkan sajalah.
***
Debut-ku pagi ini cukup lancar. Pak Raga sendiri yang memperkenalkan aku pada semua karyawan di ruangan besar bersekat-sekat itu. Aku sendiri mendapat meja paling ujung sebelah kanan, dekat dengan pantry dan toilet. Great. Posisi strategis untuk orang yang doyan minum dan buang air.
Aku diterima bekerja di perusahaan ini sebagai staf Inventory Controller, Divisi Supply Chain. Tugasku, ya sesuai dengan namanya, mengontrol persediaan barang di gudang. Memenuhi kebutuhan barang yang diminta oleh Divisi Sales -yang di pimpin oleh Pak Raga- untuk di jual oleh mereka. Aku dititipkan oleh Divisiku -yang bermarkas di kantor pusat, Jakarta- untuk menghandle lima area di Jawa Barat, beruntung sekali mereka menempatkanku di Bandung, di rumahku sendiri. Aku juga di perkenalkan kepada Kepala Gudang beserta admin-adminnya, karena memang nantinya pekerjaanku berhubungan dengan mereka. Aku mendapat partner yang lumayan helpful. Satu-satunya orang yang kutemui di gudang, yang yang tatapannya tidak membuatku risih. Thanks God, apa jadinya kalau harus bekerja sama -setiap hari- dengan orang yang kesan pertamanya saja kurang enak. Yah, semoga saja kerjasamaku dengannya bisa berjalan selencar hari ini. Semoga.
Jam 12.00 waktunya makan siang. Aku tak begitu lapar. Memang sejak kepergian Axel, rasanya aku tak pernah lapar. Aku makan dua kali sehari hanya demi menjaga ketahanan tubuhku, bahkan seringkali aku tak menyadari apa yang ku makan. Aku hanya tak ingin semakin merepotkan keluargaku dengan keterpurukanku kemarin. Aku sedang berpikir-pikir untuk memanfaatkan waktu istirahatku atau tidak. Lalu tiba-tiba saja aku membayangkan Axel menjemputku untuk lunch bareng.
“ Joana…keluar yuk, maksi…maksi…” terdengar suara seorang perempuan. Aku mengalihkan pandanganku dari layar monitor. Pauline, tercetak di ID Card-nya yang kutatap sekilas. Ia tersenyum ramah, cantik dalam balutan busana kerja bernuansa peach corak bunga yang serasi dengan kulit putih oriental-nya. Aku membalas senyumnya, berharap senyumku seindah miliknya.
“ Ayo…tapi sebenarnya aku nggak begitu lapar sih…”
“ Lapar nggak lapar yang penting keluar, nggak baik berlama-lama di depan komputer, mata kan butuh refreshing juga. Kamu kan bisa pilih menu ringan atau sekedar minum atau icip-icip punyaku juga boleh kok, yuk?”
“ Hmmm, boleh deh…” aku memastikan pekerjaanku sudah di save, lalu beranjak dari kursiku. Rasanya aku mulai menyukai Pauline dengan gayanya yang supel, ceria dan persuasif. Aku terkesan dengan kemampuannya mengajak, dan tiba-tiba saja aku sudah berjalan dengannya menuju Cafetaria.
Sangat berbeda dengan keadaan tadi pagi, kali ini Cafearia penuh dengan karyawan kelaparan. Terlihat dari antrian yang cukup panjang, seperti undangan pernikahan di hotel mewah pada jam yang sama. Pauline membawaku ke sebuah meja bertuan. Dua laki-laki, satu perempuan.
“ Hey guys, kenalin nih temen baru aku…” ujar Paulin menjawab tanda tanya di muka mereka. Dan aku pun berinisiatif memperkenalkan diri.
“ Hai, aku Joana, panggil Jo aja boleh…”
“ Hai, aku Mega…”
“ Nindy…”
“ Bagas…”
“ Nuno…”
Masing-masing menyalamiku dengan semangat dan senyuman bersahabat. Nuno menarik kursi kosong di meja sebelah untukku. Kekhawatiranku akan tidak diterima mulai memudar. Mudah-mudahan aku bisa berteman dengan mereka.
“ Oke. Semuanya udah ngumpul, saatnya wisata kuliner…” kali ini Bagas menyelamatkan kami dari kecanggungan akibat keberadaan orang asing di tengah-tengah mereka, aku. Ia menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan, “ Kehormatan pertama akan di berikan pada…Joana! Silakan madam, mau pesan apa?” tangannya memegang bolpen dan secarik kertas, menunggu. Aku benar-benar tidak ingin makan sekarang, tapi aku tak mau mengecewakan teman baruku itu. Lalu aku ingat, tadi pagi aku sempat melihat-lihat daftar menu.
“ Coleslaw sama kopi hitam, please...” Jawabku.
“ Ouuw…asem dan pahit. Mudah-mudahan bukan refleksi hati kamu ya!” semua orang tertawa dan aku hanya bisa tersenyum sambil menelan ludah, tiba-tiba saja tenggorokanku terasa asam dan pahit. Bagas mungkin tidak akan mengira kalau kata-katanya sangat tepat, setidaknya untuk saat ini. Memori itu menghampiriku lagi. Petir, hujan, tangannya yang menggapai-gapai ke arahku, kata-kata terakhirnya, Tuhan…hujan hari itu telah meluruhkan rasa manis dalam hatiku, membilas warna dalam hidupku dan meninggalkan hitam disana. Hanya hitam. Aku masih tenggelam dalam lamunanku saat Pauline menggoyang-goyangkan tanganku.
“ Jo…Jo…Joana!” aku tergagap, lupa kalau aku sedang berada di tengah keramaian. Meja kami sudah penuh dengan pesanan teman-teman yang sempat samar kudengar, termasuk persananku. Berapa lama aku melamun tadi? “ Kamu baik-baik aja kan Jo? Kamu sakit?” empat pasang mata itu tampak khawatir.
“ Oh, maaf. Aku nggak apa-apa kok. Pesanannya udah sampe ya? Cepet banget…” jawabku.
“ Bukan pesenannya yang cepet banget, tapi kamu yang ‘pergi’-nya lama banget! Abis dari Hongkong ya bu? Dapet apa aja? Bagi-bagi dong, Cuma ceritanya juga boleh kok, kami siap mendengarkan episode petualangan kamu barusan…” well, kuakui itu cara yang sangat menarik untuk membuat seseorang bercerita. Sepertinya Nindy memiliki kelebihan dalam hal ‘interogasi cara halus’, next time aku harus mendapatkan ilmunya. Aku menyesap kopi-ku, kurang panas seperti tadi pagi. Atau jangan-jangan lamunanku yang mempercepat penguapan panasnya? Sambil menyuapkan coleslaw ke mulutku, aku memutuskan untuk menceritakan ‘petualangan’-ku tadi pada mereka.
“ Pauline…”
“ Alin.” Ralatnya.
“ Oke. Alin…kamu tahu nggak seharusnya aku mulai kerja seminggu yang lalu?” tanyaku memulai cerita. Alin memiringkan kepalanya, bingung.
“ I…ya…terus?”
“ Alasannya?”
“ Hmm, waktu itu aku dengar kamu katanya kecelakaan motor, bener begitu?”
“ Iya, aku memang mengalami kecelakaan motor di daerah Lembang. Dan kecelakaan itu…” aku menghirup nafas dalam-dalam, memenuhi rongga paru-paruku dengan sebanyak mungkin oksigen, “ merenggut nyawa suamiku…” aku sedikit tercekat menyebut istilah itu. Belum lagi aku terbiasa menyebutkannya, aku sudah harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku telah kehilangannya.
Aku melihat berbagai macam ekspresi di wajah teman-teman baruku. Kaget, kasihan, tak percaya.
“ Ya ampun Jo…aku nggak tahu ceritanya sampai setragis itu. Aku pikir cuma kecelakaan biasa. I’m so sorry. Gimana kejadiannya bisa sampai kayak gitu?” Aku terdiam. Tiba-tiba saja aku tak siap menceritakan kejadian itu. Aku merasakan ledakan emosi di dalam diriku, perlahan-lahan menggetarkan tubuhku.
“ Jo, relax…kalau kamu belum siap, kamu nggak perlu cerita sekarang, kita ngerti kok…jangan sampai kepenasaran kita-kita ini malah memerparah luka kamu…” lagi-lagi Nindy. Aku merasa damai seketika.
“ Nggak apa-apa kok. Ini memang pertama kalinya aku cerita, tapi aku…” merarik nafas dalam lagi, “kuat. Ya, aku kuat kok…” Dan mengalirlah ceritaku tentang kejadian itu. Aku memusatkan pandanganku pada satu titik di dinding hijau pucat Cafetaria, mendapat sedikit ketenangan dari warnanya. Ditambah lagi Mega yang memegang erat tanganku selama aku bercerita, seolah menyalurkan kekuatan padaku. Aku benar-benar berharap mereka bisa jadi sahabat untukku. Sahabat tempat aku berbagi tawa dan tangis. Menggantikan sahabat paling setia-ku, Axel.
***
Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun -terbangun oleh mimpi lebih tepatnya- dan sedikit terheran-heran karena sejak kepergian Axel, aku tak pernah benar-benar bisa ‘tidur’ apalagi sampai bermimpi. Ini awal yang baik, kemenangan pertamaku mengatasi keterpurukan ini. Aku mulai menyiapkan perlengkapan hari pertama bekerja. Setelan kerja hitam polos dengan bros warna emas berbentuk bunga Tulip kesukaanku, hadiah dari Axel di menjelang sidang skripsi. Senyum Axel di mimpi tadi malam menjadi suntikan energi positif untukku memulai hari. Memulai hidupku yang ke dua.
Perlahan kuturuni tangga menuju ruang makan. Semua mata menatapku takjub bercampur dengan kaget, heran, bingung, tapi diatas semua itu, secercah kebahagiaan tampak jelas dari tatapan mereka. Bunda, Ayah dan adikku, Jody mendadak speechless. Aku jadi sedikit tak enak hati. Apa ada yang salah dengan penampilanku ya?
“ Mmm…kenapa sih pada ngeliatin Jo kayak gitu? Aneh ya pakai setelan kerja kayak gini? Atau bajunya yang nggak oke? Aku ganti aja kali ya?” Aku memecah keheningan, taku mereka merasa tak enak untuk berkomentar. Aku berbalik, kembali menaiki tangga menuju kamar.
“ JANGAAAAAN!!!” semua berteriak kompak, aku makin bingung. Akhirnya Bunda beranjak dari tempat duduknya, menghampiriku.
“ Anak Bunda cantik bangeeet! Kamu…mau mulai kerja?” tanya Bundanya ragu-ragu.
“ Iya Bunda…kan udah seminggu Jo izin, nggak enak kalau kelamaan…nanti malah nggak jadi diterima kerjanya. Bunda doain ya, biar hari pertama Jo kerja jadi lancar.”
“ Lho, Bunda kenapa malah nangis? Jo salah ya?” kebingunganku semakin menjadi-jadi.
“ Itu air mata bahagia sayang…kami semua bahagia melihat kamu bangkit. Kamu memang putri Ayah yang tangguh. Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini dengan baik. Sekarang, kita sarapan sama-sama yuk…” rasa haru sekaligus bersalah tiba-tiba menyeruak di dadaku. Ya Allah…aku sudah membuat keluargaku khawatir selama ini. Bantu hamba untuk bangkit Ya Rabb.
***
Kulangkahkan kakiku dengan sedikit ragu menuju gedung di hadapanku. Rasanya tak enak karena aku tidak bisa masuk kerja sesuai tanggal yang disepakati di kontrak. Aku khawatir dengan opini teman-teman kerjaku nanti. Apa mereka akan menerimaku? Atau menganggapku tidak profesional? Atau bahkan mereka tak peduli sama sekali? Lututku sedikit gemetar saat menaiki tangga menuju Lobby, kepercayaan diriku mendadak luntur. Tiba-tiba saja seseorang menabrak bahu kananku hingga tas-ku terjatuh. Aku spontan merunduk bermaksud mengambilnya, tapi tangan lain sudah lebih dulu sampai di rantainya dan menyodorkannya padaku. Aku yakin dia bukan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas insiden itu, warna bajunya berbeda. Well, aku memang tidak melihat jelas, tapi sepertinya orang yang menabrakku langsung pergi begitu saja, atau mungkin dia tidak sadar kalau dia menabrak seseorang sampat tasnya terjatuh? Entahlah.
“Terima…kasih…” aku sedikit terhenyak, cepat-cepat kutarik nafas sedalam yang aku mampu. Aku mengenali sang penolong itu sebagai atasanku, orang yang meng-interview-ku waktu itu, orang yang menerimaku bekerja dan memberiku waktu untuk menenangkan diri, ya itu dia. Tapi aku benar-benar lupa kalau wajahnya sangat mengingatkanku pada Axel.
“ Schaadt, tahu nggak…tadi manajer yang ngewawancara aku mirip banget sama kamu lho…”
“ Masa sih? Muka aku pasaran dong?”
“ Hehehe…tepat sekali!”
“ Hmmm…seneng! Tapi awas aja kalau kamu jadi suka sama dia…”
Kenangan itu sedikit menyesakkan. Tanpa bisa ku kendalikan, sesuatu menggenang di pelupuk mataku. Air mata? Ya Tuhan, jangan sampai aku menangis lagi di tempat seperti ini. Aku kuat…aku kuat…aku kuat…aku kuat…aku kuat…
“ Mba? Nggak apa-apa kan?” Tuhan…mata ini, kenapa bisa begitu mirip? Tolong jangan runtuhkan tekadku di hari pertama aku membangunnya Tuhan…
“ Mba...? Hey, kamu…Joana? Ya, ya…kamu Joana Athalia kan? Aku nggak nyangka kamu masuk secepat ini lho! Kamu baik-baik aja kan? Oh, kita ke cafetaria dulu ya? Sepertinya kamu perlu minum sesuatu…”
“ Eh, tidak usah Pak, saya baik-baik saja kok. Lagipula ini kan hari pertama saya kerja, masa terlambat? Tidak enak dengan yang lain Pak.” Sekuat tenaga kudorong rasa sesak itu keluar dari hatiku. Aku tak boleh kalah.
“ Udah…nggak usah kaku begitu, ayo ikut saya, it’s an order!” dia menarik tenganku begitu saja seolah kami sudah kenal sejak lama dan aku hanya bisa pasrah. It’s an order dia bilang. Apa hal seperti ini masuk hitungan perintah kerja? Menemani bos minum? Atau dalam kasus ini, ditemani bos? Waktu kuliah Professional Development dulu kalau tidak salah, justru hal-hal seperti ini yang harus dihindari agar tidak di cap ‘unprofessional’. Bagaimana ini?.
RAGA. Namanya Raga. Aku berhasil membaca sekilas ID Card yang dijepitkan di saku kemejanya. Raga Narendra. Nama yang tidak berhasil aku ingat sepanjang perjalanan dari Lobby ke Cafetaria. Peristiwa seminggu yang lalu itu berpengaruh juga terhadap daya ingatku rupanya. Semoga tidak banyak yang hilang.
“ Teh manis panas?” tawarnya. Aku melihat ke sekelilingku. Kosong. Well, jam delapan pagi sudah sewajarnya Cafetaria kosong kan? Yang membuatku bingung, aku tak sadar kapan tepatnya kami sampai di Cafetaria ini? Tiba-tiba saja kami sudah duduk di meja paling luar. Fokus, Joana. Fokus.
“ Kopi hitam, kalau boleh.” Aku tak sempat berpikir panjang, itu yang pertama kali terlintas. Lagipula, aku kan bukan penggemar teh manis panas. Tidak, tanpa lemon. Tidak, semenjak Axel bilang tidak suka teh manis panas. Aku tidak suka semua yang tidak disukai Axel. Plagiat, dia bilang. Tapi menurutku, itu wujud kesediaanku untuk menjadi bagian dari dirinya. Untungnya, selera kami kurang lebih sama. Jadi tak terlalu banyak penambahan dalam daftar ‘tidak suka’-ku.
“ WOW!” Aku tak tahu pasti apakah ‘WOW’ itu merupakan ekspresi kekaguman, keterkejutan atau penasaran? Sepertinya yang ketiga lah yang paling mungkin. Kalau begitu aku harus siap-siap dengan ‘kenapa?’ yang mungkin akan ditanyakannya setelah memesan kopi hitam-ku.
“ Boleh tahu kenapa?” aku mengerutkan alis, pura-pura tidak paham. “Kopi hitam. Kenapa kopi hitam? Well, baru kali ini saya menemukan orang, perempuan, sedikit shock karena hampir jatuh ditabrak orang, minta kopi hitam untuk menenangkan diri.” Rasa penasaran yang terpancar jelas di wajahnya membuatku bingung harus menjawab apa. Aku mengangkat bahu, “ Itu yang pertama terlintas. ” Jawabku sambil sedikit menggelengkan kepala. Semoga dia percaya dan tidak bertanya lebih lanjut lagi.
“ Interesting. Tapi kok saya nggak begitu puas ya sama jawaban kamu?” kali ini dia yang mengangkat bahu, tidak ingin memperpanjang. “ Sudahlah. By the way, kamu yakin sudah siap bekerja hari ini? Saya lihat kamu sedikit kurang fokus sejak insiden tabrakan di lobby tadi?” matanya menganalisa, aku menunduk. “ Kamu juga nggak banyak bicara…” karena dari tadi Bapak yang memonopoli pembicaraan, jawabku dalam hati. Lagipula, wajahnya yang mengingatkanku pada Axel-lah yang membuatku goyah, tadi pagi kan kakiku sudah tegap. “ Saya bisa kasih kamu perpanjangan waktu untuk recovery lho…mau?”
“ Oh, tidak perlu Pak. Saya sudah berusaha keras untuk bisa bangkit hari ini, saya tidak ingin semuanya menjadi sia-sia hanya karena insiden kecil,” aku menarik nafas dalam, mencuri jeda untuk memikirkan pernyataan terbaik yang bisa kuberikan. “ Memulai kembali dari awal rasanya akan lebih sulit untuk saya ketimbang meneruskan satu langkah lagi ke depan. Tidak ada orang yang ingin mengulang bagian terberat dari sebuah perjuangan bukan?” itu kalimat terpanjang yang ku ucapkan hari ini, bravo. Dan sesungguhnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang ku ucapkan barusan. Fokus. Fokus.
Atasanku menganggukkan kepalanya beberapa kali, entah untuk apa. Aku menyesap kopi-ku, tidak sepanas yang kuharapkan sayangnya. Tapi demi alasan kesopanan, aku menyesapnya lagi, dan lagi. Ia nampak sedang berpikir. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Tidak mau tahu, lebih tepatnya, toh bukan urusanku juga. Melihat cangkirku yang sudah kosong tiga perempatnya, ia bertanya “ Siap memasuki dunia kerja?” katanya sambil berdiri dengan isyarat mengajak pergi. Aku mengangguk sambil mengumpulkan semangat yang ternoda, lalu berjalan mengikutinya. Sedikit terlintas dalam benakku, Lho…dia kan belum bayar? Atau aku yang ke- ge er-an berharap di traktir? Tapi melihat langkahnya yang penuh percaya diri, aku berprasangka baik saja dia punya bill khusus yang ditagihkan setiap akhir bulan. Jadi aku tidak perlu bertanya, atau inisiatif membayar sendiri. Biarkan sajalah.
***
Debut-ku pagi ini cukup lancar. Pak Raga sendiri yang memperkenalkan aku pada semua karyawan di ruangan besar bersekat-sekat itu. Aku sendiri mendapat meja paling ujung sebelah kanan, dekat dengan pantry dan toilet. Great. Posisi strategis untuk orang yang doyan minum dan buang air.
Aku diterima bekerja di perusahaan ini sebagai staf Inventory Controller, Divisi Supply Chain. Tugasku, ya sesuai dengan namanya, mengontrol persediaan barang di gudang. Memenuhi kebutuhan barang yang diminta oleh Divisi Sales -yang di pimpin oleh Pak Raga- untuk di jual oleh mereka. Aku dititipkan oleh Divisiku -yang bermarkas di kantor pusat, Jakarta- untuk menghandle lima area di Jawa Barat, beruntung sekali mereka menempatkanku di Bandung, di rumahku sendiri. Aku juga di perkenalkan kepada Kepala Gudang beserta admin-adminnya, karena memang nantinya pekerjaanku berhubungan dengan mereka. Aku mendapat partner yang lumayan helpful. Satu-satunya orang yang kutemui di gudang, yang yang tatapannya tidak membuatku risih. Thanks God, apa jadinya kalau harus bekerja sama -setiap hari- dengan orang yang kesan pertamanya saja kurang enak. Yah, semoga saja kerjasamaku dengannya bisa berjalan selencar hari ini. Semoga.
Jam 12.00 waktunya makan siang. Aku tak begitu lapar. Memang sejak kepergian Axel, rasanya aku tak pernah lapar. Aku makan dua kali sehari hanya demi menjaga ketahanan tubuhku, bahkan seringkali aku tak menyadari apa yang ku makan. Aku hanya tak ingin semakin merepotkan keluargaku dengan keterpurukanku kemarin. Aku sedang berpikir-pikir untuk memanfaatkan waktu istirahatku atau tidak. Lalu tiba-tiba saja aku membayangkan Axel menjemputku untuk lunch bareng.
“ Joana…keluar yuk, maksi…maksi…” terdengar suara seorang perempuan. Aku mengalihkan pandanganku dari layar monitor. Pauline, tercetak di ID Card-nya yang kutatap sekilas. Ia tersenyum ramah, cantik dalam balutan busana kerja bernuansa peach corak bunga yang serasi dengan kulit putih oriental-nya. Aku membalas senyumnya, berharap senyumku seindah miliknya.
“ Ayo…tapi sebenarnya aku nggak begitu lapar sih…”
“ Lapar nggak lapar yang penting keluar, nggak baik berlama-lama di depan komputer, mata kan butuh refreshing juga. Kamu kan bisa pilih menu ringan atau sekedar minum atau icip-icip punyaku juga boleh kok, yuk?”
“ Hmmm, boleh deh…” aku memastikan pekerjaanku sudah di save, lalu beranjak dari kursiku. Rasanya aku mulai menyukai Pauline dengan gayanya yang supel, ceria dan persuasif. Aku terkesan dengan kemampuannya mengajak, dan tiba-tiba saja aku sudah berjalan dengannya menuju Cafetaria.
Sangat berbeda dengan keadaan tadi pagi, kali ini Cafearia penuh dengan karyawan kelaparan. Terlihat dari antrian yang cukup panjang, seperti undangan pernikahan di hotel mewah pada jam yang sama. Pauline membawaku ke sebuah meja bertuan. Dua laki-laki, satu perempuan.
“ Hey guys, kenalin nih temen baru aku…” ujar Paulin menjawab tanda tanya di muka mereka. Dan aku pun berinisiatif memperkenalkan diri.
“ Hai, aku Joana, panggil Jo aja boleh…”
“ Hai, aku Mega…”
“ Nindy…”
“ Bagas…”
“ Nuno…”
Masing-masing menyalamiku dengan semangat dan senyuman bersahabat. Nuno menarik kursi kosong di meja sebelah untukku. Kekhawatiranku akan tidak diterima mulai memudar. Mudah-mudahan aku bisa berteman dengan mereka.
“ Oke. Semuanya udah ngumpul, saatnya wisata kuliner…” kali ini Bagas menyelamatkan kami dari kecanggungan akibat keberadaan orang asing di tengah-tengah mereka, aku. Ia menarik nafas panjang, kemudian melanjutkan, “ Kehormatan pertama akan di berikan pada…Joana! Silakan madam, mau pesan apa?” tangannya memegang bolpen dan secarik kertas, menunggu. Aku benar-benar tidak ingin makan sekarang, tapi aku tak mau mengecewakan teman baruku itu. Lalu aku ingat, tadi pagi aku sempat melihat-lihat daftar menu.
“ Coleslaw sama kopi hitam, please...” Jawabku.
“ Ouuw…asem dan pahit. Mudah-mudahan bukan refleksi hati kamu ya!” semua orang tertawa dan aku hanya bisa tersenyum sambil menelan ludah, tiba-tiba saja tenggorokanku terasa asam dan pahit. Bagas mungkin tidak akan mengira kalau kata-katanya sangat tepat, setidaknya untuk saat ini. Memori itu menghampiriku lagi. Petir, hujan, tangannya yang menggapai-gapai ke arahku, kata-kata terakhirnya, Tuhan…hujan hari itu telah meluruhkan rasa manis dalam hatiku, membilas warna dalam hidupku dan meninggalkan hitam disana. Hanya hitam. Aku masih tenggelam dalam lamunanku saat Pauline menggoyang-goyangkan tanganku.
“ Jo…Jo…Joana!” aku tergagap, lupa kalau aku sedang berada di tengah keramaian. Meja kami sudah penuh dengan pesanan teman-teman yang sempat samar kudengar, termasuk persananku. Berapa lama aku melamun tadi? “ Kamu baik-baik aja kan Jo? Kamu sakit?” empat pasang mata itu tampak khawatir.
“ Oh, maaf. Aku nggak apa-apa kok. Pesanannya udah sampe ya? Cepet banget…” jawabku.
“ Bukan pesenannya yang cepet banget, tapi kamu yang ‘pergi’-nya lama banget! Abis dari Hongkong ya bu? Dapet apa aja? Bagi-bagi dong, Cuma ceritanya juga boleh kok, kami siap mendengarkan episode petualangan kamu barusan…” well, kuakui itu cara yang sangat menarik untuk membuat seseorang bercerita. Sepertinya Nindy memiliki kelebihan dalam hal ‘interogasi cara halus’, next time aku harus mendapatkan ilmunya. Aku menyesap kopi-ku, kurang panas seperti tadi pagi. Atau jangan-jangan lamunanku yang mempercepat penguapan panasnya? Sambil menyuapkan coleslaw ke mulutku, aku memutuskan untuk menceritakan ‘petualangan’-ku tadi pada mereka.
“ Pauline…”
“ Alin.” Ralatnya.
“ Oke. Alin…kamu tahu nggak seharusnya aku mulai kerja seminggu yang lalu?” tanyaku memulai cerita. Alin memiringkan kepalanya, bingung.
“ I…ya…terus?”
“ Alasannya?”
“ Hmm, waktu itu aku dengar kamu katanya kecelakaan motor, bener begitu?”
“ Iya, aku memang mengalami kecelakaan motor di daerah Lembang. Dan kecelakaan itu…” aku menghirup nafas dalam-dalam, memenuhi rongga paru-paruku dengan sebanyak mungkin oksigen, “ merenggut nyawa suamiku…” aku sedikit tercekat menyebut istilah itu. Belum lagi aku terbiasa menyebutkannya, aku sudah harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku telah kehilangannya.
Aku melihat berbagai macam ekspresi di wajah teman-teman baruku. Kaget, kasihan, tak percaya.
“ Ya ampun Jo…aku nggak tahu ceritanya sampai setragis itu. Aku pikir cuma kecelakaan biasa. I’m so sorry. Gimana kejadiannya bisa sampai kayak gitu?” Aku terdiam. Tiba-tiba saja aku tak siap menceritakan kejadian itu. Aku merasakan ledakan emosi di dalam diriku, perlahan-lahan menggetarkan tubuhku.
“ Jo, relax…kalau kamu belum siap, kamu nggak perlu cerita sekarang, kita ngerti kok…jangan sampai kepenasaran kita-kita ini malah memerparah luka kamu…” lagi-lagi Nindy. Aku merasa damai seketika.
“ Nggak apa-apa kok. Ini memang pertama kalinya aku cerita, tapi aku…” merarik nafas dalam lagi, “kuat. Ya, aku kuat kok…” Dan mengalirlah ceritaku tentang kejadian itu. Aku memusatkan pandanganku pada satu titik di dinding hijau pucat Cafetaria, mendapat sedikit ketenangan dari warnanya. Ditambah lagi Mega yang memegang erat tanganku selama aku bercerita, seolah menyalurkan kekuatan padaku. Aku benar-benar berharap mereka bisa jadi sahabat untukku. Sahabat tempat aku berbagi tawa dan tangis. Menggantikan sahabat paling setia-ku, Axel.
***
Sunshine In The Rain - Part 1. Love Doesn't Put an End To Love
Ingin ku ulang hari, Ingin ku perbaiki, Kau sangat ku butuhkan, Beraninya kau pergi dan tak kembali…
Di mana letak surga itu? Biar ku gantikan tempatmu denganku…
Adakah pantas surga itu? Biar ku temukan untuk bersamamu…
Apalah artinya hidup tanpa kekasihku…Percuma, ku ada di sini…
Setiap hari, lagu ini yang menemaniku di iPod, di PC, di mobil, dimana pun aku bisa mengakses musik, sengaja atau tidak, selalu lagu ini yang ku putar di urutan pertama. Sejak kejadian itu, memang lagu ini yang dengan tepat melukiskan hatiku. Seperti terselimuti abu vulkanik gunung Merapi, hanya hitam yang tersisa di hidupku. Aku kehilangan warna, aku kehilangan rasa. Apapun terasa pahit. Aku kehilangan dia. Separuh hidupku.
Kecelakaan malam itu telah merenggut nyawa satu-satunya orang yang paling aku cintai. Tiga hari setelah pernikahan kami. Masih terekam jelas dalam ingatanku, sore itu…kami pergi ke sebuah café di Lembang, tempat pertama kali kami bertemu dulu. Kami memesan sepiring ketan bakar ayam spesial dan dua gelas yoghurt mocca, seperti biasanya. Kami menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, tertawa-tawa, ledek-ledekan membahas masa pendekatan sebelum pacaran, bersenang menikmati awal kebersamaan kami sebagai suami istri.
Aku dan Axel tidak memilih Kuta atau Senggigi untuk pergi berbulan madu. Kami sepakat untuk napak tilas ke tempat-tempat kenangan masa pacaran dulu, rasanya lebih spesial. Lagipula saat itu kami hanya punya waktu tiga hari. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan nutrisi bayi. Ajaibnya, Axel diterima di perusahaan distribusi pada hari yang sama dan gedung yang sama. Gedung yang sama! Semua terasa begitu sempurna. Kami sudah membayangkan bisa selalu berangkat dan pulang kerja sama-sama, makan siang sama-sama, tanpa harus repot janjian di titik tengah. Tak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang kami miliki saat itu.
Awan mendung mulai berarak meredupkan langit Lembang. Berkejaran dengan sang waktu yang hendak membuka malam. Kami pun bergegas. Axel memacu kuda besinya sekencang yang ia bisa. Jalanan berliku itu mulai basah ditetesi hujan. Aku memeluk Axel erat di belakang. Detak jantungku mulai tak beraturan. Aku memang tak pernah terlalu suka hujan. Sedikit petir saja cukup membuatku ketar ketir. Saat itu tak banyak petir. Hanya satu kali. Satu kali yang mengakhiri setengah hidupku. Awalnya kilat membelah langit, menyilaukan. Lalu tak sampai tiga detik kemudian aku mendengar suara petir terdahsyat seumur hidupku. Aku terlonjak kaget, ku surukkan kepalaku ke punggung Axel. Gerakan tiba-tiba itu membuat Axel kaget dan oleng di tikungan tajam. Belum sempat ia menstabilkan kembali motornya, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil Colt yang penuh dengan sayuran dikemudikan dengan kecepatan tinggi, tak sempat menginjak rem. Begitu menerut saksi mata yang ada di tempat kejadian.
Aku seolah tenggelam di balik punggung Axel, berusaha mendamaikan hatiku hingga tak tahu apa yang kami hadapi saat itu. Kejadiannya barlangsung sangat cepat, aku hanya mampu mengingat saat tubuhku tiba-tiba melayang di udara lalu terhempas, bergulingan di jalan aspal yang keras dan basah. Pandanganku kabur. Aku megap-megap, berusaha melepas helm dengan segenap kekuatan yang tersisa. Samar kulihat Axel tergeletak payah dan berdarah tak jauh dari tempatku. Dengan bertumpu pada kedua tangan lemahku, aku merangkak sedapatnya, berusaha menggapai tangan Axel yang terulur ke arahku. Dan meskipun teramat lirih, aku dapat dengan jelas mendengar kata demi kata yang diucapkan Axel dengan nafas tersenggal dan rasa sakit yang nyata…
“ I love you, sunshine…”
***
Selama tujuh hari penuh aku mengurung diri di dalam rumah, nyaris tak bisa percaya semua itu bukan sekedar mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit yang harus aku hadapi. Aku hanya berdiam diri di kamar atau teras belakang, di kursi ayunan tempat aku biasa menghabiskan waktu bersama Axel dulu. Saat bosan, biasanya aku menghabiskan waktu di kolam renang. Berharap air dapat menenangkan pikiranku. Aku berendam di pinggir kolam atau sekedar berjalan lambat-lambat di dalamnya. Kadang aku berenang bolak-balik berpuluh-puluh kali, berharap air membuatku kelelahan hingga aku bisa tidur sejenak walau tanpa lelap.
Aku beruntung. Karena terkesan dengan hasil psikotest dan interwiew-ku, perusahaan yang menerimaku bekerja memberikan kelonggaran waktu sebebas-bebasnya untuk aku menata hati sampai benar-benar siap untuk bekerja. Tapi aku tak tahu seperti apa konsep ‘benar-benar siap’ itu? Kenyataannya hati ini tak bisa rapi kembali, aku bahkan tak tahu apa aku bisa menatanya lagi atau tidak? Aku mungkin masih bisa hidup tanpa Axel, tapi aku tak bisa membayangkan hidup seperti apa yang bisa kujalani tanpa dia disisiku. Padahal ini bukan saatnya lagi untuk membayangkan, semuanya sudah terjadi dan aku ‘dipaksa’ untuk langsung menjalani.
Aku tahu aku tak boleh berlama-lama larut dalam kepedihan, Axel paling tidak suka melihat orang yang memelihara rasa sakit dan sengaja berlarut-larut dalam duka.
“ Heran deh, masa sepupu jauh aku yang cowoknya meninggal beberapa bulan yang lalu itu sampai sekarang nggak mau keluar rumah?! Kata ibunya, tiap hari tiap waktu kerjaannya nangiiiiiiiis terus ngeratapin kematian cowoknya itu. Badannya sampai habis karena nggak mau makan. Kok ada ya orang kayak gitu? Buang-buang waktu aja!”
“ Ya wajar dong schaadt, mereka kan udah mau nikah. Mana ada perempuan yang nggak sedih ditinggal pacarnya. Jangan kasar gitu ah, nggak baik, kalau aku yang ada di posisi dia malah mungkin lebih parah…”
“ No! kamu sama sekali nggak boleh kayak gitu sunshine. Kalau terjadi apa-apa sama aku nanti, kamu nggak boleh larut dalam kesedihan. Kamu harus bangkit dan lanjutin hidup kamu, lanjutin mimpi-mimpi kita…ya sayang ya? Aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu sedih…”
“ Dan aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu nggak ada di samping aku TAU! Udah dong ah, ngebayanginnya aja udah pengen mati! Jangan pernah tinggalin aku, please…Awas aja kalo berani!”
“ Oke, enough for the heavy. Tapi aku bener-bener minta maaf, aku harus ninggalin kamu sekarang sunshine…”
“ WHAT?! You’ve got to be kidding me! Kamu mau kemana?”
“ Aku mau ke toilet sayang, kebelet! hehehe…bye cantik, ketemu di parkiran ya!”
Aku tak mau membuat Axel tak bahagia seandainya ia tahu keadaanku sekarang. Death doesn’t put an end to love, bukan? Aku harus bisa kembali berdiri untuk melanjutkan mimpiku, mimpi Axel, mimpi-mimpi kami berdua. Axel memang sudah tak ada, tapi aku masih bisa mencintai kenangannya sebanyak yang aku mau.
***
Di mana letak surga itu? Biar ku gantikan tempatmu denganku…
Adakah pantas surga itu? Biar ku temukan untuk bersamamu…
Apalah artinya hidup tanpa kekasihku…Percuma, ku ada di sini…
Setiap hari, lagu ini yang menemaniku di iPod, di PC, di mobil, dimana pun aku bisa mengakses musik, sengaja atau tidak, selalu lagu ini yang ku putar di urutan pertama. Sejak kejadian itu, memang lagu ini yang dengan tepat melukiskan hatiku. Seperti terselimuti abu vulkanik gunung Merapi, hanya hitam yang tersisa di hidupku. Aku kehilangan warna, aku kehilangan rasa. Apapun terasa pahit. Aku kehilangan dia. Separuh hidupku.
Kecelakaan malam itu telah merenggut nyawa satu-satunya orang yang paling aku cintai. Tiga hari setelah pernikahan kami. Masih terekam jelas dalam ingatanku, sore itu…kami pergi ke sebuah café di Lembang, tempat pertama kali kami bertemu dulu. Kami memesan sepiring ketan bakar ayam spesial dan dua gelas yoghurt mocca, seperti biasanya. Kami menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, tertawa-tawa, ledek-ledekan membahas masa pendekatan sebelum pacaran, bersenang menikmati awal kebersamaan kami sebagai suami istri.
Aku dan Axel tidak memilih Kuta atau Senggigi untuk pergi berbulan madu. Kami sepakat untuk napak tilas ke tempat-tempat kenangan masa pacaran dulu, rasanya lebih spesial. Lagipula saat itu kami hanya punya waktu tiga hari. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan nutrisi bayi. Ajaibnya, Axel diterima di perusahaan distribusi pada hari yang sama dan gedung yang sama. Gedung yang sama! Semua terasa begitu sempurna. Kami sudah membayangkan bisa selalu berangkat dan pulang kerja sama-sama, makan siang sama-sama, tanpa harus repot janjian di titik tengah. Tak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang kami miliki saat itu.
Awan mendung mulai berarak meredupkan langit Lembang. Berkejaran dengan sang waktu yang hendak membuka malam. Kami pun bergegas. Axel memacu kuda besinya sekencang yang ia bisa. Jalanan berliku itu mulai basah ditetesi hujan. Aku memeluk Axel erat di belakang. Detak jantungku mulai tak beraturan. Aku memang tak pernah terlalu suka hujan. Sedikit petir saja cukup membuatku ketar ketir. Saat itu tak banyak petir. Hanya satu kali. Satu kali yang mengakhiri setengah hidupku. Awalnya kilat membelah langit, menyilaukan. Lalu tak sampai tiga detik kemudian aku mendengar suara petir terdahsyat seumur hidupku. Aku terlonjak kaget, ku surukkan kepalaku ke punggung Axel. Gerakan tiba-tiba itu membuat Axel kaget dan oleng di tikungan tajam. Belum sempat ia menstabilkan kembali motornya, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil Colt yang penuh dengan sayuran dikemudikan dengan kecepatan tinggi, tak sempat menginjak rem. Begitu menerut saksi mata yang ada di tempat kejadian.
Aku seolah tenggelam di balik punggung Axel, berusaha mendamaikan hatiku hingga tak tahu apa yang kami hadapi saat itu. Kejadiannya barlangsung sangat cepat, aku hanya mampu mengingat saat tubuhku tiba-tiba melayang di udara lalu terhempas, bergulingan di jalan aspal yang keras dan basah. Pandanganku kabur. Aku megap-megap, berusaha melepas helm dengan segenap kekuatan yang tersisa. Samar kulihat Axel tergeletak payah dan berdarah tak jauh dari tempatku. Dengan bertumpu pada kedua tangan lemahku, aku merangkak sedapatnya, berusaha menggapai tangan Axel yang terulur ke arahku. Dan meskipun teramat lirih, aku dapat dengan jelas mendengar kata demi kata yang diucapkan Axel dengan nafas tersenggal dan rasa sakit yang nyata…
“ I love you, sunshine…”
***
Selama tujuh hari penuh aku mengurung diri di dalam rumah, nyaris tak bisa percaya semua itu bukan sekedar mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit yang harus aku hadapi. Aku hanya berdiam diri di kamar atau teras belakang, di kursi ayunan tempat aku biasa menghabiskan waktu bersama Axel dulu. Saat bosan, biasanya aku menghabiskan waktu di kolam renang. Berharap air dapat menenangkan pikiranku. Aku berendam di pinggir kolam atau sekedar berjalan lambat-lambat di dalamnya. Kadang aku berenang bolak-balik berpuluh-puluh kali, berharap air membuatku kelelahan hingga aku bisa tidur sejenak walau tanpa lelap.
Aku beruntung. Karena terkesan dengan hasil psikotest dan interwiew-ku, perusahaan yang menerimaku bekerja memberikan kelonggaran waktu sebebas-bebasnya untuk aku menata hati sampai benar-benar siap untuk bekerja. Tapi aku tak tahu seperti apa konsep ‘benar-benar siap’ itu? Kenyataannya hati ini tak bisa rapi kembali, aku bahkan tak tahu apa aku bisa menatanya lagi atau tidak? Aku mungkin masih bisa hidup tanpa Axel, tapi aku tak bisa membayangkan hidup seperti apa yang bisa kujalani tanpa dia disisiku. Padahal ini bukan saatnya lagi untuk membayangkan, semuanya sudah terjadi dan aku ‘dipaksa’ untuk langsung menjalani.
Aku tahu aku tak boleh berlama-lama larut dalam kepedihan, Axel paling tidak suka melihat orang yang memelihara rasa sakit dan sengaja berlarut-larut dalam duka.
“ Heran deh, masa sepupu jauh aku yang cowoknya meninggal beberapa bulan yang lalu itu sampai sekarang nggak mau keluar rumah?! Kata ibunya, tiap hari tiap waktu kerjaannya nangiiiiiiiis terus ngeratapin kematian cowoknya itu. Badannya sampai habis karena nggak mau makan. Kok ada ya orang kayak gitu? Buang-buang waktu aja!”
“ Ya wajar dong schaadt, mereka kan udah mau nikah. Mana ada perempuan yang nggak sedih ditinggal pacarnya. Jangan kasar gitu ah, nggak baik, kalau aku yang ada di posisi dia malah mungkin lebih parah…”
“ No! kamu sama sekali nggak boleh kayak gitu sunshine. Kalau terjadi apa-apa sama aku nanti, kamu nggak boleh larut dalam kesedihan. Kamu harus bangkit dan lanjutin hidup kamu, lanjutin mimpi-mimpi kita…ya sayang ya? Aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu sedih…”
“ Dan aku nggak akan pernah bahagia kalau kamu nggak ada di samping aku TAU! Udah dong ah, ngebayanginnya aja udah pengen mati! Jangan pernah tinggalin aku, please…Awas aja kalo berani!”
“ Oke, enough for the heavy. Tapi aku bener-bener minta maaf, aku harus ninggalin kamu sekarang sunshine…”
“ WHAT?! You’ve got to be kidding me! Kamu mau kemana?”
“ Aku mau ke toilet sayang, kebelet! hehehe…bye cantik, ketemu di parkiran ya!”
Aku tak mau membuat Axel tak bahagia seandainya ia tahu keadaanku sekarang. Death doesn’t put an end to love, bukan? Aku harus bisa kembali berdiri untuk melanjutkan mimpiku, mimpi Axel, mimpi-mimpi kami berdua. Axel memang sudah tak ada, tapi aku masih bisa mencintai kenangannya sebanyak yang aku mau.
***
Rabu, 17 Februari 2010
Cintamorfosa part 3. Princess of The Darkness
Wisuda. Beruntung sekali aku masuk dalam kepanitiaan, aku bisa melihatmu mungkin untuk terakhir kali sebagai mahasiswa. Kamu dengan toga adalah best view hari itu. Nampak gagah sekali, walau ada sedikit garis yang tak biasa di wajahmu. Hatiku tak tenang. Apa kamu sedang menghadapi masalah besar pangeran? sorot mata itu tak lagi teduh mendamaikan, terlihat gelisah dan sesekali menatap kosong. Are you okay? ingin sekali aku ada disana, aku tak keberatan jika kau pinjam bahuku seharian untuk sekedar menyandarkan penat. Apapun, asal kau kembali bersinar.
Malam inaugurasi, lagi-lagi aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Punggungmu saja sudah cukup. Aku ingat alm. ayah sering bilang "barang siapa yang bersyukur, maka Allah aka menambahnya". Tentu saja aku mengimani hal ini setengah mati dan untuk kesekian kalinya ini terbukti. Aku kehilangan sosokmu, entah dimana. Mungkin pertemuan terakhir dengan teman-teman ataukah memanjakan bidadari hatimu? aku tak tahu. Kuhela nafasku dengan berat, sangat berat.
"Princess...capek? aku pijitin ya..." aku tak berani menoleh ke belakang. Aku tahu itu kamu. Tak pernah seorang pun memanggilku dengan sebutan itu, semerdu itu. Princess. Kamu tidak pernah memanggilku Azalea Puteri. Tidak 'Zee' seperti keluarga dan temen-teman kebanyakan, tidak 'Put' seperti para dosen, tidak juga 'Teri' seperti sahabat-sahabatku saat bergila-ria bersama. Princess menurutmu lebih memunculkan sisi feminin dibalik celana jeans dan blouse hitam yang selalu ku kenakan. Princess of the darkness.
Aku ingin menikmati momen itu lebih lama lagi, tapi aku takut kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati wajahmu dari dekat.
"Selamat ya, lulus kuliah bisa langsung kerja..." kamu pun nampak sangat kebingungan waktu itu.
"Kerja? maksud kamu? aku malah masih bingung abis ini mau ngapain, ngelamar kemana dan minta gaji berapa?" aku suka, wajah kamu mirip anak kecil kalau sedang bingung.
"Masa? nih, aku sampai merem melek kamu pijitin. Kalau buka praktek, tukang pijat amatir biasanya pasang tarif dua puluh sampai tiga puluh ribuan durasi dua jam, lumayan kan buat beli kuwaci..." kamu pun tergelak, begitu lepasnya sampai beberapa pasang mata menoleh penasaran ke arah kita.
"Kamu tuh ya, selaluuu aja bikin aku ketawa kayak gini"
"Ih, aku seriuuuus!"
"Iya sayang..." DEG!!! sayang. Kamu bilang SAYANG?! untuk beberapa saat waktu rasanya berhenti berputar. Aku terdiam tak mampu berkata-kata, begitu pula dengan kamu. Sekilas terlihat kamu menggigit bibir, entah itu untuk kejujuran yang tak sengaja terungkap, sebuah kekeliruan yang patut disesali atau sekedar hal biasa namun salah objek? aku tak berani menyimpulkan. Bahkan sampai beberapa hari yang lalu aku tak pernah tahu apa artinya. Kamu tak pernah menjelaskannya, atau lebih tepat dikatakan tak sempat, karena saat mulutmu sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, Kiera datang dengan senyum 'dia-milikku'-nya dan membawamu pergi menjauh dari aku, dari hidupku, untuk waktu yang sangat lama.
Tiba-tiba saja seseorang memegang pundakku. "Princess...capek? aku pijitin ya..." Moses menirukan kata-katamu dengan nada amat sinis dan mengejek. Rautnya menunjukkan kekesalan yang sengaja tidak ia sembunyikan, seolah ingin dunia tahu apa yang ia rasakan.
"Kamu..."
"Iya, aku disini sedari tadi. Kamu sadar nggak sih? aku panik nyariin kamu kemana-mana, tapi apa yang aku dapat? kamu malah enak-enakan dipijitin sambil ketawa-ketawa. Zee...dia itu milik Kiera, dia lebih MEMILIH cewek barbie anak konglomerat itu daripada kamu. Dia cuma cowok matre...dia nggak pantes dapetin cinta kamu! Jangan kamu rendahin diri kamu seolah-olah kamu ini nggak laku sampai harus mengemis pada kekasih orang apalagi orangnya itu dia!"
Aku shock. Tak pernah menyangka Moses akan mengeluarkan kata-kata sepedas itu. Dia bukan saja secara tidak langsung merendahkan aku, tapi dia juga menghina kamu, aku tak bisa terima itu. Lagi pula untuk apa dia repot mencariku? bukankah dia yang sejak awal asyik dengan gadis-paras-timur tengah-nya itu? lalu kenapa aku tak boleh sejenak dengan kamu padahal kita hanya sekedar ngobrol? Ada yang bergejolak di hatiku. Kesal, marah, tak terima dan sejuta kenapa yang ingin ku muntahkan.
"Namanya Jibril. Dan dia bukan cowok matre..." ucapku dengan rahang yang terasa mengeras.
"Whatever! aku antar kamu pulang sekarang." seluruh tubuhku memanas, aku ingin teriak, aku ingin berontak, aku belum sekesai bicara, tapi yang terjadi aku hanya diam membeku. Dia menyeretku masuk ke mobilnya dengan kasar, menyetir seperti orang kesetan. Aku mati-matian menahan tangis dan kesal sepanjang jalan Lalu tiba-tiba saja dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan
"Tadi aku berantem lagi sama Nawa, cuma gara-gara dia buka handphone aku dan banyak sms kamu di inbox-ku. Dia nggak suka aku dekat dengan kamu, dengan perempuan manapun selain dia. Dia nampar aku Zee...selalu begitu, mempermalukan aku di depan umum. Dia banting handphoneku, terus pergi gitu aja. Aku butuh kamu, cuma kamu yang bisa nenangin aku. Aku cari kamu kemana-mana, kamu alah lagi asyik bercanda dngan cowok matre itu, aku bete tau..."
WHAT?! aku semakin tak percaya. Bisa-bisanya dia bicara semanja itu setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku ini apa? propertinya yang selalu ada saat dia butuh? atau sekedar extacy untuk melarikan diri dari permasalahan dan melepaskan penat?! Aku keluar dari mobilnya dengan kekecewaan yang amat sangat, menyetop taxi yang lewat, lalu pulang. Kumatikan ponsel. Aku yakin dia pasti panik lalu menghujaniku dengan puluhan missed call dan sms, tapi ku tak peduli, aku hanya ingin sendiri.
Malam inaugurasi, lagi-lagi aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Punggungmu saja sudah cukup. Aku ingat alm. ayah sering bilang "barang siapa yang bersyukur, maka Allah aka menambahnya". Tentu saja aku mengimani hal ini setengah mati dan untuk kesekian kalinya ini terbukti. Aku kehilangan sosokmu, entah dimana. Mungkin pertemuan terakhir dengan teman-teman ataukah memanjakan bidadari hatimu? aku tak tahu. Kuhela nafasku dengan berat, sangat berat.
"Princess...capek? aku pijitin ya..." aku tak berani menoleh ke belakang. Aku tahu itu kamu. Tak pernah seorang pun memanggilku dengan sebutan itu, semerdu itu. Princess. Kamu tidak pernah memanggilku Azalea Puteri. Tidak 'Zee' seperti keluarga dan temen-teman kebanyakan, tidak 'Put' seperti para dosen, tidak juga 'Teri' seperti sahabat-sahabatku saat bergila-ria bersama. Princess menurutmu lebih memunculkan sisi feminin dibalik celana jeans dan blouse hitam yang selalu ku kenakan. Princess of the darkness.
Aku ingin menikmati momen itu lebih lama lagi, tapi aku takut kehilangan kesempatan untuk dapat menikmati wajahmu dari dekat.
"Selamat ya, lulus kuliah bisa langsung kerja..." kamu pun nampak sangat kebingungan waktu itu.
"Kerja? maksud kamu? aku malah masih bingung abis ini mau ngapain, ngelamar kemana dan minta gaji berapa?" aku suka, wajah kamu mirip anak kecil kalau sedang bingung.
"Masa? nih, aku sampai merem melek kamu pijitin. Kalau buka praktek, tukang pijat amatir biasanya pasang tarif dua puluh sampai tiga puluh ribuan durasi dua jam, lumayan kan buat beli kuwaci..." kamu pun tergelak, begitu lepasnya sampai beberapa pasang mata menoleh penasaran ke arah kita.
"Kamu tuh ya, selaluuu aja bikin aku ketawa kayak gini"
"Ih, aku seriuuuus!"
"Iya sayang..." DEG!!! sayang. Kamu bilang SAYANG?! untuk beberapa saat waktu rasanya berhenti berputar. Aku terdiam tak mampu berkata-kata, begitu pula dengan kamu. Sekilas terlihat kamu menggigit bibir, entah itu untuk kejujuran yang tak sengaja terungkap, sebuah kekeliruan yang patut disesali atau sekedar hal biasa namun salah objek? aku tak berani menyimpulkan. Bahkan sampai beberapa hari yang lalu aku tak pernah tahu apa artinya. Kamu tak pernah menjelaskannya, atau lebih tepat dikatakan tak sempat, karena saat mulutmu sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, Kiera datang dengan senyum 'dia-milikku'-nya dan membawamu pergi menjauh dari aku, dari hidupku, untuk waktu yang sangat lama.
Tiba-tiba saja seseorang memegang pundakku. "Princess...capek? aku pijitin ya..." Moses menirukan kata-katamu dengan nada amat sinis dan mengejek. Rautnya menunjukkan kekesalan yang sengaja tidak ia sembunyikan, seolah ingin dunia tahu apa yang ia rasakan.
"Kamu..."
"Iya, aku disini sedari tadi. Kamu sadar nggak sih? aku panik nyariin kamu kemana-mana, tapi apa yang aku dapat? kamu malah enak-enakan dipijitin sambil ketawa-ketawa. Zee...dia itu milik Kiera, dia lebih MEMILIH cewek barbie anak konglomerat itu daripada kamu. Dia cuma cowok matre...dia nggak pantes dapetin cinta kamu! Jangan kamu rendahin diri kamu seolah-olah kamu ini nggak laku sampai harus mengemis pada kekasih orang apalagi orangnya itu dia!"
Aku shock. Tak pernah menyangka Moses akan mengeluarkan kata-kata sepedas itu. Dia bukan saja secara tidak langsung merendahkan aku, tapi dia juga menghina kamu, aku tak bisa terima itu. Lagi pula untuk apa dia repot mencariku? bukankah dia yang sejak awal asyik dengan gadis-paras-timur tengah-nya itu? lalu kenapa aku tak boleh sejenak dengan kamu padahal kita hanya sekedar ngobrol? Ada yang bergejolak di hatiku. Kesal, marah, tak terima dan sejuta kenapa yang ingin ku muntahkan.
"Namanya Jibril. Dan dia bukan cowok matre..." ucapku dengan rahang yang terasa mengeras.
"Whatever! aku antar kamu pulang sekarang." seluruh tubuhku memanas, aku ingin teriak, aku ingin berontak, aku belum sekesai bicara, tapi yang terjadi aku hanya diam membeku. Dia menyeretku masuk ke mobilnya dengan kasar, menyetir seperti orang kesetan. Aku mati-matian menahan tangis dan kesal sepanjang jalan Lalu tiba-tiba saja dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan
"Tadi aku berantem lagi sama Nawa, cuma gara-gara dia buka handphone aku dan banyak sms kamu di inbox-ku. Dia nggak suka aku dekat dengan kamu, dengan perempuan manapun selain dia. Dia nampar aku Zee...selalu begitu, mempermalukan aku di depan umum. Dia banting handphoneku, terus pergi gitu aja. Aku butuh kamu, cuma kamu yang bisa nenangin aku. Aku cari kamu kemana-mana, kamu alah lagi asyik bercanda dngan cowok matre itu, aku bete tau..."
WHAT?! aku semakin tak percaya. Bisa-bisanya dia bicara semanja itu setelah apa yang dia lakukan padaku. Aku ini apa? propertinya yang selalu ada saat dia butuh? atau sekedar extacy untuk melarikan diri dari permasalahan dan melepaskan penat?! Aku keluar dari mobilnya dengan kekecewaan yang amat sangat, menyetop taxi yang lewat, lalu pulang. Kumatikan ponsel. Aku yakin dia pasti panik lalu menghujaniku dengan puluhan missed call dan sms, tapi ku tak peduli, aku hanya ingin sendiri.
Cintamorfosa part 2. Kunci Hati
Ada anak baru di himpunan. Moses namanya. Awalnya aku pikir dia pendiam, tapi setelah kenal, dia lumayan asyik juga. Dia banyak bercerita. Tentang Musik, film, komputer, kartun, bahkan tentang irama hujan yang paling disukainya. Banyak persamaan diantara aku dan dia yang mau tak mau membuat kami dekat. Entah kenapa aku mulai merasa dia mendekati aku. Dari pembicaraannya aku merasa dia mulai mencari-cari kunci untuk membuka pintu hatiku yang selalu kututup rapat. Bukannya aku ge er, tapi instingku berkata begitu.
Aku mulai merasa takut. Takut dia berhasil menemukan kunci itu. Kunci yang aku titipkan di hatimu. Sempat aku berniat untuk menjauh, tapi tiba-tiba aku sadar, aku terperangkap. Terjerat dalam gayanya. Semua itu membuat aku bingung sendiri. Ada apa ini? Aku tahu dia mulai mendekatiku, aku tahu dia berniat masuk ke dalam hatiku dan aku belum siap untuk itu, tapi kenapa ada sedikit hangat di hatiku? Suara hatiku yang paling lemah menolak untuk menjauh darinya. Haruskah aku biarkan ia semakin dalam mengenalku?.
Dia punya pacar. Aku tahu itu saat dia menemaniku ke BIP, mencari jeans pesanan kakakku. Ponselnya berdering. “Iya buuu…sabar sebentar, aku juga lagi di jalan. Tunggu aja di rumah, bentar lagi aku pulang ya…” Entah kenapa tiba-tiba hatiku tak tenang. Apa dia bicara dengan ibunya? Mungkin ibunya minta diantar ke suatu tempat. Tapi aku merasa ada yang ganjil. Mungkinkah pacarnya? Oh come on…memangnya kenapa kalau dia punya pacar? Tunggu. PACAR. DIA PUNYA PACAR? Terus kenapa dia mendekati aku? Kenapa dia bertingkah seolah-olah dia menyukai aku dan berniat mendapatkan perhatianku? Apa aku kegeeran? GREAT!
Kali kedua, aku yakin dia sudah punya pacar. Bagaimana tidak, tengah rapat himpunan dia disibukkan dengan dering ponselnya. Dari gerak-geriknya, seolah dia ingin acara cepat selesai dan melesat pergi. Selesai rapat dia berjalan jauh di depanku, sedikit kecewa karena biasanya ia selalu menjejeri langkahku. Di dapan kampus terlihat seorang perempuan sedang menunggu seseorang. Benar saja, Moses lah yang dia tunggu. Mereka berlalu begitu saja tanpa tahu ada sepasang mata menatap miris kearah mereka, milikku. Aku tak tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Merasa di khianati…no way! Ini gila, ini tak boleh dibiarkan. Lalu apa maksudnya selama ini?! AAARRRGGGHHH!!!
Keesokan harinya dengan rasa ingin tahu yang ditutup-tutupi, aku nekat bertanya “kemarin di jemput pacarnya ya? Deuh, romantis banget…Kapan-kapan kenalin dong…anak mana dia?” kubuat suaraku setenang mungkin seolah tak ada apa-apa. “anak ITB…” jawabnya malas. Lalu dia bercerita tentang pacarnya yang menurut dia possessive mendekati saiko. Selalu curiga, cemburu berlebihan, telat balas sms langsung di telpon, di cecar dengan berbagai pertanyaan menuduh yang menyudutkan. Setiap ketemu selalu cek cok. Pernah sekali Moses minta putus, perempuan itu nekat menyilet nadinya. Kesimpulan yang bisa kuambil, Moses terjebak dalam hubungan tak sehat dan dia tak bisa melepaskan diri. Moses yang malang. Ia butuh teman untuk menetralkan semua kepenatannya. Aku…ah sudahlah.
Hari-hari berikutnya tiba-tiba saja aku merasa begitu dekat dengannya. Rasanya tak lengkap bila sehari saja aku tak bertemu dia. Lalu aku pun berhadapan dengan kenyataan yang selama ini aku takutkan. Aku suka dia. Aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Hati ini masih untuk kamu, tapi entah kenapa rasanya aku ingin dia selalu ada di dekatku. Apa aku serakah? Ataukah ini sekedar pelarian semata? Kuharap bukan keduanya.
Kamu tahu, dia begitu berbeda dengan kamu. Dia selalu tampil rapi, bersih dan wangi, selalu memperhatikan penampilan. Dia tidak suka aktivitas berat yang membuatnya banjir keringat dan dia mencuci celana jeans-nya dua hari sekali. Aku nyaman ada di dekatnya, setidaknya tidak menyusahkan pembuluh rapuh di hidungku yang sangat sensitif ini. Tapi kadang aku kangen kamu dengan gaya kamu yang biasa saja. Kangen kamu yang datang ke kampus dengan peluh dan tangan penuh oli karena motor mogok di tengah jalan atau kehabisan bensin dan kamu harus mendorong si kukut melewati tiga perempatan sampai kampus. Kangen kamu dengan celana jeans biru navy dekil kesayanganmu itu. Dia smart, kreatif dan humoris. Dia main musik juga seperti kamu. Dia vokalis. Kamu ingat betapa aku ingin punya pacar seorang vokalis band? Aku pernah cerita tentang itu sekali. Dulu seringkali aku membayangkan ada seorang lelaki yang menyanyikan sebuah lagu romantis untukku di depan banyak orang dengan sekuntum mawar di tangannya. Dan aku sempat berhasil mengikhlaskan impian itu saat kutahu kamu main drum. Rasanya aku rela melepaskan semua impianku dan hijrah menyukai apapun yang ada di dirimu. Tahukah kamu? Tiba-tiba saja aku begitu kangen kamu. Semoga kamu bahagia dengannya. Beneran.
Aku mulai merasa takut. Takut dia berhasil menemukan kunci itu. Kunci yang aku titipkan di hatimu. Sempat aku berniat untuk menjauh, tapi tiba-tiba aku sadar, aku terperangkap. Terjerat dalam gayanya. Semua itu membuat aku bingung sendiri. Ada apa ini? Aku tahu dia mulai mendekatiku, aku tahu dia berniat masuk ke dalam hatiku dan aku belum siap untuk itu, tapi kenapa ada sedikit hangat di hatiku? Suara hatiku yang paling lemah menolak untuk menjauh darinya. Haruskah aku biarkan ia semakin dalam mengenalku?.
Dia punya pacar. Aku tahu itu saat dia menemaniku ke BIP, mencari jeans pesanan kakakku. Ponselnya berdering. “Iya buuu…sabar sebentar, aku juga lagi di jalan. Tunggu aja di rumah, bentar lagi aku pulang ya…” Entah kenapa tiba-tiba hatiku tak tenang. Apa dia bicara dengan ibunya? Mungkin ibunya minta diantar ke suatu tempat. Tapi aku merasa ada yang ganjil. Mungkinkah pacarnya? Oh come on…memangnya kenapa kalau dia punya pacar? Tunggu. PACAR. DIA PUNYA PACAR? Terus kenapa dia mendekati aku? Kenapa dia bertingkah seolah-olah dia menyukai aku dan berniat mendapatkan perhatianku? Apa aku kegeeran? GREAT!
Kali kedua, aku yakin dia sudah punya pacar. Bagaimana tidak, tengah rapat himpunan dia disibukkan dengan dering ponselnya. Dari gerak-geriknya, seolah dia ingin acara cepat selesai dan melesat pergi. Selesai rapat dia berjalan jauh di depanku, sedikit kecewa karena biasanya ia selalu menjejeri langkahku. Di dapan kampus terlihat seorang perempuan sedang menunggu seseorang. Benar saja, Moses lah yang dia tunggu. Mereka berlalu begitu saja tanpa tahu ada sepasang mata menatap miris kearah mereka, milikku. Aku tak tahu apa yang terjadi dalam hatiku. Merasa di khianati…no way! Ini gila, ini tak boleh dibiarkan. Lalu apa maksudnya selama ini?! AAARRRGGGHHH!!!
Keesokan harinya dengan rasa ingin tahu yang ditutup-tutupi, aku nekat bertanya “kemarin di jemput pacarnya ya? Deuh, romantis banget…Kapan-kapan kenalin dong…anak mana dia?” kubuat suaraku setenang mungkin seolah tak ada apa-apa. “anak ITB…” jawabnya malas. Lalu dia bercerita tentang pacarnya yang menurut dia possessive mendekati saiko. Selalu curiga, cemburu berlebihan, telat balas sms langsung di telpon, di cecar dengan berbagai pertanyaan menuduh yang menyudutkan. Setiap ketemu selalu cek cok. Pernah sekali Moses minta putus, perempuan itu nekat menyilet nadinya. Kesimpulan yang bisa kuambil, Moses terjebak dalam hubungan tak sehat dan dia tak bisa melepaskan diri. Moses yang malang. Ia butuh teman untuk menetralkan semua kepenatannya. Aku…ah sudahlah.
Hari-hari berikutnya tiba-tiba saja aku merasa begitu dekat dengannya. Rasanya tak lengkap bila sehari saja aku tak bertemu dia. Lalu aku pun berhadapan dengan kenyataan yang selama ini aku takutkan. Aku suka dia. Aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Hati ini masih untuk kamu, tapi entah kenapa rasanya aku ingin dia selalu ada di dekatku. Apa aku serakah? Ataukah ini sekedar pelarian semata? Kuharap bukan keduanya.
Kamu tahu, dia begitu berbeda dengan kamu. Dia selalu tampil rapi, bersih dan wangi, selalu memperhatikan penampilan. Dia tidak suka aktivitas berat yang membuatnya banjir keringat dan dia mencuci celana jeans-nya dua hari sekali. Aku nyaman ada di dekatnya, setidaknya tidak menyusahkan pembuluh rapuh di hidungku yang sangat sensitif ini. Tapi kadang aku kangen kamu dengan gaya kamu yang biasa saja. Kangen kamu yang datang ke kampus dengan peluh dan tangan penuh oli karena motor mogok di tengah jalan atau kehabisan bensin dan kamu harus mendorong si kukut melewati tiga perempatan sampai kampus. Kangen kamu dengan celana jeans biru navy dekil kesayanganmu itu. Dia smart, kreatif dan humoris. Dia main musik juga seperti kamu. Dia vokalis. Kamu ingat betapa aku ingin punya pacar seorang vokalis band? Aku pernah cerita tentang itu sekali. Dulu seringkali aku membayangkan ada seorang lelaki yang menyanyikan sebuah lagu romantis untukku di depan banyak orang dengan sekuntum mawar di tangannya. Dan aku sempat berhasil mengikhlaskan impian itu saat kutahu kamu main drum. Rasanya aku rela melepaskan semua impianku dan hijrah menyukai apapun yang ada di dirimu. Tahukah kamu? Tiba-tiba saja aku begitu kangen kamu. Semoga kamu bahagia dengannya. Beneran.
Cintamorfosa part. 1 Kiera Osman
Aku tak pernah tahu kau mencintaiku atau tidak. Rasanya aku ingin kembali mengulang tahun-tahun kebersamaan kita. Kebersamaan yang dulu terasa seperti sayur pare buatan ibuku. Pahit, kesat, tapi aku kecanduan. Kebersamaan yang kupikir hanya kunikmati seorang diri. Memandangi punggungmu sudah cukup bagiku untuk beroleh rasa tenang, karena saat kau berbalik dan mata kita tak sengaja beradu pandang, hatiku jadi tak karuan. Momen seperti itu membuatku sibuk menenangkan keinginan-keinginan yang entah darimana datangnya, tapi tiba-tiba menyerbu. Ingin menatapmu lebih lama lagi, ingin menikmati getaran seperti tersengat belut listrik saat kau menimpukku dengan senyummu dan saat kau memanggil namaku, ada yang meletup-letup di dalam dadaku, hingga kadang aku khawatir kau dapat mendengar bunyi letupannya. Sampai pada saat perempuan itu melangkah dengan kepercayaan diri yang penuh di depanku, menghampirimu, lalu bergelayut manja di lenganmu. Musnah seketika keindahan yang kurasa.
KIERA OSMAN. Namanya saja sudah mentereng, orangnya apalagi. Aku tak heran melihat kamu begitu senangnya saat dia minta kamu temani ke acara “Student Nite”. Aku juga tak heran saat orang-orang mulai membicarakan kedekatan kalian. Lalu saat kamu bilang kalian resmi pacaran, aku sama sekali tak heran. Aku sakit. Rasanya ingin lari dari kenyataan bahwa mungkin aku takkan bisa lagi menikmati saat-saat mata kita tak sengaja beradu pandang, karena sekarang matamu hanya akan menatap dia. Menatap bidadari yang memiliki hatimu.
Terkadang aku membayangkan, andai seperti di sinetron, tiba-tiba ada orang kaya yang mengclaim bahwa aku ini anaknya yang dulu diculik orang atau tertukar di rumah sakit atau apapun lah itu kejadiannya, mungkin akan lebih mudah untukku. Aku bisa kabur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri sekalian untuk menjaga mata ini agar tidak melihat putri tunggal raja outlet di Bandung itu menggelayuti tanganmu. Bagaimana tidak, kita kuliah di tempat yang sama. Masih untung kita beda fakultas, aku tak tahu apa jadinya bila kita satu fakultas juga. Atau paling tidak ada hal lain yang bisa mengalihkan perhatianku, pikiranku dan bahkan hatiku dari kamu. Mungkin.
Kamu mulai jarang terlihat nongkrong di tempat biasa. Bidadari itukah yang menyita waktumu? Disatu sisi aku merasa sedikit lega tidak perlu melihat kemesraan kalian, tapi disisi lain aku kangen sekali sama kamu. Aku ingin melihat kamu dengan senyum itu lagi, menyapaku dan menawariku makanan apapun yang ada di tanganmu, selalu. Aku masih ingat, kamu paling suka makan kuwaci biji bunga matahari. Dan kebiasaan nyampahmu itu membuat si Mbah OB menjadi berang karena sampah kuwacimu menambah berat pekerjaannya. Dan si Mbah masih dendam sama kamu sampai sekarang.
Tanpa kehadiran kamu, perkuliahan membuatku sibuk. Mungkin lebih tepat dibilang aku menyibukkan diri dengan perkuliahanku. Perpustakaan, tugas kelompok, rapat himpunan mahasiswa, ketemu dosen atau sekedar kumpul dengan teman-teman di kantin belakang. Sesekali masih saja ada yang membicarakan kamu dan dia, sesak dada ini mendengarnya, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa. Terbiasa mencari kesibukan lain untuk menghindarkan telingaku dari pembicaraan mereka. Dua bulan, kupikir aku sudah berhasil melupakanmu. Setidaknya aku sudah tidak terlalu berharap ketemu kamu dan mencuri senyummu.
KIERA OSMAN. Namanya saja sudah mentereng, orangnya apalagi. Aku tak heran melihat kamu begitu senangnya saat dia minta kamu temani ke acara “Student Nite”. Aku juga tak heran saat orang-orang mulai membicarakan kedekatan kalian. Lalu saat kamu bilang kalian resmi pacaran, aku sama sekali tak heran. Aku sakit. Rasanya ingin lari dari kenyataan bahwa mungkin aku takkan bisa lagi menikmati saat-saat mata kita tak sengaja beradu pandang, karena sekarang matamu hanya akan menatap dia. Menatap bidadari yang memiliki hatimu.
Terkadang aku membayangkan, andai seperti di sinetron, tiba-tiba ada orang kaya yang mengclaim bahwa aku ini anaknya yang dulu diculik orang atau tertukar di rumah sakit atau apapun lah itu kejadiannya, mungkin akan lebih mudah untukku. Aku bisa kabur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri sekalian untuk menjaga mata ini agar tidak melihat putri tunggal raja outlet di Bandung itu menggelayuti tanganmu. Bagaimana tidak, kita kuliah di tempat yang sama. Masih untung kita beda fakultas, aku tak tahu apa jadinya bila kita satu fakultas juga. Atau paling tidak ada hal lain yang bisa mengalihkan perhatianku, pikiranku dan bahkan hatiku dari kamu. Mungkin.
Kamu mulai jarang terlihat nongkrong di tempat biasa. Bidadari itukah yang menyita waktumu? Disatu sisi aku merasa sedikit lega tidak perlu melihat kemesraan kalian, tapi disisi lain aku kangen sekali sama kamu. Aku ingin melihat kamu dengan senyum itu lagi, menyapaku dan menawariku makanan apapun yang ada di tanganmu, selalu. Aku masih ingat, kamu paling suka makan kuwaci biji bunga matahari. Dan kebiasaan nyampahmu itu membuat si Mbah OB menjadi berang karena sampah kuwacimu menambah berat pekerjaannya. Dan si Mbah masih dendam sama kamu sampai sekarang.
Tanpa kehadiran kamu, perkuliahan membuatku sibuk. Mungkin lebih tepat dibilang aku menyibukkan diri dengan perkuliahanku. Perpustakaan, tugas kelompok, rapat himpunan mahasiswa, ketemu dosen atau sekedar kumpul dengan teman-teman di kantin belakang. Sesekali masih saja ada yang membicarakan kamu dan dia, sesak dada ini mendengarnya, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa. Terbiasa mencari kesibukan lain untuk menghindarkan telingaku dari pembicaraan mereka. Dua bulan, kupikir aku sudah berhasil melupakanmu. Setidaknya aku sudah tidak terlalu berharap ketemu kamu dan mencuri senyummu.
Kamis, 28 Januari 2010
La Tahzan for Twins mother
Membaca buku La Tahzan for Mothers (Asma Nadia, dkk) mau tak mau mengingatkan aku pada setahun yang lalu.
Kehamilan tiba2 membuatku sulit sekali bersyukur. Terlalu cepat, pikirku. Aku hamil, suamiku masih kuliah, aku baru saja resign, bagaimana aku bisa membiayai kehamilan ini? itu saja yang terus berulang2 bergema di kepalaku. Ketidaksiapan membuatku lupa pada apa yang seharusnya kulakukan, bersyukur. Trimester pertama rasanya berat sekali. Keringat dingin, mual, muntah, lemas, migrain menjadi teman sehari2. Terlebih suami tak bisa menemani karena sibuk mengerjakan skripsi.
Trimester kedua, aku pulang ke rumah ibuku, mencari keheningan dan udara segar. Aku mulai menata hati dan menerima dengan ikhlas that i'm gonna be a mother in 6 months. Pastinya Allah sudah menyiapkan rencana yang indah dibalik semua ketersiksaanku ini.
Usia kehamilan 6 bulan, perutku rasanya besar sekali. Dan ternyata apa yang kurasa berbanding lurus dengan apa yang orang lihat. Sampai pada suatu ketika, ibuku pulang berbelanja. Ia bilang, orang2 mulai menggunjingkan aku.
"6 bulan kok perutnya udah kayak 9 bulan, kayaknya sih gitu..." sambil tertawa sinis. Oh, i see. Mereka mengira aku MBA, married by accident. Lalu ibuku bilang, mereka mulai 'berhitung', nampak sekilas ada kekhawatiran di wajahnya.
"mom, nggak usah khawatir...aku kan nikah bukan karena hamil duluan. biarin mereka ngitung sampai pening, kalo aku MBA, masak nikah udah 10 bulan tapi bayinya belum keluar juga? mereka begitu kan cuma karena ingin cari teman, menutupi rasa malu karena ternyata anaknya lah yang seperti itu". Berhasil, ibuku mulai tak perduli apa kata orang.
Usia kehamilan 7 bulan 3 minggu, aku memeriksakan diri ke bidan di Bandung, aku memang berencana lahiran disana. Tak seperti yang sudah2, bidan senior ini memeriksaku lamaaaaaa sekali, berulang2, hingga aku dan suami dijalari rasa takut kenapa2. Setelah pemeriksaan selesai, beliau berkata..."ibu ada keturunan kembar?" aku pun mengangguk lemas.
Seminggu kemudian aku melahirkan bayi kembar lelaki dan perempuan, Alhamdulillah. Bersyukur sekali bayi kembarku tak mesti bermalam di inkubator kendati beratnya tak lebih dari 2 kg. Lalu dimulailah episode menjadi ibu. Untuk sementara sampai imunisasi pertama, aku tinggal di rumah tante dari suamiku, sementara ibuku menyiapkan rumah untuk kedatangan si kembar. Dengan pengetahuan minim, aku mulai mengurus bayi2 mungil yang hanya sebesar botol kecap itu. Peluh tak pernah pergi dari dahiku. Panik dengan suara tangis keduanya yang tak nyaman karena popoknya basah. Sendiri menangani 2 premature babies sekaligus membuatku snewen dan mengalami baby blues syndrome. Melihat mereka yang begitu kecil, kuning dan berbintik merah. Tidur ditemani sorot pijar 60 watt demi rasa hangat. Masing2 mendapat jatah 4 botol obat dan suplemen. Aku menangis saat mereka tak mau menyusu padaku, saat mereka minta ganti popok bersamaan, saat mereka memuntahkan kembali obat yang kuberi. Tuhan, bagaimana mereka bisa bertahan hidup, jeritku.
Hari demi hari kulalui dengan tawa dan air mata. Sampi pada usia lewat 1 bulan, kaka, jagoanku menangis jerit2 setiap kali pipis. Udel dan testis kirinya membesar. Tanpa tunggu lama, aku membawanya ke rumah sakit tempat ia dilahirkan. Setelah berkonsultasi dengan perawat IGD kenalanku, ternyata ada pelengketan di penisnya yang membuat ia menjerit2 kesakitan saat pipis dan menyebabkan hernia pada scrotum dan umbilical-nya. Mereka menyarankan untuk sesegera mungkin dilakukan circumsisi. DISUNAT. Masya Allah. Lakukan apapun asal bayiku sembuh. Aku memegangi tanggan mungilnya saat mereka memotong ujung penis anakku, membersihkan pelengketan lalu menjahitnya. Allah memberiku kekuatan untuk menemani anakku melewati prosesi sunatannya. Masa recovery, jangan tanya, itu penuh air mata, melihat luka basahnya, belum lagi memikirkan hernianya yang baru bisa di operasi setelah beratnya mencapai 8 kg. Mudah2an saja bisa sembuh sendiri, tak sampai harus operasi.
Lalu dua bulan kemudian, saat ayahnya datang dengan arna merah di matanya, aku panik. Benar saja, kami seisi rumah ikut2an sakit mata. Dalam keadaan perih-kesat-pening seperti itu aku juga harus merawat bayi2ku yang juga merasakan apa yang kurasa. Ku titipkan kaka pada ibuku, lalu kugendong puteri kecilku, kunyamankan ia dalam dekapanku, mencoba menyampaikan penenang berupa kalimat "sabar ya nak, bunda ada disini" dan apa yang kudapat? ia menatapku dengan mata sipit-merah-belekan itu lalu tersenyum, manis sekali seolah berkata "jangan sedih bunda, keukeu nggak apa2 kok"...
Kehamilan tiba2 membuatku sulit sekali bersyukur. Terlalu cepat, pikirku. Aku hamil, suamiku masih kuliah, aku baru saja resign, bagaimana aku bisa membiayai kehamilan ini? itu saja yang terus berulang2 bergema di kepalaku. Ketidaksiapan membuatku lupa pada apa yang seharusnya kulakukan, bersyukur. Trimester pertama rasanya berat sekali. Keringat dingin, mual, muntah, lemas, migrain menjadi teman sehari2. Terlebih suami tak bisa menemani karena sibuk mengerjakan skripsi.
Trimester kedua, aku pulang ke rumah ibuku, mencari keheningan dan udara segar. Aku mulai menata hati dan menerima dengan ikhlas that i'm gonna be a mother in 6 months. Pastinya Allah sudah menyiapkan rencana yang indah dibalik semua ketersiksaanku ini.
Usia kehamilan 6 bulan, perutku rasanya besar sekali. Dan ternyata apa yang kurasa berbanding lurus dengan apa yang orang lihat. Sampai pada suatu ketika, ibuku pulang berbelanja. Ia bilang, orang2 mulai menggunjingkan aku.
"6 bulan kok perutnya udah kayak 9 bulan, kayaknya sih gitu..." sambil tertawa sinis. Oh, i see. Mereka mengira aku MBA, married by accident. Lalu ibuku bilang, mereka mulai 'berhitung', nampak sekilas ada kekhawatiran di wajahnya.
"mom, nggak usah khawatir...aku kan nikah bukan karena hamil duluan. biarin mereka ngitung sampai pening, kalo aku MBA, masak nikah udah 10 bulan tapi bayinya belum keluar juga? mereka begitu kan cuma karena ingin cari teman, menutupi rasa malu karena ternyata anaknya lah yang seperti itu". Berhasil, ibuku mulai tak perduli apa kata orang.
Usia kehamilan 7 bulan 3 minggu, aku memeriksakan diri ke bidan di Bandung, aku memang berencana lahiran disana. Tak seperti yang sudah2, bidan senior ini memeriksaku lamaaaaaa sekali, berulang2, hingga aku dan suami dijalari rasa takut kenapa2. Setelah pemeriksaan selesai, beliau berkata..."ibu ada keturunan kembar?" aku pun mengangguk lemas.
Seminggu kemudian aku melahirkan bayi kembar lelaki dan perempuan, Alhamdulillah. Bersyukur sekali bayi kembarku tak mesti bermalam di inkubator kendati beratnya tak lebih dari 2 kg. Lalu dimulailah episode menjadi ibu. Untuk sementara sampai imunisasi pertama, aku tinggal di rumah tante dari suamiku, sementara ibuku menyiapkan rumah untuk kedatangan si kembar. Dengan pengetahuan minim, aku mulai mengurus bayi2 mungil yang hanya sebesar botol kecap itu. Peluh tak pernah pergi dari dahiku. Panik dengan suara tangis keduanya yang tak nyaman karena popoknya basah. Sendiri menangani 2 premature babies sekaligus membuatku snewen dan mengalami baby blues syndrome. Melihat mereka yang begitu kecil, kuning dan berbintik merah. Tidur ditemani sorot pijar 60 watt demi rasa hangat. Masing2 mendapat jatah 4 botol obat dan suplemen. Aku menangis saat mereka tak mau menyusu padaku, saat mereka minta ganti popok bersamaan, saat mereka memuntahkan kembali obat yang kuberi. Tuhan, bagaimana mereka bisa bertahan hidup, jeritku.
Hari demi hari kulalui dengan tawa dan air mata. Sampi pada usia lewat 1 bulan, kaka, jagoanku menangis jerit2 setiap kali pipis. Udel dan testis kirinya membesar. Tanpa tunggu lama, aku membawanya ke rumah sakit tempat ia dilahirkan. Setelah berkonsultasi dengan perawat IGD kenalanku, ternyata ada pelengketan di penisnya yang membuat ia menjerit2 kesakitan saat pipis dan menyebabkan hernia pada scrotum dan umbilical-nya. Mereka menyarankan untuk sesegera mungkin dilakukan circumsisi. DISUNAT. Masya Allah. Lakukan apapun asal bayiku sembuh. Aku memegangi tanggan mungilnya saat mereka memotong ujung penis anakku, membersihkan pelengketan lalu menjahitnya. Allah memberiku kekuatan untuk menemani anakku melewati prosesi sunatannya. Masa recovery, jangan tanya, itu penuh air mata, melihat luka basahnya, belum lagi memikirkan hernianya yang baru bisa di operasi setelah beratnya mencapai 8 kg. Mudah2an saja bisa sembuh sendiri, tak sampai harus operasi.
Lalu dua bulan kemudian, saat ayahnya datang dengan arna merah di matanya, aku panik. Benar saja, kami seisi rumah ikut2an sakit mata. Dalam keadaan perih-kesat-pening seperti itu aku juga harus merawat bayi2ku yang juga merasakan apa yang kurasa. Ku titipkan kaka pada ibuku, lalu kugendong puteri kecilku, kunyamankan ia dalam dekapanku, mencoba menyampaikan penenang berupa kalimat "sabar ya nak, bunda ada disini" dan apa yang kudapat? ia menatapku dengan mata sipit-merah-belekan itu lalu tersenyum, manis sekali seolah berkata "jangan sedih bunda, keukeu nggak apa2 kok"...
Langganan:
Komentar (Atom)